The consal experience

Baru ada kesempatan menulis soal consal xv di denpasar bali minggu lalu. Meskipun ini adalah konferensi ke-dua tapi tetap membawa kesan yang berbeda. FYI, consal adalah salah satu konferensi perpustakaan terbesar di tingkat Asia Tenggara yang diselenggarakan 3 tahun sekali. Ok, saya mulai dari pre-departure saja. Tahun ini memang tahun keberuntungan buatku, karena tuan rumah consal yah indonesia, dan lokasi konference di Bali, pas kan (hanya 40 menit dari Surabaya by plane). Tetapi, meskipun dekat, banyak hal yang sangat-sangat menjadi pertimbangan sebelum berangkat karena kondisi saya yang saat itu (pas consal, hamil 32/33 minggu).

Awal februari pengumuman bahwa paper kita diterima oleh consal, wah senang dong berarti bisa goes to bali nih bulan Mei nanti, ditambah ada free registrasi (meskipun registrasi di consal tidak semahal beberapa konferensi internasional lainnya, yang rata-rata sudah di atas 3 juta), tapi free registrasi tidak dibarengi dengan free-free lainnya seperti hotel dan transport hehehe (maunya yang enak-enak), dan ini beda dengan pengalaman seorang teman 3 tahun lalu yang mengikuti consal di Vietnam dan mendapatkan free registrasi, hotel, dan transport lokal. Bagi saya, setidaknya registrasi di cover ok-lah, dan ternyata dari kantor ada fasilitas untuk konferensi internasional (wow that save my pocket…)

Bulan Maret sudah tanya ke dokter SpOg soal kehamilan dan naik pesawat, hasilnya? si dokter malah santai dan bilang that’s ok, tapi nanti kondisiku akan dilihat beberapa hari sebelum terbang, apakah aku ada keluhan, sakit, etc. Lega donk sudah dapat lampu hijau, jadi bikin papernya makin semangat. Pada saat itu belum booking airlines dan hotel (takut batal berangkat pas bulan mei), padahal garuda indonesia lagi promo, sby-dps hanya 250 ribu rupiah.

2 minggu sebelum hari H, ke dokter SpOg (yang ini beda dengan dokter yang pertama), well setelah memeriksa si dokter menyarankan balik lagi beberapa hari sebelum berangkat, jadi si dokter belum mau kasih surat keterangan yang akan kupakai buat terbang. 1 minggu sebelum berangkat, ke dokter SpOg yang pertama, setelah aku n baby di cek, ternyata baby-ku kelilit tali plasenta 2 kali, dan kabar bagusnya aku dinyatakan layak terbang saat itu usia kehamilan 31/32 minggu…wuih senengnya, dan besoknya langsung booking tiket yang harganya sudah naik jadi 2x lipat. Langsung telp hotel buat reservasi, dan aku beruntung masih dapat tempat di venue, discovery kartika plaza hotel. Pertimbangan utama kenapa memilih hotel tersebut adalah karena saya hamil, dan biar gampang bolak-balik antara kamar dan ruang konferensi.

Hotel dan pesawat sudah ok, tinggal meyakinkan diri untuk terbang dalam kondisi hamil, banyak browsing dan baca-baca milist serta berita soal ini, dan sebagian informasi yang aku baca semaunya positif soal ibu hamil dan naik pesawat (jadi lega…). Tetapi, sehari sebelum terbang, masih sempat ke dokter cari 2nd opinion untuk memperkuat diri hehe, dan hasilnya sungguh diluar dugaan, karena waktu periksa ibu dan baby dalam kondisi sehat, tetapi si dokter malah bilang “secara usia kandungan masih aman untuk terbang, tapi hati-hati dengan air pressure karena bisa mengakibatkan sudden death pada bayi” wuih…setelah dengar itu, aku langsung stress berat, lha gmn tidak setelah euforia dengar lampu ijo dari dokter pertama yang bilang sangat aman, eh ini dapat hal  yang mencengangkan. Jadi suami komen, tidak semua 2nd opinion itu bagus (lha ini malah bikin stress)…

Ternyata pulang dari dokter sudah jam 22.00 lebih, harus istirahat buat persiapan besok….

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: