Monthly Archives: July 2012

Jahitan SC berdarah

Hari ke 5 pagi hari, waktu ngaca aku ngelihat rembesan darah warna hitam di plester anti air-ku, panik dan takut kalo2 jahitan lepas, pagi itu juga aku back to RS dan kontrol ke dokter yg SC aku, eh ternyata dokter lagi keluar kota seminggu, akhirnya aku minta dokter spog siapa saja yg ada saat itu. Hasilnya, ternyata ada genangan darah dibalik kulit yang dijahit, dan darah itu yang bikin aku susah jalan (sakit oiy) so harus dikeluarin melalui sela-sela jahitan, hampir 1 jam jahitanku dipencet2 agar darah yang sudah menghitam dan sebagian sudah bentuk gumpalan dipaksa keluar, sumpah banyak banget (kata suamiku yang melihat), trus setelah hampir habis jahitan ditutup pake plester, dan tada ternyata aku bisa jalan lebih enak, ringan, dan nggak sakit lagi.
Apa selesai sampe disitu? ternyata tidak, jadi sisa2 darah yang masih terperangkap masih ada dan keluar sedikit demi sedikit, jadi dalam hitungan jam perban yang kupake (bukan yang anti air) pun tembus bahkan sampe ke celana, akhirnya keesokan harinya balik ke RS buat ganti perban dan bersiin darah (sekali dua kali pencet darah sudah habis), diperban lagi, dan suamiku inisiatif buat beli perlengkapan DIY merawat luka yang mengeluarkan darah, seperti kasa steril, alkohol, dan plester, itu setelah melihat perawat yang menganti perbanku yang ternyata yah sesimpel merawat luka. Pertimbangannya krn luka jahitku masih terus mengeluarkan darah (sedikit tapi pasti) dan kita males bolak-balik RS, makanya tiap bocor perban kita ganti sendiri.
KOntrol hari ke 9, masih mengeluarkan darah meski sudah jauh berkurang tapi belum kering, jalan sudah enak sudah nggak sakit, cuma yah itu tadi, darah masih keluar meski warnanya sudah mulai terang (kecokatan/coklat muda).
Hari ke 11, aku kontrol ke dokter yang SC aku, disana aku keluarkan semua keluhanku soal jahitan yang tak kunjung kering, ketika diperiksa:
me: dok, ini jahitan mengeluarkan daah terus
dok: coba saya lihat, hmmm ini sih gpp, jahitan sdh bagus, tinggal dikit sudah nutup semua
me: tapi dok, kok keluar terus darahnya, kenapa
dok: yah ada pembuluh darah yang putus sehingga darah keluar dan terperangkap dibawha kulit (kurlep yg kutangkap spt itu) dan akan kering kalo darah (baca cairan) sdh keluar semua
dok: makanya rajin2 pencet2 (lubang) jahitan pas mandi biar cepet habis, nggak usah pake perban, mandi ajah seperti biasa, luka disabun ajah pake sabun antiseptic (lifeboy atau detto), trus selse itu dioles salep yah.
me: hah? mandi dok? dipakein sabun?gpp?
dok: gpp, biar cepet sembuh, jgn lupa makan protein hewani (telur, daging, ayam), makan yang banyak
me: telur dok?
dok: iyah
me: ok, thanks dok
Hari ke 12, pagi, aku mandi, jahitan aku bersiin pake air mengalir (tapi msh lum berani bersiin pake sabun), habis itu aku keringin dan pake salep trus yah sudah (pura2 jahitan is fine), tetapi yang terjadi adalah darah (cairan) masih keluar dan tembus ke celana, nah karena aku agak ga nyaman, akhirnya aku tetep pake kasa tapi nggak di plester, jd ditempel saja, kl kasa sudah coklat diganti, sehingga nggak cepat tembus ke celana.
Hari ke 16, kontrol lagi ke dokter karena tiba2 kalo jalan kok kerasa nyeri, ternyata ketika diperiksa, pak dokter bilang aku krg rajin pencet2 cairan agar keluar, ternyata setelah dikeluari jalan jd enteng, jadi aku makin rajin ajah keluarin cairannya, dan aku nggak tau pasti akhirnya cairan yang keluar dari sela2 jahitan berkurang dan habis. Hari ke 27 waktu kontrol, cairan sudah habis dan luka sudah nutup semua (kering), alhamdullilah semua sdh berakhir, padahal aku sudah snagat panik soalnya tuh darah hampir 23 harian keluar terus, meski akhirnya habis dan jahitan kelihatan seperti sedia kala, cantik.
so, ingat kata dsog-ku, yang panik cukup dokternya ajah hehe…

Rasanya OMG

Masih sekitar melahirkan by SC, mau share sedikit tentang pasca melahirkan SC. Flash back sebelum memilih SC untuk kelahiran anak keduaku, aku banyak baca2 blog dan informasi seputar SC v normal, banyak wanita (baca calon ibu) yang menghindari SC, entah apa alasannya, dan itu sempat membuatku galau. Dalam hati mikir, apa kalo melahirkan lewat SC bukan ibu sejati? bahkan banyak yang nekad melahirkan normal meski dokter bilang SC, atau ada resiko2, tetap maksa. Dan banyak juga yang men-judge si dSOG pro SC, and many more. Bagiku, SC is one of the best choice bagi wanita yang paranoid kayak aku. Tapi aku memilih SC bukan tanpa alasan medis sama sekali, yang pertama karena pre-eclamsi, dan anak yang kedua air ketuban sudah habis, kedua alasan tersebut sudah cukup memantapkan hatiku untuk SC meski tetap deg2an juga.
ok back to the story, karena ini SC keduaku, aku masih sedikit ingat tentang proses before and after SC. Yah seperti biasa, aku di bawa keruang operasi, yang kebtulan ada di lantai 2, ganti baju dan pake selimut…ruangannya dingin brrr, dan waktu SC kedua aku tidak mengantuk sama sekali, sehingga proses setelah operasi sampai dibawah ruang pemulihan aku masih terjaga (kalo yang pertama, aku sdh terkantuk2 hehe). Di ruang pemulihan ada beberapa ‘teman’ yang sama habis SC dengan keluhan yang berbeda, ada yang terkena pre-eclamsi, sampai ada yang bukaannya ga nambah2.
Loh katanya back to story? aku merasa so far so good, berada di ruang pemulihan dari jam 5.30an sore hingga 10 pagi keesokan harinya. Selama diruang pemulihan, aku nggak ngapa2in yah intinya boring, krn keluarga nggak boleh masuk, no self phone, hanya tv tanpa suara yang menemani, sama suara mesin2 yang nempel dibadan para pasien yang berbunyi bikin tambah stress. Kucoba gerakkan jempol kaki, oh sudah bergerak, berarti pengaruh obat bius sudah mulai hilang, kuangkat kaki, well masih belum bisa, nunggu 2-3 jam pasca operasi kayaknya baru bisa, jam 9an malam, kucoba gerakkan kaki, horee sudah mulai bergerak tapi masih berat. Tengah malam, aku sudah angkat kaki cari posisi enak biar nggak capek, tapi buat miring masih takut, takut sakit hehe. Ya sudah miring akan dilath besok pagi2 saja. Betul saja, jam 5 pagi para perawat sudah beraksi, yup kita dibangunin dan diseka sekujur badan dan artinya harus miring juga, miring kanan dan kiri. Alamaaak kok yah sakit, ayo latihan miring kata sang perawat…duh, sambil pegangan ranjang yah aku berusaha buat miring dan berhasil…yeah.
Jam 10 siang aku dipindahkan keruangan, wah my family were there and waiting. Hore, aku akhirnya pindah ke kamar dan bisa ngobrol2, tapi ketika dikamar kepala agak terasa pusing, bahkan mual (aku sudah membayangkan, what happen yak, apa ini efek obat bius?, karena semalem ada pasien yang pusing2 hampir muntah karena kena efek obat biusnya). Tapi atas perintah dokter, aku boleh makan apa saja siang itu, dan sore hari boleh lepas infus dan kateter…horeyyyy. Ternyata setelah makan dan istirahat (stop ngomong) pusingku berangsur reda. Oya, dokter juga bilang, latihan miring ajah dulu, baru tar sore boleh duduk dan latihan jalan (dalam hati aku bilang, apa mungkin?) ditambah suami bilang tar sore langsung jenguk baby dan kasih asi (dalam hati, apa aku bisa jalan, mbayangin sakitnya ajah OMG).
Sore, infus sudah dilepas, oya kutanya dokter kenapa nunggu 24 jam baru boleh duduk dan jalan? dikatakan bahwa sisa2 obat bius masih ada kalo sebelum 24 jam, dan jika dipaksa duduk bisa mengakibatkan tekanan darah turun. ok deh lanjut lagi, sore pun tiba, waktunya latihan duduk, yah karena aku sudah pernah di sesar sebelumnya, aku bisa membayangkan bagian2 mana saja yang sakit dan gerakan apa saja yang menyebabkan sakit (kurasa setiap gerakan akan menimbulkan rasa sakit), awalnya latihan duduk di ranjang, butuh waktu yang lama menggerakkan badan, krn hampir banyak gerakan memerlukan otot perut, dan parahnya tiap gerakan pasti membuat perut menegang dan itu imbasnya ke jahitan yang masih basah (kurasa), awwww….
setelah bisa duduk, aku berusaha menurunkan kaki dari tempat tidur, jadi posisi duduk ditepi ranjang, saatnya untuk berdiri…aku sempat menimbang2 berdiri, nggak, berdiri, nggak…tapi suami tetep support, aku ditunggu hingga siap berdiri meski sambil terbungkuk2 akhirnya aku bisa berdiri tegak dibantu suami. Setelah itu latihan jalan, karena aku harus menyusui baby, jadi harus bisa duduk dan berjalan, dont ask me how does it feel, aku jalan sambil memegang (baca menekan) perut untuk mengurangi rasa sakit plus mengurangi imaginasiku bahwa kalo jalan jahitan serasa akan lepas hehe…
yup, kurleb dalam 26 jam dari SC, aku harus bersusah payah untuk berjalan, dari tempat tidur ke kursi roda menuju ruang bayi (bayi di inkubator dan di infus glukosa), dari pintu ruang bayi menuju ruang anakku, meski beberapa langkah tetep rasanya OMG. Malam itu, pertama kali aku menyusui anakku adam, setelah 26 jam lebih adam tidak minum (karena adam bayi ASI), dan menurut dokter bayi yang baru lahir bisa bertahan 3 hari tanpa makan dan minum. ALhamdullilah, ASI-ku bisa langsung keluar, ini jauh beda dengan anak pertama, yang ASI baru keluar pada hari ketiga, dulu juga RS nggak suport ASIX. Adam langsung bisa ngenyot kuat2…wow, bayi 2,3 tapi daya hisapnya sudah kuat, senangnya…hampir 1 jam aku diruang bayi, meski perut cenut2 tapi aku nunggu sampe adam puas minum.
Jadi sehari aku bolak-balik kamar ku ke kamar bayi buat kasih ASI, dan selama itu pula aku ngerasain sakit ketika gerak bahkan pada hari ketiga dan keempat (aku nginep di RS 4 hari). Ini yang aneh, padahal SC pertama, di hari ke tiga aku sudah ok jalannya, ini masih sakit, bahkan hari ke-4, juga demikian, sehingga di rumah aku makin menderita karena perut belum ok, ngurus 2 anak pula…

bersambung di jahitan SC berdarah

Kevin vs Adam

Kalo dilihat dari judulnya, itu bukan ngajak berantem, kevin dan adam adalah nama dua my little babes. Yup kevin si kakak sudah berumur 3 tahun dan adam sang adek yang newborn. disini hanya mau sharing proses lahirnya kedua mia bello bambini, kevin dan adam sama-sama lahir melalui SC, itu persamaan yang pertama. Kevin menjalani SC karena aku didiagnosa kena pre-eclamsi tingkat tinggi pada week 36, karena kandungan protein dalam urin sudah banyak, meskipun air ketuban masih banyak dan jernih. Pre-eclamsiku ini terdeteksi tanpa sengaja, waktu akan berangkat kekantor, pagi2 aku sempetin ke dsog, ternyata alhamdullilah pagi itu aku ke dokter, dan dokter menyarankan aku untuk bed-rest, yang akhirnya ketika menuju ke hospital aku harus memilih 2 pilihan nggak enak, SC atau induksi krn baby harus cepat dilahirkan. Kalo adam, sama dilahirkan pada week 36/37, ada gejala pre-eclamsi tapi masih tingkat ringan, cuma ketika diUSG, ketuban sudah sangat sedikitt, dan bb bayi kok menyusut, trus aku sudah ada flek2 gitu ya sudah ketika dokter decide harus SC, aku sih ok2 ajah…
Berat badan bayi, kevin 2 ons lebih berat dari adeknya, 2,5kg, kurasa itu bayi paling mungil dan lucu, ketika lahir sakit kuning (karena kurang ASI/minum), nggak dijemur juga hehe…akhirnya bolak-balik ke dsa plus beleken dimata sebelah kiri.Adam, dengan berat 2,3 kg yo sangat mungil juga, cuma adam baby ASI, krn sejak awal memang inisitif kasih full ASI, kevin juga full ASI cuma hari 1-3 dikasih sufor di rumah sakit. Adam waktu lahir kurang gula dan harus masuk inkubator dan di infus, adam juga beleken dimata sebelah kiri…
Dspog, niatnya make dokter yang sama antara kevin dan dan adam, tapi apa daya, takdir berkata lain, setelah periksa ke dspog yang sama dengan kevin, tapi pas hari H lahiran si dokter ternyata lagi holiday (memang janjian SC seminggu lebih lama dari jadwal lahiran), tapi kalo lahir smua bisa terjadi tanpa prediksi…
Rumah sakit kevin dan adam sama, di rumah sakit daerah sidoarjo, di pavilyun juga, cuma pavilyun adam satu kelas dibawah kevin karena memang ruangan penuh saat itu, jadi yah yang ada ajah dibooking, tapi tetep private kok.
What else…yah itulah sekelumit kisah antara kevin si sulung dan adam si bungsu…dua baby yang selalu bikin ramai rumah kita…

welcome to this world child…

ASIX di RSD Sidoarjo

Ternyata waktu 3 tahun membawa banyak perubahan dirumah sakit pelat merah dikota sidoarjo tercinta. Tiga tahun yang lalu tepatnya bulan april 2009, keke lahir di rumah sakit ini by SC, waktu itu masih awam sama bayi dan dunianya (anak pertama sih) dan ortu juga masih menganut paham lama, satu2nya sumber yah internet. Karena memang waktu itu anak pertama lahir sebulan lebih awal, jadi yah masih belum maksimal berburu info-nya. Ok back to ASIX, 3 tahun lalu seluruh bayi yang dilahirkan dirumah sakit harus nerima kalo bayinya dapat susu formula kalo nggak bilang di awal bahwa itu bayi ASI. Nah sama dengan keke, karena aku panik harus SC mendadak, jadi kelupaan kalo bayi harus minum ASI.
Tahun ini, kembali ke rumah sakit tersebut, dan ternyata sudah banyak berubah. Sejak, setahun yang lalu rumah sakit ini sudah mencanangkan pemberian ASI pada seluruh bayi yang lahir disana. Wah kebetulan, sebetulnya aku sudah pesan minta IMD waktu lahiran nanti meski SC, tapi dengan syarat kondisi ibu dan bayi sehat. Ternyata, pas hari H kondisi bayi nggak memungkinkan untuk itu karena prematur dan perlu langsung diobservasi. Dokter SPOG juga bilang bahwa meski nggak IMD nanti baby tetap dapat ASI karena itu program wajib di rumah sakit.
Ternyata benar, bayiku selama 24 jam tidak diberi minum nunggu aku kasih ASI, dan ternyata si baby sudah sangat pinter minum ASI waktu aku datang kasih minum 24 setelah SC. Kurasa itu salah satu kemajuan bagi rumah sakit pemerintah tersebut, dan juga bagi para bayi karena kalo ingat tahun 80an sampai awal 2000an, dimana domnasi susu formula sangat kuat, sehingga para ibu (bahkan yang tidak bekerja) sangat menggandrungi pemberian sufor bagi bayi dan menurut mereka sufor memberikan prestice tersendiri dibanding ASI. Tapi sekarang, semua back to nature dimana ASI sudah semakin diketahui manfaatnya dan banyak para ibu yang semakin peduli akan pentingnya ASI, dan kurangnya dominasi industri sufor di rumah sakit maupun dengan dokter. Tugas selanjutnya adalah bagaimana memproduksi ASI yang sehat dan bergizi for baby.

Its a boy

Nggak nyangka kamis tanggal 28 juni menjadi hari kelahiran my 2nd baby. Karena memang due untuk lahir secara sesar diperkirakan pada tanggal 5 Juli 2012 (week 38), dan kalo normal due 20 Juli. Yah memang kehamilanku bisa dipilihkan antara normal (krn posisi baby ok dan jika aku nggak ada masalah sama pre-eclamsi), dan akan sesar jika pre-eclamsi menyerang. Berdoa semoga nggak pre-eclamsi, sampai pada week 35 so far so good, tapi menjelang week 36, tensi mulai naik dari yang biasa 120/80 menjadi 150/100, wah tanda2 nih, seperti my first baby. akhirnya dokter memberikan dua pilihan, istirahat dirumah selama 1 minggu (sambil nunggu perkembangan) atau masuk rumah sakit 1-2 hari untuk program paru maturity just in case kalo si baby akan dilahirkan sewaktu-waktu. well, daripada kenapa2, akhirnya milih opsi yang kedua, jadilah mausk rumah sakit meskipun cuma sehari, jumat sore masuk dan sabtu sore pulang.
Tensi sudah back to normal, everything looks good at that moment, tapi pada hari kamis pagi, kok perut bawah sering ngerasa kenceng2 gitu yah?dan itu berulang kali meskipun rasanya mild, dan jam 11 siang pas ke kamar mandi lihat ada bercak darah (seperti mau haid hari pertama), jadinya aku panik, sms sana-sini dan ternyata hasil sms mengatakan itu adalah tanda-tanda baby mau lahir, walah….lha kok cepet amat hehe…daripda kenapa-napa dan bingung mencari jawaban aku sms dokter spog-ku yang ternyata ga aktif hp-nya. ya sudah ke rumah sakit, disana minta dipanggilkan dokter spog-ku. dan ternyata OMG dokterku lagi vacation ke SG hingga hari minggu…apa bisa bayiku nunggu hingga minggu?
Akhirnya aku periksa ke doketr spog yang ada saat itu, dan kebetulan memang ada, perut di usg dan ternyata baby sudah kecil seukuran baby di week 33 (hah? kok bisa?, lha aku hamil sdh 36/37 minggu, dan itu sudah 2 spog yang menyatakan demikian, aku memang periksa di 2 spog). Akhirnya si dokter spog dirumah sakit menanyakan haid terkahir yah (lupa), lha mana aku ingat hehe…bayi sdh mau lahir kok ditanya kapan haid terkahir atau apalah kwkw…trus yang bikin khawator adalah ketuban sudah sangat menipis so jika kehabisan bisa sangat berbahaya bagi baby dan tensi saat itu 140/100 hmmm. jadi ada opsi aku harus melahirkan hari itu juga, antara seneng dan nervous juga sih, seneng krn aku memang pengen cepet2 melahirkan (resiko eclamsi menunggu dan hamilku yang kedua ini sungguh2 berat bagiku buat beraktivitas hehe…alesan ajah) nervous karena aku nggak melahirkan dengan dokter spog yang biasa memeriksa aku, melainkan dengan dokter yang baru pertama ketemu langsung operasi aku…jadi belum ada chemistry istilahnya…itu yang bikin nervous.
Tapi akhirnya aku dan suami memutuskan untuk ok sesar hari itu juga dnegan banyak pertimbangan, diantaranya keselamatan dan yang kedua aku takut kelahiran normal (meskipun banyak yang mendorong untuk itu)…tapi aku masih belum pede…yah kalo soal itu bolehlah aku dibilang coward…
yup akhirnya disepakati jam 4 sore aku masuk ruang operasi dan selama itu aku nunggu dikamar dan nggak boleh makan dan minum sampe waktu yang telah ditentukan…
jam 4 tepat aku diantar ke ruang operasi, ditemani oleh mama dan suami, jam 4.30 masuk ruangan dan mulailah standar operasi disiapkan termasuk proses pembiusan. Kurasa sesar nggak makan waktu lama, kurang lebih jam 4.45 aku dibius lokal, jam 5.10 baby sudah lahir dan dia laki-laki sesuai prediksi sebelumnya. Berat badan sesuai usg yakni 2.3kg, so small buat baby umur 36/37 week, tapi dia sehat karena aku denger nangisnya kenceng banget. Tapi ternyata si baby boy ada masalah dengan kadar gula yang menurut hasil tes sangat kurang sehingga harus diberi cairan melalui infus, dan masuk inkubator to keep him warm.