Monthly Archives: March 2011

Solo part III: becak trip

Tada, bangun tidur ternyata sudah hari minggu, time to pack. Tapi sebelum itu, masih ada waktu seharian sebelum pulang dengan kereta sore. Jam 8 sudah pergi sarapan dihotel, seperti biasa menu campur indo-western gitu, karena kangen sama dick bread heheh (itu menjadi menu pertama ditambah plain butter, yummy), trus ambil sosis chicken & meat plus salad sayur, masih belum selse yah petualangan sarapan, ditambah dengan sushiiii (sayang sushinya kurang pas, terlalu ‘atos’, yang harusnya sushi itu memang agak-agak longgar, nggak diteken2 kayak lontong).  Sedangkan suami, makan nasi sama ikan saus asam manis, sama soto campur tanpa nasi.

Habis sarapan bingung mau kemana, kan masih jam 9. Tapi akhirnya mau jalan ke PGS lihat ada apa disana, setelah nyari becak dan ternyata ke PGS hanya 10 ribu IDR only tanpa nawar tanpa eyel2an kayak di surabaya. Ternyata disepanjang jalan slamet riyadi kalo hari minggu ada car free day, jadi jalanan rame pejalan kaki, sepeda, yang main bola, becak, dan aktivitas tanpa mesin lainnya. Setelah ngobrol sama bapak becak, akhirnya kita muter arah ke kampung batik kauman yang lokasinya sih sebelum PGS karena ternyata PGS buka jam 10. AKhirnya dikampung batik ini memang lebih murah dibading yang laweyan, tapi kok banyak baju yang dijual modelnya kurang up to date (ato aku yang ga up date), kalo dilaweyan lebih personal, kalo disini cenderung produk massal, pantes ajah lebih murah. Disini hanya beli beberapa daster/baby doll yang rata2 30 ribuan, sama kaos2 tulisan solo buat oleh-oleh.

Setelah keringeten milih-milih, kita lanjut ke toko serabi notoyudan, katanya ini serabi paling top sekota solo haha (masih dengan becak yang sama), disana ada 2 toko serabai yang berseberangan, sama-sama otentik (katanya), yang satu ny lydia, satu lagi ny handayani, akhirnya milih yang handayani karena yah itu tadi menurut internet itu yang ngetop haha. Beli hanya 20 biji, pengennya beli banyak buat oleh-oleh, tapi mbak penjual bilang ini hanya tahan sampe malam (hiks), jadinya yah hanya beli 20 yang akan kita sikat sendiri besok paginya (kalo ga basi), oya harga per-serabi 1800 yang original dan 2000 yang coklat, murah sekali bukan sedangkan disini 2000 tapi rasanya jauuuuuh.

Balik ke hotel masih dengan becak yang sama, ternyata enak jalan-jalan sama becak, akhirnya total kita hanya bayar 40 ribu buat becak yang sudah muter-muter tadi. Nyampe hotel packing dikit dan istirahat, sebelum beli oleh-oleh buat little girl dirumah, memang nyariin genduk cilik ini susah-susah gampang. Susahnya, yah bingung mau beliin apa? gampangnya, yah selama ada matahari sih semua aman. Akhirnya kita pergi ke solo grand mall, yang cuma 500 meter dari hotel jaraknya (naik taksi ajah kali ini), trus langsung ke matahari buat beli mainan ikan dan pancingan 2 set (disidoarjo yo akeh kayak ginian), trus baju motif bunga merah marun (50% off), dan pas mau turun lihat sponge bob t-shirt lagi sale 50% juga, akhirnya ambil satu. Sebelum pulang, mampir dulu beli straw dan blueberry cheese cake breadtalk (kok ga seenak yang dijakarta yak).

Ke hotel naik becak hehe, walah hari ini kok banyak becak yah judulnya. Pokoknya puas2in naik becak berdua (jarang-jarang kan). Nyampe hotel kita mandi-mandi dan siap-siap check out ninggalin solo. Check out jam satu, sedangkan kereta jam 3, ngapain yah?? akhirnya kita mutusin buat nyoba tahu kupat solo yang deket hotel sahid, naik becak hanya 8000 katanya, hah??kaget lagi yak. Akhirnya biar sama-sama untung sepakat ditunggu sama bapak becak sampe kita selse makan kupat. Tahu kupat solo ini dijual diwarung-warung, ada kurleb tiga warung yang jual tahu kupat diperempatan jalan gajahmada (kalo ga salah), semua rame pengunjung dan kita makan di yang paling pojok. Tahu kupat, kalo di surabaya yah tahu tek-tek, cuma yang ini isinya ada mie dan pake kupat bukan lontong. Bumbunya hanya pake kuah kecap dan kacang tanah sebagai taburan bukan kacang tumbuk campur petis dan kecap.

Finally, time to go, ke stasiun solo balapan, dan kretapun datang on time jam 3 sore, dan nyampe surabaya jam 7 malam. Fiuh, perjalanan yang seru dan ga bikin kapok. dari stasiun we drove home and meet lil girl (yang ternyata belum tidur).

Solo part II: ubek-ubek solo

Kenyang setelah makan tongseng dan nasi goreng, acara kita lanjutkan untuk jalan-jalan dengan berbekal peta solo (yang ternyata kota solo itu kecil, jadi mudah untuk diubek-ubek). Dan saat itu aku kontak temen yang juga datang ke resepsi wedding si joy, dan sepakat untuk jalan bareng. Jadi sore itu kita jalan bertiga, tujuan utama adalah pasar klewer, naik taksi cuma 11-an ribu, tapi kan kena tarif minimal jadi yah 15 ribu. Terkaget-kaget pas lihat pasar klewer yang super terkenal itu, yah betul-betul pasar, kayak sukowati kalo dibali. Penjual (mainly batik) ada disepanjang dalam pasar, jalan bagi pengunjung hanya kecil, paling banter bisa muat 2 orang, panas, dan penjual-penjual yang agresif. Jadi kalo tidak pernah ke klewer atau tidak tahu harga dan barang mending cepet-cepet keluar deh. Kita nggak ada 10 menit sudah keluar lagi dari pasar hehe…Tapi kalo mau, sebelum klewe ada PGS (pusat grosir solo) dan kraton solo tentunya disatu spot.

Keluar klewer, kita naik taksi lagi ke kampung batik laweyan, lumayan agak jauh sih, tapi sekali lagi bayar taksi hanya 15 ribu saja (naik taksi kayaknya serba 15 ribu hihi). Konsep kampung batik ini yah kampung yang penduduknya bikin dan jual batik. Kita sudah janjian sama taksi bahwa kita minta ditunggu, karena memang masuk-masuk gang kampung gitu. Langsung masuk, waktu itu ke batik putra, tempatnya lumayan ok, jadi rata-rata disana rumah disulap jadi workshop sekalian. Di toko batik ini aku nemuin batik yang model dan warna yang cocok, kalo dikampung batik ini, harganya lumayan mahal karena minimal 100-an ribu ke atas…jadi yah ga usah beli banyak-banyak, tapi sudah bisa make pembayaran elektronik haha.

Lepas dari kampung batik laweyan, pindah ke toko roti orion, wuih rasanya dari ujung ke ujung, karena toko roti ini arahnya yah ke klewer tadi. Tapi setelah crita-crita, akhirnya kita sepakat makan timlo dulu deket orion, yakni diwarung timlo solo masih satu jalan sama orion. Masuk timlo solo, aku mesen timlo telur pake lontong, yang lain timlo telur pake nasi, harga 14 ribuan. Rasanya, meskipun sudah luama sekali nggak makan timlo, tapi aku rasa timlo ini masih kurang yummy tapi kuahnya ok. Dan setelah diusut, ternyata timlo yang enak katanya timlo sastro yak..ato apa gitu…(belum sempet nyoba).

Setelah ke timlo, kita jalan beberapa rumah/toko ke orion, katanya ini sangat khas solo lho. Mandarin dan roti semir (kata temen) adalah signature-nya orion hehhehehe…jadi disana beli beberapa mandarin spesial (semir ga dapat) dan nurutku mandarin itu yah mirip lapis surabaya, roti kering orion, srundeng klapa varia (kayaknya enak) dan kata temen-temen kantor yummy banget. Habis diorion kita back to hotel, siap-siap pergi ke acara resepsi. Dan lagi-lagi naik taksi, yah cuma 15 ribu haha.

Acara resepsi diundangan yah jam 7 malam, dihotel dana, nggak sampe 100 meter dari novotel, sebetulnya kita mau jalan atau naik becak, cuma saat itu hujan kenceng jadinya yah taksi lagi-taksi lagi. Di acara, yang make adat jawa tengah banget, bikin suami terkaget-kaget, lha kalo disurabaya kan sistemnya salam, makan, pulang. Kalo disini datang, duduk, makan, acara, pulang (salaman yah pas acara selse, mantennya yg nunggu dipintu keluar, bukan tamu yang naik kuwade hehehe). Karena ini baru pertama bagi suami, yah aku jelasin secara bokap orang jawa tengah dan aku sering datang ke acara-acara yang mirip ini dimana semua tamu datang pada jam yang sama (jangan sampe telat yah, atau nggak kebagian makan). Setelah duduk, sambil dengerin acara pembuka kita diberi hidangan pembuka (biasanya kue-kue gitu), trus ada makanan pembuka lagi (biasanya sup, beberapa kalo mang sup hihi), terus makan berat (bisa nasi, bisa yg lain) dan terakhir minuman atau es. Kalo kemaren dapat makan selad solo, yang kebetulan aku juga pengen icip-icip, jadinya pas deh.

Sambil makan, kita reuni, karena beberapa teman yang dari jakarta, jogja pada datang, dan seperti biasa foto-foto. Acara selse jam 9, kita pulang jalan kaki ajah, sambil nurunin isi perut. Disepanjang jalan banyak yang jual serabi solo digerobak-gerobak gitu, juga becak mangkal, dan warung tenda yang lupa jualan apa mereka. Okay, dah ngantuk, besok lanjut lagi solo part III: becak trip

Solo part I: perjalanan

Sabtu pagi pun tiba, jam 5.20 we heading to the station, well maybe it takes around 50 min from sidoarjo to surabaya. Pagi itu yang kita kira bakal sepi, ternyata sangat crowded. Setelah selesai dengan urusan cetak tiket jam 6.35 masuk stasiun (gubeng), awalnya nggak tahu kalo ada executive lounge (maklum orang udik ini), akhirnya masuk juga dan ternyata yah tetep panas karena dari kurleb 5 AC yang ada yang nyala hanya 2, sedangkan didalam full penumpang yang siap-siap berangkat (entah ke jogja atau bandung). Jangan dibayangkan executive lounge kayak yang dibandara yang super cozy, disini lebih mirip ruang tunggu dengan kursi-kursi dan pendingin ruangan. Ada juga cafe kecil didalam jika ingin jajan.

Jadwal kereta jam 7.00 am, molor jadi jam 7.20, yah its ok, asal ga molor banyak-banyak, dan keretapun datang. hmmm ternyata gerbong kita no 2 dari belakang (jauh juga jalannya secara rangkaian kereta sangat panjang). Setelah cari-cari no kursi, kita sudah sibuk atur-atur barang dikabin, betulin sandaran kaki (yang sepertinya rusak). Untuk ukuran pagi atau siang, temperatur dalam ruangan sangat dingin, sehingga diputuskan untuk make selimut hihihi, rencana mau bawa syal lebar kelupaan tapi gpp kan ada selimut yang bisa disewa hanya dengan bayar Rp. 3000.

Perjalanan lumayan lancar, kursi nyaman dan jauh lebih lapang dari kelas ekonomi pesawat meskipun ukuran kursi relatif sama, juga enaknya lagi ga ada turbulance hahaha. Yang bikin nggak enak yah ketika berhenti dibeberapa stasiun misalnya wonokromo, mojokerto, jombang, kertosono, nganjuk, madiun…etc, itu yang sangat annoying. Dalam kereta, petugas kereta api juga berjualan kue-kua dan makanan berat dengan harga yang relatif terjangkau bagi penumpang eksekutif. Tapi sayangnya saya tidak sempat cicipin karena bawa bekal home made sandwich, donut dan hot coffe beli distasiun. Tapi kita berdua slalu bayangin, coba ada keke (our daughter) dia pasti suka makan nasi goreng yang dijual dikereta.

Ga terasa perjalanan 5 jam akhirnya berakhir, jam 12.30 nyampe deh di solo balapan. Stasiunnya nggak terlalu besar seperti disurabaya. Turun dari kereta dipintu keluar stasiun sudah disambut oleh petugas konter taksi didalam stasiun, karena ini juga yang pertama kali make taksi di stasiun jadinya kita ikut saja. Kita sebut tujuan, waktu itu langsung ke novotel kena tarif 25.000 dan lucunya si taksi berupa sedan putih tanpa argo (awwwww). Ternyata setelah di usut, bahwa taksi yang ada dalam stasiun adalah taksi tanpa argo, jadi kalo mau naik yang pake argo harus keluar stasiun dulu (yang terus terang saat itu solo sangat panas, lebih panas dari surabaya). Dan jika make taksi argo ke hotel, hanya kena 15.000 karena jarak stasiun ke hotel hanya kurleb 3 km saja.

Dari hotel check in (sudah pesen via online beberapa hari sebelum, dan lagi hot deals saat itu, jadinya murah), cuma kenapa yah kok rasanya layanan resepsionis di hotel kurang maksimal. Ga tahu karena saya tamu dengan harga diskon hehehe, ato karena saya banyak tanya, yah whatever. Yang pasti si resepsionis hanya ngasih peta kota solo dan kalo ditanya-tanya soal ‘hot spot’ disolo kayak yang nggak tahu, jadinya yah balik lagi, internet is the best teacher.

Kita nginap dilantai 7, hotel sebetulnya lumayan rame sih, kamar lumayan gede  perpaduan modern dan antik haha…dan yang paling penting dikamar ada wifi jadi bisa online browsing lokasi menarik disolo. All in all, smua dilakukan sendiri, mulai nentuin mau jalan kemana, beli apa, makan apa, naik apa…smua kita arrange sendiri. Karena judulnya liburan, dan kalo liburan kita itu tipe lazy travellers (atau slow tourist), jadi yah smua dibikin senyaman mungkin. Oya tapi niat awal ke solo bukan bener2 liburan tapi memenuhi undangan temen yang merit disalah satu hotel disana.

Dari rumah mang sudah wanti2 buat icip-icip makanan solo, salah satunya tongseng (suami paling doyan tongseng), jadi pas nyampe hotel langsung deh order tongseng dan aku nasi goreng super spesial. Tapi sayang, lupa moto karena saking laparnya, secara penampilan, makanan khas hotel pasti sangat menarik, porsi juga lumayan jumbo untuk harga 50 ribuan each. Cuma nurutku si tongseng kurang nendang (krg sedep ajah), kalo nasih goreng sih overall, banyaklah yg bisa nandingin hihihi, but kita berdua kenyang. What next????….Baca Solo part II: ubek-ubek solo

 

Tiket Kereta Api

Rasanya sudah hampir 5 tahun aku tidak menikmati kereta api jarak jauh yang ada di indonesia, terakhir sekitar hampir 2 tahun yang lalu naik komuter, setelah itu belum pernah lagi. Nah, minggu ini, berawal dari undangan teman kuliah jaman dulu yang rencananya mau ngunduh mantu pada bulan maret ini di solo, krn dekat kita putuskan untuk datang sekalian liburan dan ketemu teman-teman. Sebetulnya ada 2 opsi keberangkatan, pertama bawa mobil sendiri memang lebih nyaman, dan fleksibel, cuma setelah dipikir dan hitung banyak kurangnya, pertama karena kita belum pernah nyetir jarak jauh, kedua kan pengennya refreshing (berdua), ketiga harga BBM kok rasanya semakin menggila yah..sudah hampir 10 ribu malah…jadi naik kereta jadi alternatif yang dipilih, selain nyaman (katanya), hemat (kan transport umum), trus cepat (4 jam only).

Singkat cerita, hari senin booking hotel, selasa reservasi tiket KA di stasiun (belum tahu kalo bisa online), ternyata hari itu kita bawa uang ga banyak (dengan harapan loket reservasi bisa nerima debit (bukan bca) or cc. Ternyata setelah kita kesana opsi pembayaran elektronik tersebut tidak tersedia, jadinya beli tiket pergi dulu, baru setelah ambil atm beli yang pulang (lucu juga yak), tapi akhirnya sampe sore kita ga balik ke stasiun karena toh besok bisa kembali lagi…

Besoknya, siang hari, suami kembali ke satsiun buat reserve tiket balik, dan ternyata sudah fully booked, ada opsi naik kereta yang dari bandung dihari dan 2 jam lebih cepat dari jadwal kereta sebelumnya, tetapi apa yang terjadi??sistem jaringan error, jadi tidak bisa reserve dan setelah ditunggu sampe 2 jam masih eror juga, akhirnya diputuskan untuk datang malam hari ke stasiun. Hasilnya??masih error juga, walah.  Nyampe rumah sudah sangat malam, ga mungkin mau nelp call center buat online booking, akhirnya besok paginya jam 7 pagi nelp call center yang dijawab dengan ramah dan dipandu buat reserve ulang. Jika dikonter reservasi manual kita harus ngisi form pemesanan (yang bagiku agak mengganggu, tapi kayaknya memang form diperlukan untuk memastikan pesanan sesuai dan benar) dan petugas reservasinya alamak…kok tidak bersahabat yah dengan customer (tampang cuek, njawab seadanya, body language ga ramah) kalo petugas reservasi online masih cukup baiklah. Akhirnya dapat kode booking yang harus digunakan untuk melakukan pembayaran melalui ATM dalam waktu 3 jam, dan setelah itu tiket bisa dicetakkan di stasiun-stasiun yang online.

Setelah membayar, langsung ke stasiun (yang sudah online tentunya), ternyata disana kita ditolak dengan alasan transaksi bisa diproses setelah 24 jam (hah) jadi konsep ONLINE itu yah tetep ada nunggunya…tetep menyusahkan…tetep ga bersahabat dengan kita-kita yang waktunya tidak hanya ngurusin tiket kereta, ditambah lagi harus menyerahkan fotokopi KTP (lha mbak CS nggak bilang begitu, dan di website juga tidak tertera seperti itu, tentu saja saya menolak). Akhirnya back to kampus dan cerita2 ke teman, dan diperoleh kesimpulan akhir bahwa ‘ ingat kita tinggal di indonesia’ jadi yah harap maklum….hmmmmm

Besoknya datang lagi, ternyata sistem error lagi dan parahnya masih belum tahu kapan selsenya. Akhirnya dengan sedikit memaksa dan (dongkol) kita diberi solusi untuk cetak tiket keesokan harinya (yang mana besok adalah hari keberangkatan, mana jam 7 pagi pula), dan alternative kalo ternyata (besok) tidak bisa maka harus cetak waktu pulang yakni di solo.

Sabtu pagi, dihari keberangkatan saya sengaja datang lebih pagi (jam 6.15 sudah nyampe stasiun), karena kemaren sore dipesenin kalo loket reservasi buka dari jam 6 pagi. Jam 6.20 sudah datang ke reservasi mau cetak tiket, dan ternyata didalam sudah ada beberapa orang yang menunggu. Lho kok meja-meja konternya kosong? (pikirku dalam hati), setelah iseng tanya ke cleaning service malah dapat jawaban ‘biasanya jam 6.30’ datangnya. Akhirnya pergi lagi, dan ternyata pas jam 6.30 kurang dikit balik lagi ternyata petugas reservasi sudah datang dan melayani dengan ramah tanpa menggunakan KTP (thanks god).

Memang yah PT kereta api indonesia ini sangat besar baik dilihat dari layanan dan jaringan stasiun. Banyak masyarakat indonesia yang masih sangat tergantung dengan kereta api, itu terlihat dari selalu terjualnya tiet-tiket kereta api baik jarak dekat/menengah/jauh. Kereta masih dipercaya untuk  menjadi solusi berkendara karena alasan kenyamanan dan murah. Namun dengan menjadi satu-satunya pengelola kereta api menjadikan PT kereta api juga jadi ‘semau gue’, alias kurang memperhatikan layanan (masalah reservasi misalnya). Aturan yang berbeda juga sangat membingungkan pengguna, harusnya sosialisasi SOP juga perlu dilakukan agar kebiajakan dari pusat bisa sampai ke titik layanan paling bawah (customer service). Opsi pembayaran di loket reservasi juga seharusnya mulai diperhatikan, mengingat saat ini hampir banyak masyarakat indonesia yang memanfaatkan jasa pembayaran elektronik karena kemudahan dan efisien (tanpa harus bawa uang banyak2). Online reservasi juga agar bisa dipermudah, bisa melalui internet (bukan hanya call center).

Selain hal-hal tersebut, saya rasa, perjalanan menggunakan kereta sangat nyaman, ontime (solo-surabaya tepat 4 jam), bersih dan bebas pedagang berseliweran (hanya dipintu2 masuk kereta saja). Jika bawa anak-anak rasanya cukup nyaman yah, karena anak-anak bisa berlarian di gang, cuma lebih baik anak kecil (jika sudah bisa berjalan) lebih baik beli tiket sendiri (anak usia 3 tahun ke atas harus full tiket) karena kursi benar-benar hanya cukup untuk 2 orang (ato gara2 saya gemuk ya hehehe). Jika ditanya mau pake kereta api lagi?? untuk jarak menengah solo/jogja/jember bolehlah dengan kereta eksekutif, tapi kalo jarak jauh, jakarta misalnya saya lebih memilih pesawat (karena nggak kuat nunggu kereta yang bolak-balik berhenti).

It’s a weird world

Berawal dari permintaan departemen ke semua penggiat LIS baik yang praktisi maupun akademisi, dan peneliti, baik tokoh-tokoh LIS di Indonesia dan luar negeri. Akhirnya aku kontak teman-teman waktu di IFLA kemaren, dan satu orang sudah ok untuk mengirim artikel untuk dimuat di jurnal akhir desember kemaren. Jurnal sudah tercetak, dan sudah saatnya donk kita bagi-bagi hasil jurnal kepada seluruh penulis, dan minggu lalu aku coba kirim jurnal offline (kalo online sebetulnya sudah ada, maksud hati kasih kenang-kenangan)…

Jurnal sudah dibungkus rapi pake amplop coklat, alamt sudah ditulis jelas tujuan San Juan Puerto Rico (yang kebetulan juga menjadi host IFLA 2011). AKhirnya nyuruh sodara buat titip diposin lewat PT posindo (dengan asumsi bisa hemat bin murah), tapi siang-siang aku ditelp sama sodara yang ngirim via pos tanya: eh ini negaranya apa namanya?? lha padahal sudah tertulis dengan jelas puerto rico gitu, jawabku. Terus ditanya lagi, lho kotanya?? kotanya yah San Juan itu. Akhirnya telp ditutup, dan ga berapa lama lagi ditanya, mang puerto rico dimana?? aku kaget hah, ga tahu puerto rico??petugas pos gitu loh…harusnya kan hapal peta buta haha…akhirnya aku jawab di amerika latin. Akhirnya telp ditutup lagi dan katanya masih dicari. Karena aku ga sabar 10 menit kemudian aku telp, gimana??sudah ketemu belum?? dijawab dengan ‘masih dicari’. 10 menit telp lagi, ‘sudah ketemu belum’, dan jawabannya masih sama ‘masih dicari’. dan akhirnya setelah 3x nelp, dibilang tidak ada dan aku diuruh datang sendiri buat nge-posin itu jurnal.

Nyampe rumah, rasa penasaranku muncul, akhirnya browsing di website PT pos dan lihat daerah pengiriman internasional, disana tertulis hampir melayani 200 negara (wow), setelah masuk huruf P, yang muncul (Pakistan, Panama, Papua New Guinea, Paraguay, Peru, Philipina, Portugal, Poland) lha mana Puerto Rico?? masak kelewat, ato punya nama lain??. Yang bikin keran, negara macam Tonga yang penduduknya cuma 100.000 dan tidak ada traffic light (lha ga nyambung), vanuatu, fiji, solomon island ada, sedangkan Puerto Rico ga ada….

Akhirnya coba pake ekspedisi asing macam fedex, sebelum memutuskan ok, jelas browsing-browsing dulu soal fedex, dan hasilnya banyak negatifnya (masalah biaya yang mencekik), dan menurut salah satu forum terbesar di indonesia banyak yang menyarankan tidak make fedex karena banyak hidden fee-nya. Tapi kalo ga mencoba kan ga tahu sendiri bagaimana layanan fedex, akhirnya telp fedex, dan setelah tanya ini itu, akhirnya aku nyebutin negara tujuan (alhamdullilah ada), terus ditanya kota tujuan, aku dengan jelas pake di eja juga  sebut ‘ San Juan”  (lha ini ibukotanya lho), tetapi apa yang teradi, ternyata di database-nya fedex ga ada, dan aku diminta sebutin zip code-nya 00924 , ga ada pula…lha gimana donk?? Akhirnya dengan berat hati aku tidak bisa mendapatkan estimasi biaya kirim.

Masih belum menyerah, akhirnya telp JNE, yang katanya accros nation service gitu. Setelah telp dan diterima dengan petugas dengan ramah, aku sebutin nama negara (ketemu), kota tujuan (ketemu), isi dokumen 1 buah jurnal yang beratnya tidak sampai 500 gr. Well, akhirnya setelah dikalkulasikan harganya 900an ribu rupiah (secara spontan aku teriak ‘hah??nggak salah mbak??) mbaknya dengan santai bilang itu harga termurah. AKhirnya si mbak petugas ngasih solusi, kalo bentuk dokumen (kertas) bisa lebih murah (wuih..aku berharap mode on), akhirnya aku bilang kalo kirim ‘kertas’ lima lembar berapa haha….setelah dihitung kena 400an ribu rupiah…huaaaa…masih mahal….jauh lebih murah kao dikantor pos sebetulnya. sayang ga ada ke negara tujuanku.

AKhirnya dengan sangat terpaksa, tuh jurnal akan di scan dan dikirim via email. GRATIS, case closed.