Solo part I: perjalanan

Sabtu pagi pun tiba, jam 5.20 we heading to the station, well maybe it takes around 50 min from sidoarjo to surabaya. Pagi itu yang kita kira bakal sepi, ternyata sangat crowded. Setelah selesai dengan urusan cetak tiket jam 6.35 masuk stasiun (gubeng), awalnya nggak tahu kalo ada executive lounge (maklum orang udik ini), akhirnya masuk juga dan ternyata yah tetep panas karena dari kurleb 5 AC yang ada yang nyala hanya 2, sedangkan didalam full penumpang yang siap-siap berangkat (entah ke jogja atau bandung). Jangan dibayangkan executive lounge kayak yang dibandara yang super cozy, disini lebih mirip ruang tunggu dengan kursi-kursi dan pendingin ruangan. Ada juga cafe kecil didalam jika ingin jajan.

Jadwal kereta jam 7.00 am, molor jadi jam 7.20, yah its ok, asal ga molor banyak-banyak, dan keretapun datang. hmmm ternyata gerbong kita no 2 dari belakang (jauh juga jalannya secara rangkaian kereta sangat panjang). Setelah cari-cari no kursi, kita sudah sibuk atur-atur barang dikabin, betulin sandaran kaki (yang sepertinya rusak). Untuk ukuran pagi atau siang, temperatur dalam ruangan sangat dingin, sehingga diputuskan untuk make selimut hihihi, rencana mau bawa syal lebar kelupaan tapi gpp kan ada selimut yang bisa disewa hanya dengan bayar Rp. 3000.

Perjalanan lumayan lancar, kursi nyaman dan jauh lebih lapang dari kelas ekonomi pesawat meskipun ukuran kursi relatif sama, juga enaknya lagi ga ada turbulance hahaha. Yang bikin nggak enak yah ketika berhenti dibeberapa stasiun misalnya wonokromo, mojokerto, jombang, kertosono, nganjuk, madiun…etc, itu yang sangat annoying. Dalam kereta, petugas kereta api juga berjualan kue-kua dan makanan berat dengan harga yang relatif terjangkau bagi penumpang eksekutif. Tapi sayangnya saya tidak sempat cicipin karena bawa bekal home made sandwich, donut dan hot coffe beli distasiun. Tapi kita berdua slalu bayangin, coba ada keke (our daughter) dia pasti suka makan nasi goreng yang dijual dikereta.

Ga terasa perjalanan 5 jam akhirnya berakhir, jam 12.30 nyampe deh di solo balapan. Stasiunnya nggak terlalu besar seperti disurabaya. Turun dari kereta dipintu keluar stasiun sudah disambut oleh petugas konter taksi didalam stasiun, karena ini juga yang pertama kali make taksi di stasiun jadinya kita ikut saja. Kita sebut tujuan, waktu itu langsung ke novotel kena tarif 25.000 dan lucunya si taksi berupa sedan putih tanpa argo (awwwww). Ternyata setelah di usut, bahwa taksi yang ada dalam stasiun adalah taksi tanpa argo, jadi kalo mau naik yang pake argo harus keluar stasiun dulu (yang terus terang saat itu solo sangat panas, lebih panas dari surabaya). Dan jika make taksi argo ke hotel, hanya kena 15.000 karena jarak stasiun ke hotel hanya kurleb 3 km saja.

Dari hotel check in (sudah pesen via online beberapa hari sebelum, dan lagi hot deals saat itu, jadinya murah), cuma kenapa yah kok rasanya layanan resepsionis di hotel kurang maksimal. Ga tahu karena saya tamu dengan harga diskon hehehe, ato karena saya banyak tanya, yah whatever. Yang pasti si resepsionis hanya ngasih peta kota solo dan kalo ditanya-tanya soal ‘hot spot’ disolo kayak yang nggak tahu, jadinya yah balik lagi, internet is the best teacher.

Kita nginap dilantai 7, hotel sebetulnya lumayan rame sih, kamar lumayan gede  perpaduan modern dan antik haha…dan yang paling penting dikamar ada wifi jadi bisa online browsing lokasi menarik disolo. All in all, smua dilakukan sendiri, mulai nentuin mau jalan kemana, beli apa, makan apa, naik apa…smua kita arrange sendiri. Karena judulnya liburan, dan kalo liburan kita itu tipe lazy travellers (atau slow tourist), jadi yah smua dibikin senyaman mungkin. Oya tapi niat awal ke solo bukan bener2 liburan tapi memenuhi undangan temen yang merit disalah satu hotel disana.

Dari rumah mang sudah wanti2 buat icip-icip makanan solo, salah satunya tongseng (suami paling doyan tongseng), jadi pas nyampe hotel langsung deh order tongseng dan aku nasi goreng super spesial. Tapi sayang, lupa moto karena saking laparnya, secara penampilan, makanan khas hotel pasti sangat menarik, porsi juga lumayan jumbo untuk harga 50 ribuan each. Cuma nurutku si tongseng kurang nendang (krg sedep ajah), kalo nasih goreng sih overall, banyaklah yg bisa nandingin hihihi, but kita berdua kenyang. What next????….Baca Solo part II: ubek-ubek solo

 

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: