Monthly Archives: December 2016

Serunya Exploring Gili Labak dengan Balita

Banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi dengan seluruh keluarga (baca dengan balita) dan pergi ke tempat baru memang sangat menyenangkan sekaligus menantang. Liburan kali ini merupakan wisata alam (pulau) pertama kali bagi keke (7), adam (4.5), tetya (2.5), dan kita mengajak tante leon. Kenapa memilih wisata alam (pulau dan pantai)? yah karena Indonesia kaya akan pesona alamnya, dan anak-anak harus mulai mengenali kekayaan Indonesia yang satu ini. Nah, tugasnya jatuh pada ortu-nya yang harus mengenalkan kekayaan alam ini, dimana sebelumnya liburan hanya ke mall, taman bermain, atau wahana wisata buatan lainnya. Untuk pengalaman pertama ini saya pilihkan liburan ke pulau terpencil di ujung pulau Madura, yakni Gili Labak. Memang sebelum diputuskan kesana saya sudah mendatangi Gili Labak¬† beberapa bulan sebelumnya, dan saya puas dengan pemandangan yang tersaji, serta fasilitas pendukung yang ada disana, pantai pasir putih yang bersih terhampar, ombak yang tidak terlalu besar cenderung tenang, air jernih sebening kaca, karang cantik, ikan-ikan kecil di pinggir pantai, pohon-pohon rindang di sekitar pulau, dan ada warung penjual makanan dan minuman yang siap mengisi perut kita, toilet yang bersih, dan tidak banyak pengunjung pulau. Wow, serasa pulau milik sendiri….hehe. Namun, ada yang masih mengganjal, yakni perjalanan dari Sidoarjo ke Gili Labak yang sangat menantang bagi orang dewasa, apalagi anak-anak sempat menciutkan nyali untuk pergi.

Akhirnya setelah diskusi dengan suami bahwa liburan bulan desember 2016 kita akan ke pantai Gili Labak, dan membulatkan tekad kalau anak-anak pasti bisa meski sempat ragu-ragu juga tapi ketika wacana ini dilemparkan ke anak-anak sebulan sebelum berangkat dan mereka sangat excited, akhirnya OK, kita pasti bisa.

Kita pergi memang menggunakan jasa tour Arthenis tour yang membuka paket open trip untuk wisata Gili Labak pada tanggal 24-25 Desember 2016, dengan harga 280.000 / orang, anak-di bawah 5 tahun kena 50%, sedangkan 2,5 tahun free of charge. Karena membawa anak-anak saya memang sengaja ikut open trip untuk memudahkan perjalanan.

Pre-Departure

Seminggu sebelum keberangkatan, beberapa masalah muncul, hal yang saya takutkan selama ini datang juga. Bagiamana jika hari H anak-anak sakit? Ternyata H-9 kakak demam karena kecapaian, tapi dengan obat turun panas dan istirahat selama 2 hari akhirnya sehat. Selang 2 hari, si bungsi kena sariawan di sekujur mulut dan lidah disertai demam, tidak mau makan dan minum, sempat panik juga sih tapi dapat obat dari dokter dan obat sariawan juga (gentin violet) rekom dari teman yang seorang dokter juga dan saya banyakin minum teh krisanthemum (yang ini herbal) yang katanya bisa meredakan sariawan dan panas dalam (hanya teh itu yang mau masuk), dan di hari ke 3 nafsu makan adek teta sudah mulai muncul dan berangsur membaik. Tidak sampai disitu, H-5 mas adam juga demam dan batuk pilek, diberi turun panas juga tidak membaik bahkan cenderung konstan panasnya, akhirnya dapat antibiotik dari dokter dan alhamdullilah sehat pada H-2, dimana pada hari itu si adek demam lagi dan batuk pilek, OMG apakah anak-anak nggak boleh liburan? Hingga jum’at sore masih hangat, dan sekali lagi saya merasa lega karena jum’at malam adek sudah mulai dingin dan sabtu juga sudah ceria.

Departure

Meeting point tur ini di stasiun Gubeng pukul 23.30 malam dan berangkat pukul 24.00, hehe hanya saya yang membawa anak-anak ke Gii Labak, yang lain para ABG. Barang bawaan kami sungguh heboh untuk trip satu hari, yakni ransel isi baju ganti untuk 5 orang, ransel untuk dompet, hp, sunblok, obat-obatan, tas isi sandtoys, dan tas isi baju renang, serta satu tas kecil untuk susu ( 2 anak minum susu cair, di bungsu sufor). Paket gili labak tur juga termasuk dengan snorking, dan Gili Labak terkenal dengan salah spot snorkling yang ramah bagi pemula.

Perjalanan dari Surabaya ke Sumenep lewat Suramadu ditempuh hanya dengan 3.5 jam, kalau siang hari bisa 4-5 jam. Sampai di pelabuhan Tanjung Sumenep pukul 03.30, dipelabuhan terdapat musholla, toilet, dan beberapa warung kecil, serta penyewaan kapal menuju pulau-pulau termasuk Gili Labak dan Gili Genting. Tepat pukul 5 pagi kita memasuki kapal, menurut pemilik kapal, kapasitas kapal maksimal 70 penumpang, namun kalo saya lihat 40 orang saja sudah crowded. Untuk sewa kapal dengan kapasitas 40 orang ini seharga 1 Juta Rupiah untuk perjalanan PP ke Gili Labak, jadi sebaiknya perginya rombongan. Anak-anak sangat excited naik kapal kecil ini, serasa dekat dengan laut dan bisa memandang laut lepas dari jendela, tetapi karena capek di perjalanan anak-anakpun tertidur di kapal. Dari pelabuhan Tanjung ke Gili Labak memakan waktu 1.5-2 jam tergantung angin dan ombak laut. Waktu terbaik untuk berangkat adalah bulan Mei, dan tidak direkomendasikan pergi ke Gili Labak di bulan Agustus karena angin dan ombak yang cukup besar. Disarankan berangkat pagi hari dimana laut masih tenang sehingga kapal tidak begitu terasa goyangannya.

Tetap ceria meski hampir 2 jam di atas kapal

Tetap ceria meski hampir 2 jam di atas kapal

Gili labak here we come

Setelah terombang ambing selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya sampai juga di Pulau yang hanya berpenghuni 15 KK ini. Hamparan pasir putih menyambut kami di pagi hari yang cerah, rasa lelah, bosan terbayarkan dengan deburan ombak pantai yang ramah, pasir putih yang lembut dan air laut yang menyegarkan. Gili Labak belum memiliki pelabuhan (masih dalam tahap pembangunan), sehingga kita langsung turun ke bibir pantai menggunakan tangga kayu yang disediakan oleh pemilik kapal. Hari ini kita cukup beruntung, karena kapal bisa merapat hingga ke bibir pantai, padahal 3 bulan sebelumnya saya harus jalan kaki sejauh 50-100 meter dari bibir pantai dengan kedalaman air sepinggang untuk mencapai pantai. Jadi sebaiknya kenakan baju renang langsung ketika di kapal atau sebelum masuk kapal untuk memudahkan kita ketika menuju pulau.

Just landed dari kapal langsung main air pantai

Just landed dari kapal langsung main air pantai

Anak-anak langsung berhamburan menuju pantai dan mulai mengesplor pasir dengan mainannya. Pasir putihnya bersih dari sampah maupun limbah, sehingga sangat bersahabat untuk anak-anak. Mereka seakan lupa perjalanan darat 3.5 jam, dan kapal laut 1.5 jam, rasa kantuk, capek, dan bosan sudah hilang digantikan dengan tawa ceria, bahkan mereka tidak mau diajak pulang.

Pasir putih dan air jernih pantai gili labak

Pasir putih dan air jernih pantai gili labak

Happy busy balita

Happy busy balita

Si adek nggak ketinggalan action

Si adek nggak ketinggalan action

Mengenalkan alam kepada anak sangat penting, menunjukkan bahwa Indoensia sangat kaya akan tempat wisata yang indah, mengajarkan anak untuk bersyukur juga bahwa ciptaan Allah yang maha indah ini masih bisa kita nikmati, dan harus dijaga. Namun sayang, menejelang siang saya sudah menemui beberapa sampah bungkus makanan dan plastik yang berserakan di pantai, jumlahnya tidak banyak hanya 2-5 bungkus tetapi itu sangat mengganggu dan membuktikan bahwa kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan masih kurang. Saya membayangkan ketika pelabuhan sudah terbangun, wisatawan (tidak bertanggung jawab) makin banyak (ramai) sampah juga pasti bertambah, dan keindahan pantai pun bisa berkurang.

Pasir putih nan halus

Pasir putih nan halus

Bagian belakang pulau

Bagian belakang pulau

Tante leon in action, sisi lain gili labak

Tante leon in action, sisi lain gili labak

Hello all...warm welcome from gili labak

Hello all…warm welcome from gili labak

Beautiful bright morning, tante leon dan peserta open trip

Beautiful bright morning, tante leon dan peserta open trip

Beautiful morning

Beautiful morning

Puas bermain pasir, waktunya snorkling, lokasi snorkling tidak jauh dari bibir pantai kurang lebih kita berpindah tempat 100 meteran dari tepi pantai masih dengan menggunakan kapal. Spot ini ramai jika musim liburan, disana terhampar karang dan berbagai jenis ikan hias beraneka warna. Keke, adam, dan tetya tidak berani turun ikut snorkling, jadi yang snorkling hanya mami dan tante leon. Ayah juga masih belum berani hehehe, jadi nungguin di atas kapal sambil teriak-teriak. Tante leon hanya sebentar karena jarinya terluka tergores tali kapal (kasihan tante leon). Snorkling memang belum cocok untuk anak-anak, tapi view disekitar lokasi snorkling sangat cantik.

View underwater

Underwater View

Ikan beraneka warna

Ikan beraneka warna

More and more fishes

More and more fishes

Gili genting

Kurang lebih kita menghabiskan waktu selama 1 jam di spot snorkling sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan dan pindah ke pulau gili genting yang populer dengan pantai sembilan. Dari gili labak ke gili genting memakan waktu satu jam, sekali lagi anak-anak tertidur di kapal. Mereka kenyang makan mie cup yang dijual di warung gili labak seharga 7000 per cup, dan kelapa muda seharga 10000/biji, sungguh nikmat.

Kelapa muda minuman wajib di gili labak

Kelapa muda minuman wajib di gili labak

Sampai di gili genting, kita tidak turun dipelabuhan namun turun langsung dibibir pantai menggunakan tangga. Yes, anak-anak langsung mengeksplorasi pantai, pasir, dan bermain hingga puas, tanpa menghiraukan panas terik (mungkin mereka pede setelah dioles banana boat spf 50) matahari pukul 13.00.  kurang lebih satu jam kita di gili genting.

Salah satu spot di gili genting (pantai sembilan)

Salah satu spot di gili genting (pantai sembilan)

Icon pulau sembilan

Icon pulau sembilan

Playing sand at pantai sembilan

Playing sand at pantai sembilan

Gili genting lebih besar dari gili labak, lebih menyerupai kampung nelayan, lebih ramai, dan banyak penjual makanan. Pantai sembilan yang menjadi ikon gili genting saat itu tidak terlihat (airnya surut, dan menyisakan gundukan pasir). Overall, gili labak is the best.

Menikmati pemandangan laut dari kapal

Menikmati pemandangan laut dari kapal

 

Goodbyeeee

Jam 2 siang mulai meninggalkan gili genting menuju pelabuhan tanjung, total waktu 30 menit. Disini tetya duduk di ujung kapal, mas adam di buritan, merasakan hembusan angin laut yang tidak setiap hari bisa dirasakan. Setelah sampai dipelabuhan, kita istirahat dan bersih-bersih diri dan makan siang. Tepat pukul 16.00 kita melanjutkan perjalanan pulang ke surabaya. See you on the next trip.

Tips:

*Sunblock adalah benda wajib yang harus dipake ketika ke pantai, kita pake banana boat spf 50 aloe vera, dan terbukti bebas sunburn dan belang. Padahal saya mengolesnya tidak setiap jam (capek juga mengoles 4 orang dengan sb setiap jam).

*Topi lebar dan kacamata, tapi anak-anak suka susah pake topi dan kacamata.

*Minyak kayu putih, wajib oles sering-sering karena anak-anak basah dan kena angin dalam waktu yang lama.

*Plaster handyplast, banyak karang yang bisa melukai, serta pasir yang tajam.

*Cemilan??? Dijamin anak-anak pasti lupa makan saking gembiranya.

*Air putih, yah banyakin minum air putih agar tidak dehidrasi.