Monthly Archives: November 2019

Menjadi mahasiswa baru

Setelah lebih dari sepuluh tahun menunggu, akhirnya kabar gembira ini tiba. Ya Allah, ternyata engkau punya jalan cerita sendiri bagi ku. Tahun 2019 adalah break through setelah kuliah terakhir tahun 2008, sekarang, 11 tahun kemudian aku memasuki bangku kuliah lagi. Memang selama ini aku hanya berjuang di 2 tahun terakhir, mulai menyiapkan proposal dan berbagai lamaran beasiswa, dari tahun 2017 hingga 2019 ada beberapa beasiswa yang pernah aku ikuti, AAS tahun 2016 dan 2018 hasilnya gagal, LPDP tahun 2018 dan gagal, Budi LN tahun 2019 dan gagal. Wah rasanya gagal berkali-kali itu sesuatu, rasanya aku sudah nggak layak untuk lanjut kuliah ini. Sedih banget rasanya, tapi tetap aku tidak patah semangat.

Akhirnya tahun 2019, ada kabar gembira dari kampus tempat aku bekerja dan mengabdi, bahwa ada program beasiswa / bantuan kuliah S3 keluar negeri. Unbelievable, dan ternyata aku adalah penerima beasiswa tahap kedua, tahap pertama tahun 2018. Alhamdullilah, ternyata kerja keras dan doa terkabul. September 2019, berangkatlah aku ke University of Malaya, Kuala Lumpur untuk melanjutkan studi Library and Information Science under Faculty of Computer and IT. Aku mengambil PhD program (reserach based), tetapi tetap ada syarat perkuliahan yang harus diambil yakni advanced reserach method dan bahasa melayu. Menjadi mahasiswa baru bukan masalah mudah, apalagi di usia yang sudah kepala 4, memiliki anak usia TK dan SD di rumah, dan suami. Sungguh dilematis bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk meraih ilmu di negeri tetangga dengan meninggalkan pekerjaan dan keluarga. But, my husband is always support, he always said that I can do this. Now, I’m here, writing this blog from a room in Shah Alam.

I also have a great colleague who come earlier in KL, she support me and comfort me, so I feel like home and dont feel a homesick. Jadi tantangan terberat adalah mengalahkan diri sendiri, bagaimana mendorong diri sendiri untuk semnagat, tidak mellow, dan tetap berupaya ditengah kesulitan dan kebingungan sebagai seorang mahasiswa baru. Aku berharap akan dapat selesai (lulus) pada bulan Juli tahun 2022. So I can go back home and to see my family…yeeey….

Blood Transfusion

Tranfusi darah adalah aktivitas yang akan saya tulis paling akhir jika terkait medical procedure. Tetapi dua bulan lalu, tepatnya 28 Agustus 2019, ketika saya di vonis HB tinggal 5, badan lemas tidak berdata, jalan 50 meter berasa naik gunung berat dan nafas ngos-ngosan, akhirnya saya pasrah untuk dilakukan blood transfusion. Okay, kembali ke empat bulan sebelum blood transfusion, apa yang terjadi? berawal dari bulan puasa minggu kedua, saya mulai haid/menstruasi, seminggu pertama saya anggap normal jika haid belum berhenti, memasuki minggu kedua mulailah saya bertanya-tanya, ada apa ini kenapa masih haid juga, googling tapi belum terarah sehingga saya tidak berasumsi. H-1 lebaran, saya nekad ke UGD RSUD Sidoarjo feels like home hospital hahahha karena klinik banyak yang tutup. Saya diminta ke lantai 2, dan disana diperiksa oleh dokter jaga sepertinya PPDS obgyn, dan di USG seems no problem, kemudian saya diberi vitamin dan tambah darah.

Seminggu setelah lebaran, saya kembali ke dokter SpOG untuk periksa lebih lanjut, alhmadullilah sudah pada buka. Setelah diperiksa diketahui ada miom, sekitar 2.5 cm, itu yang menyebabkan pendarahan, akhirnya saya diberi 4 macam obat (hormonal tapi lupa judulnya, ingetnya mahal saja hahaha). Dokter juga menyarankan untuk makan yang sehat dan olahraga. Setelah dari dokter kemudian haid berhenti, namun tidak lama, paling 2 minggu, kemudian tibalah masa haid, dan seperti biasa lebih dari seminggu, sekitar 2-3 minggu. demikian hingga lama kelamaan saya sering merasa cepat capek, terutama ketika jalan kaki, sering ngantuk,  teman-teman jug abilang saya sangat pucat, dan akhir agustus saya cek ke psukesmas dan test darah ternyata HP tinggal 5 (omg, padahal nomalnya minimal 11 untuk wanita dewasa). Kemudian saya dirujuk ke RSUD ke obgyn, untuk tindakan lebih lanjut. Hari itu sabtu, dan pas ketika tiba di rumah sakit praktek obgyn masih buka, saya langsung konsultasi dan dokter bilang untuk tranfusi hari itu juga, Akhirnya saya pesan kamar dari kelas I saya naik kelas VIP (biasanya anak-anak ikut kemping di rumah sakit).

Dokter memberikan 3 pax darah, yang diinjek selama 2 hari (transfusi darah dilakukan bertahap dan terdapat interval waktu dari kantong pertama ke kedua, dst). Setelah di cek, HB baru naik jadi 9, kemudian ditambah lagi 2 pax, dan tentu saja saya extend sehari di rumah sakit. Ngeri, itu yang saya rasakan ketika melihat darah dari kantong pindah ke tangan saya, but is there any other choice? Anak pertama dan kedua saya juga pernah mendapat tranfusi darah karena HB rendah. Rasanya ketika darah masuk ke tangan, agak ngilu yah, terutama jika jarum infus sudah 3 hari berada di tangan yang sama. I dont like that feeling, jadi ngat para vampire yang butuh darah dengan meminum haha. Alhamdullilah, HB akhirnya naik menjadi 11, dan ketika cek untuk persiapan operasi laparaskopi HB tetap stabil 11, im so happy.

Setelah tranfusi, badan sudah setrong and kuat jalan keliling rumah sakit tanpa ngos-ngosan. Dan ketika di USG, miom masih ada, malah bertambah menjadi beberapa, jadi tranfusi bukan jalan keluar untuk masalah endometrium, karena akar masalah masih ada, dokter sempat menyarankan angkat rahim tapi pada saat itu saya masih menolak, jika angkat miom saja dikhawatirkan akan muncul kembali dikemudian hari. Akhirnya saya putuskan untuk mencari beberapa opini terkait masalah ini. dan hasilnya bisa dilihat di posting saya terkait operasi laparaskopy histerectomy.

Laparaskopi Endometrium, is that scary as we think??

Tidak pernah terpikir olehku bahwa di usia 41 tahun kurang 4 hari aku mendapat hadiah spesial, yakni terbaring dimeja operasi (untuk kesekian kali). Jika sebelumnya adalah tindakan operasi yang dinanti-nanti (sesar/cesar), tapi yang ini sungguh berbeda. Keputusan untuk melakukan laparaskopi memang sangat singkat, hanya butuh waktu 3 hari untuk menentukan hari dan jam operasi. Mengapa demikian? cerita dibalik keputusan operasi itulah yang cukup panjang dan melelahkan. Hari rabu, 30 Oktober 2019, aku dapat semester break kuliah, dan langsung pulang ke Surabaya, niatnya sampe rumah langsung periksa dokter SpOg, tetapai apadaya, badan rasanya capek setelah perjalanan jauh (KL-SUB hanya 2.45 menit) tapi persiapan sebelum ke bandara hingga kerumah butuh waktu lebih panjang dari perjalanan udara. Baiklah aku memutuskan untuk pergi ke dokter keesokan malamnya. Selama ini aku masih mengkonsumsi sunolut untuk menghambat haid, obat ini diresepin SpOg ketika di sunway medical center, Kuala Lumpur (cerita soal sunway terpisah).

Datang ke SpOg juga butuh perjuangan (mungkin makin banyak yah jumlah wanita hamil), harus antri panjang. Ok, tibalah giliranku dipanggil masuk ke ruang periksa, seperti ruang periksa kebanyakan SpOG, disana ada meja konsultasi, kasur untuk periksa dan alat ultrasound (USG) plus monitor. Sebelum diperiksa, dokter menanyakan masalah yang aku alami (fyi, ini adalah dokter pertama aku dan membantu persalinan anak pertama dan konsul hamil anak kedua). Gini dok, terakhir kali saya periksa waktu itu didiagnosa terdapat penebalan endometrium sekitar 1.6 cm, dan keesokan harinya saya harus terbang ke Kuala Lumpur untuk study, seminggu kemudian saya menstruasi dan minggu kedua menstruasi saya periksa ke SpOG di Kuala Lumpur, disana saya juga di USG dan hasil menunjukkan ada penebalan kurang lebih sama dengan waktu diperiksa di Indoensia. Akhirnya dokter di Sunway menyarankan pada saya untuk melakukan tindakan biopsy (kuret) sepulang saya di Indonesia, dan untuk menghentikan pendarahan dokter memberi saya sunolut untuk 2 minggu. Selanjutnya, dokter kemudian meminta aku untuk ke meja periksa dan melakukan USG di vagina (bukan di perut lagi) dan ternyata penebalan tidak berkurang malah bertambah menjadi 2.8 cm.

Ada opsi dari dokter untuk melakukan terapi hormon melalui injeksi yang dilakukan selama dua bulan sekali, injeksi dilakukan sebulan seklai untuk menipiskan endometrium tadi, selanjutnya akan dilakukan biopsy untuk melihat apakah penebalan tersebut mengandung sel berbahaya (ganas). Mendengar itu rasanya bikin dag dig dug, oya, selain ada penebalan dinding rahim aku juga memiliki miom (ukurannya lupa, karena fokus pada penebalan tersebut). Akupun bertanya, apa yang terjadi jika diketahui ada keganasan? dokter bilang angkat rahim. Pikiranku langsung menyambung angkat rahim berarti tidak bisa mens, berarti menopuse, jika menopuse berarti sudah tidak memiliki gairah seksual lagi (hihihi kok masih inget saja untuk urusan itu yah hahah). Dokter kemudian menjelaskan panjang lebar, bahwa yang diangkat hanya rahim, tetapi indung telur tetap ada. Kemudian, dokter bagaimana jika saya langsung operasi? (mengingat kesibukan kuliah di awal semester yang takutnya mengganggu proses terapi, saya juga sudah tidak bisa punya anak lagi karena setelah anak ketiga langsung di steril), setelah diskusi panjang lebar, akhirnya disepakati saya akan operasi, dan dokter memberi cek list medical cek up yang harus saya jalani keesokan harinya.

Malam hari aku puasa, sejak pukul 12 malam, paling hanya minum yah. Jam 9 pagi aku menuju parahita lab untuk cek darah lengkap, urine, thorax, dan eng ing eng HIV test. HIV test bikin saya nervous sampai tidak bisa tidur, kenapa? karena 2 bulan sebelumnya saya sempat transfusi darah sebanyak 5 pax. Meskipun ditulis bahwa darah dari donor sudah di screening dengan ketat, tetapi rasa deg-degan tetap ada. Malam hari hasil test jadi, dan alhamdullilah semua dalam kondisi ok, termasuk yang saya takutkan juga negatif. Besok malam, kontrol lagi ke dokter, dan dokter bilang semua normal, jadi bisa lanjut ke tindakan operasi. Kapan rencana operasi? haha saat itu rasanya speechless, I said as soon as posible karena tanggal 12 November saya harus kembali ke KL, dan saya ingin operasi yang cepat recoverynya sehingga saya bisa langsung beraktivitas. Akhirnya dipilih hari senin tanggal 4 November, dan tanggal 3 sore saya harus sudah masuk rumah sakit. I did medical procedure in RSUD Sidoarjo, my fave feel like home hospital (lebay)….dan tanggal 4 itu saya harus jemput pembicara konferensi di bandara juanda, ikut sebagai host gala dinner pra konference malam harinya, dan tanggal 5 jadi moderator plenary session dan invited speaker di international conference, tanggal 6 menjadi PIC workshop smartPLS. Semua saya cancel mendadak karena operasi ini, dan mohon maaf yah teman-teman.

Senin pagi, habis subuh aku sudah mandi, keramas, bab, dan tetap masih puasa. Jadi setiap mau operasi inginnya menyiapkan diri semaksimal mungkin, karena itu akan mempengaruhi after match haha. Pukul 9 pagi, tidak disangka my best fellow come to visit yey…so happy mereka menyempatkan diri untuk menengokku disela-sela kesibukan departemen yang super crowded. Pukul 9.30 perawat sudah datang untuk membawa aku ke ruang operasi, diikuti oleh suami dan dua kolega tersayang. Kita berpisah di pintu ruang operasi. Selama di ruang tunggu, aku sudah tiduran, sekitar pukul 10 dokter SpOG datang to talk n make a confirmation about the procedure, I agree. Selanjutnya aku dibawa masuk ke ruang operasi, tidak asing dengan ruangan operasi (sudah 3 kali operasi sesar di rumah sakit yang sama), dingin, bersih, banyak alat-alat, dan ada beberapa perawat yang selalu ngajak bercanda (biar aku nggak nervous). Kemudian, dokter anestesi datang dan talk for a while, tapi aku sudah baca dan mendapat konfirmasi mengenai jenis bius yang akan aku dapatkan, yes bius umum or bius total.

Okay, aku sempat tanya pukul berapa sebelum disuktik bius melalui selang infus, kayaknya sekitar pukul 10 pagi, setelah disuntik, saya sempat bertanya kapan saya mulai tidak sadar? saya masih dengar jawaban 3 menit, tapi kenyataannya, itu adalah kata-kata terakhir yang saya dengan di ruang operasi hahahhaha….oya sebelum dibius perawat bilang saya akan dipasang kateter, alat bantu nafas, dan selang yang dimasukkan melalui hidung ke lambung, tapi semua alat tersebut dipasang setelah saya tidak sadar (alhamdullilah jadi tidak merasa ngilu).

Dingin, itu yang aku rasakan ketika pertama kali membuka mata di ruang pemulihan, langsung mataku berputar keseluruh ruangan, mencari jam, karena penasaran, sudah berapa lama aku tertidur. Ternyata jam menunjukkan pukul 15an, masih belum 15.30, but not so sure 15 lebih berapa. sambil merintih memanggil mbak perawat to warn them that I wake up, I said i feel cold (padahal sudah ada 3 selimut haha) kemudian saya dikasih lampu penghangat (so warm), but penderitaan belum dimulai sepenuhnya, punggung dan kaki terasa capek, saya pengen miring tapi perut masih agak ngilu. Sepertinya capek tersebt karena aku ada diposisi telentang dalam waktu yang lama. Ketika aku raba perut, oh terdapat 4 buah plaster kecil-kecil, berarti ada 4 lobang yang telah dibuat. Aku tidak merasa pusing, mual dan yang lain-lain alhamdullilah, berarti persiapan pra operasi sudah ok (puasa), padahal sebelum masuk rumah sakit sempat makan richeese level 5, yang akhirnya ga bisa habis karena super spicy.

Satu jam kemudian, aku dipindahkan ke ruang rawat inap, aku bisa pindah sendiri dari bed satu ke lainnya (ini yang nggak bisa aku lakukan ketika operasi sesar), kemudian perawat membawa ke ruang rawat inap sambil tetap merasa ngantuk. Di ruangan ternyata tidak ada orang, anak-anak sedang dikirim pulang, mama juga istirahat pulang ke rumah, dan pas saya bisa lanjut tidur sore itu hingga waktu magrib. Tenggorokan agak kering, seperti ada dahak tapi tidak bisa keluar, but its not disturb me a lot, yang mengganggu adalah kateter hahaha, memang aku masih belum boleh turun dari bed, jadi yah still lying down dan menunggu benar-benar pulih. Habis magrib semua pada datang, anak-anak, mama, suami, adik-adek, ponakan, ramenya, karena laparaskopi hanya meinggalkan luka kecil, jadi aku tidak merasa sakit sama sekali, so nice, jadi tetap bisa bercanda dan tetap bisa ganti-ganti posisi.

Saya diijinkan pulang dua hari kemudian karena ada obat yang harus disuntikkan mellaui infus seperti antibiotik dan pereda nyeri. Kateter dilepas sehari setelah operasi, it was nice. Setelah pulang, kontrol lagi seminggu kemudian. 4 hari setelah operasi saya harus pergi keluar kota, Garut tepatnya dengan kerata api PP, memang acara ini sudah kita agendakan jauh hari, disana kita melakukan kunjungan kekeluargaan ke rumah suami adek bungsu kita, alhamdullilah selama perjalanan lancar termasuk luka operasi saya, dan tidak ada rasa sakit yang kentara, yang aku hindari selama seminggu adalah mengangkat beban berat, yang lainnya normal saja, jalan, duduk, jongkok, mandi, makan semoa normal. 8 hari setelah operasi saya kembali ke KL, meski capek selama perjalanan tetapi it is okay, saya tidur selama 2 hari setelah sampai KL karena rasanya lelah sekali.

Jadi laparaskopi yang saya lakukan selain mengambil miom juga mengangkat rahim yang mengalami penebalan, hasil lab menyatakan berat total produk yang diambil seberat 350 gram, miomnya sih kecil juga. Dan hasil lab alhamdullilah dinyatakan tidak mengandung keganasan. Ini pertama kali saya melakukan laparaskopi, dan saya merasa it was awsome, baik dokter, perawat, dan teknologi, tentu yang tidak kalah penting kemudahan ini bisa terjadi atas kehendak Allah. Terima kasih juga untuk suami yang selalu menunggu ketika aku dirumah sakit, taking care trio ketika uti dan yangti belum datang, dan selalu kena cerewetku tiap sakit. Uti dan yangti yang selalu perhatian, sodara dan teman yang selalu mensupport. Terima kasih juga untuk doa-doanya.

Setelah laparaskopi, saya tidak mengalami pendarahan lagi, padahal sebelumnya selalu pendarahan dan saya sempat tranfusi darah karena HB rendah menyentuh 5. Jadi laparaskopi is not that scary, sementara ini solve my endometrium problem, im so happy with the result. Oya, saya laparaskopi dengan asuransi BPJS, meskipun ada penambahan biaya karena naik kelas, but still BPJS is awsome too. Thank you.

Berikut adalah penampakan video laparoscopic hysterectomy, tapi ini sudah menggunakan robot yah, setidaknya begitulah gambarannya. Banyak video sih, tapi saya suka yang ini, so enhance, oya, saya juga dapat flasdisk proses laparaskopy juga, tetapi untuk sementara belum bisa di share.