Platters…another option for late lunch

Pulang kerja seringkali perut lapar, apalagi perjalanan pulang dari kantor yang cukup jauh (1 jam). Memang sugesti saya kalo telat makan kepala bisa kliyengan hehe, jadi kalo sudah mulai terasa lapar yah harus makan, dan bener makan bukan ngemil lho.

Di Sidoarjo memang surganya kuliner, dan pertumbuhan resto/warung/cafe sangat signifikan jumlahnya seiring dengan pertambahan jumlah penduduknya. Mulai dari penyetan ikan, ayam, bebek, chinese food, seafood, noodle house, fastfood, japanese food, belum lagi yang food stall, wah gak terhitung. Bakso, siomay, batagor, rujak manis, kupsng, lontong balap, banyak ditemukan di sekitar alun-alun. Hampir diseluruh  pojok sidoarjo bisa djumpai warung makanan tersebut.

Biasanya kalo pulang kerja dan pas lapar bisa mampir ke bebek sinjai dekat gor, sinjai ini cabang yang di bangkalan. Kalo menurut saya, disini kok bebeknya lebih imut dan minim bonus trus lebih mahal 5000 rupiah, kalo di bangkalan 25000 sudah plus minumnya. Alternatif lain wong solo, lokasi seberang GOR juga. Entah kenapa suka banget sama ikan bakarnya yang hanya dibakar pake kecap saja, dan sambel mentahnya (jadi jarang nyoba ke yang lain kalo ikan bakar). Bahkan seringkali beli sambelnya buat bawa pulang hehe meski akhirnya dikasih bonus saja. Range harga makan plus minum juga kurang lebih 30.000 rupiah.

Sop ayam pak min juga jadi salah satu tempat makan yang sering didatangi. Tapi lokasinya agak jauh di tengah kota, dan kalo jam pulang kantor daerah tersebut jl. Gajahmada (if im not mistaken) sangat crowded. Harganya juga masih reasonable sekitar 20000 rupiah bisa lebih murah, tergantung bagian ayam mana yang diminta.

Kalo pengen non rice tapi tetap berat, bisa milih tahu tek, yang favorit yah depan alfamidi pondok jati, ini bisa beli kalo pulang kerja kemalaman. Tahu tek bisa milih pake telur dadar or polosan. Kalo ngomongin tahu tek, memang sekarang jarang yang enak (bumbu petisnya kurang nendang). Kalo nggak malas yah mending bikin sendiri dengan kualitas dan kuantiti petis lebih banyak dari kacangnya. Harga tahu tek polos 8000 dan pake telur 10000. Sate ayam dan kambing (lupa namanya) masih sederet dengan tahu tek, juga jadi sasaran kalo perut lapar sepulang kerja. Satenya besar-besar dan tidak keras, biasanya minta daging only no kulit dan gajih, harga kalo tidak salah 13000-15000/10 biji. Pernah coba sate dekat kantor pos Sidoarjo, enak juga kok.

Selain di atas, ada bakso yang jadi sasaran amukan perut lapar, bakso solo kantor pos dan cak to di pojok GOR. Range harga 10000-20000 sudah bikin kenyang. Kalo di cak to, my fave is siomay gulung dalam kubis, tahu putih, dan siomay rebus. Capcay cak to deket PLN dulu juga favorit, sekarang no more, sejak chef nya ganti rasa capcay pun berubah, dan I never come back again, dan sampai sekarang belum nemu capcay yang cocok dengan selera. Capcay yang saya pesan selalu merah, manis, dan ikannya hanya gorengan saja (gorengannya unik).

So far itu makanan yang sering kita jajah jika ada kesempatan dan pas perut lapar, dan semuanya ada di Sidoarjo. Not many, karena meski sering lapar tapi kadang jam tidak memungkinkan untuk berhenti makan, berhenti makan kala lapar bisa dilakukan jika pulang agak siang misal dari kantor jam 2.30 atau pulang kemaleman di atas jam 18.00.

Nah, kenapa judulnya platters? Well kemaren kena serangan lapar mendadak pas hujan deres, sebetulnya ada pilihan di pujasera baru di pondok jati, tapi disana kalo nggak salah hanya ada nasi soto, nasi cumi, dan pecel, yang lain jajanan saja. Akhirnya memutuskan untuk cobain platters, resto yang lumayan baru dan spanduknya setiap lewat pondok jati terbaca hehe…hot plate 20000 idr only. Awalnya dikira yang harga di spanduk itu hanya untuk promo, tetapi ternyata seluruh menu berlauk ayam harganya flat 20000 dan menu beef 27000, minuman juga flat 5000 saja. Untuk resto nggak terlalu besar dan ada 2 lantai. Variant menu juga nggak terlalu banyak. Fyi, platters itu duplikasi pepper lunch yang sudah femous itu, jadi ada nasi, sayur, lauk (biasanya masih mentah) dan diletakkan di hot plate (yang kata di video panasnya mencapai 209 degree)…keunikan makanan ini adalah cara makannya, yakni begitu makanan datang harus langsung di disiram bumbu khusus dan di aduk hingga semua makanan tercampur dan daging, ayam, telur bisa matang sempurna. Penampakan akhir yah seperti nasi goreng hehe.

Daging di platter ini sudah mateng, termasuk juga daging ayamnya, kecuali telur yang disajikan mentah,  jadi sensasi mengaduk dan memasaknya kurang. Untuk rasa, jika hanya menggunakan bumbu default-nya cenderung manis, jadi kalo saya banyak menambah versi asinnya, dan tidak pedas sama sekali.

beef bulgogi

beef bulgogi

chicken steak

chicken steak

after mixing process

after mixing process

the price

the price, value for money

img_20170104_171234

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: