Blood Transfusion

Tranfusi darah adalah aktivitas yang akan saya tulis paling akhir jika terkait medical procedure. Tetapi dua bulan lalu, tepatnya 28 Agustus 2019, ketika saya di vonis HB tinggal 5, badan lemas tidak berdata, jalan 50 meter berasa naik gunung berat dan nafas ngos-ngosan, akhirnya saya pasrah untuk dilakukan blood transfusion. Okay, kembali ke empat bulan sebelum blood transfusion, apa yang terjadi? berawal dari bulan puasa minggu kedua, saya mulai haid/menstruasi, seminggu pertama saya anggap normal jika haid belum berhenti, memasuki minggu kedua mulailah saya bertanya-tanya, ada apa ini kenapa masih haid juga, googling tapi belum terarah sehingga saya tidak berasumsi. H-1 lebaran, saya nekad ke UGD RSUD Sidoarjo feels like home hospital hahahha karena klinik banyak yang tutup. Saya diminta ke lantai 2, dan disana diperiksa oleh dokter jaga sepertinya PPDS obgyn, dan di USG seems no problem, kemudian saya diberi vitamin dan tambah darah.

Seminggu setelah lebaran, saya kembali ke dokter SpOG untuk periksa lebih lanjut, alhmadullilah sudah pada buka. Setelah diperiksa diketahui ada miom, sekitar 2.5 cm, itu yang menyebabkan pendarahan, akhirnya saya diberi 4 macam obat (hormonal tapi lupa judulnya, ingetnya mahal saja hahaha). Dokter juga menyarankan untuk makan yang sehat dan olahraga. Setelah dari dokter kemudian haid berhenti, namun tidak lama, paling 2 minggu, kemudian tibalah masa haid, dan seperti biasa lebih dari seminggu, sekitar 2-3 minggu. demikian hingga lama kelamaan saya sering merasa cepat capek, terutama ketika jalan kaki, sering ngantuk,  teman-teman jug abilang saya sangat pucat, dan akhir agustus saya cek ke psukesmas dan test darah ternyata HP tinggal 5 (omg, padahal nomalnya minimal 11 untuk wanita dewasa). Kemudian saya dirujuk ke RSUD ke obgyn, untuk tindakan lebih lanjut. Hari itu sabtu, dan pas ketika tiba di rumah sakit praktek obgyn masih buka, saya langsung konsultasi dan dokter bilang untuk tranfusi hari itu juga, Akhirnya saya pesan kamar dari kelas I saya naik kelas VIP (biasanya anak-anak ikut kemping di rumah sakit).

Dokter memberikan 3 pax darah, yang diinjek selama 2 hari (transfusi darah dilakukan bertahap dan terdapat interval waktu dari kantong pertama ke kedua, dst). Setelah di cek, HB baru naik jadi 9, kemudian ditambah lagi 2 pax, dan tentu saja saya extend sehari di rumah sakit. Ngeri, itu yang saya rasakan ketika melihat darah dari kantong pindah ke tangan saya, but is there any other choice? Anak pertama dan kedua saya juga pernah mendapat tranfusi darah karena HB rendah. Rasanya ketika darah masuk ke tangan, agak ngilu yah, terutama jika jarum infus sudah 3 hari berada di tangan yang sama. I dont like that feeling, jadi ngat para vampire yang butuh darah dengan meminum haha. Alhamdullilah, HB akhirnya naik menjadi 11, dan ketika cek untuk persiapan operasi laparaskopi HB tetap stabil 11, im so happy.

Setelah tranfusi, badan sudah setrong and kuat jalan keliling rumah sakit tanpa ngos-ngosan. Dan ketika di USG, miom masih ada, malah bertambah menjadi beberapa, jadi tranfusi bukan jalan keluar untuk masalah endometrium, karena akar masalah masih ada, dokter sempat menyarankan angkat rahim tapi pada saat itu saya masih menolak, jika angkat miom saja dikhawatirkan akan muncul kembali dikemudian hari. Akhirnya saya putuskan untuk mencari beberapa opini terkait masalah ini. dan hasilnya bisa dilihat di posting saya terkait operasi laparaskopy histerectomy.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: