Category Archives: family

Save traditional market: pasar ikan sidoarjo

Suatu pagi di hari minggu, ketika matahari mulai menampakkan sinarnya, saya dan keluarga pergi berbelanja ke pasar ikan sidoarjo. Anak-anak agak kaget juga karena mereka belum pernah ke pasar ikan before. Ok, bulatkan tekad untuk their first experience. Kenapa memilih pasar ikan? Hal ini bermula ketika trio mulai doyan ikan, terutama ikan bakar kecap dan ikan filet goreng tepung. Seringkali, ketika beli ikan dapat yang kurang fresh bahkan kadang sudah berbau (fyi, saya kurang suka bau amis ikan).

Pasar ikan sidoarjo berlokasi di jalan lingkar timur. Kalau dari kota (alun-alun) bisa masuk melalui bluru kidul, kemudian ikuti jalan tersebut ke arah timur hingga menemui lampu merah lingkar timur dan belok kanan. Kurang lebih 200 meter sebelah kiri jalan, nah itulah pasarnya. Saat itu nyampe pasar pukul 07.30 pagi, masih lumayan rame dan masih banyak ikan yang digelar.

tongkol

tongkol

ikan-ikan laut

ikan-ikan laut

Pasarnya tidak terlalu besar, ada lahan parkir yang luas, bangunan untuk menjual ikan dengan skala besar. Di bagian timut terdapat bangunan semi indoor, nah disitulah tempat penjual ikan eceran yang pembelinya banyakan dari kalangan rumah tangga. Untuk kebersihan pasar ikan, saya rasa masih kurang, meskipun lantai berkeramik namun air es sisa pembeku ikan masih membanjiri lantai, bahkan anak-anak tidak mau masuk ke pasar karena air yang menggenang dan bau amis khas pasar ikan.

fresh mujair

fresh mujair

Ikan apa yang ada disana? Wow, plenty. Mulai ikan air tawar, payau, dan asin kumpul semua. Fokus pagi itu cari mujaer nila untuk di bakar kecap, dan gurame untuk asam manis. Saya sempat panik karena ikannya banyak sekalii dan so fresh (beberapa jenis ikan masih hidup). Soal harga? Wah jangan ditanya, mujair nila ukuran sedang-besar 25 ribu/kg, gurame 30 ribu/kg, kalau masih hidup dan berenang di air 32 ribu/kg, fresh tongkol 30 ribu/kg, dorang 60 ribu/kg, baracuda 40 ribu/kg, patin 19000/kg,  udang, cumi, kerang, semua ada dan so fresh n cheaper. Haha jadi kayak penjual ikan yang hapal harga-harga, sungguh surga ikan segar dan menggiurkan untuk segera dimasak.

 

Advertisements

Serunya Exploring Gili Labak dengan Balita

Banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi dengan seluruh keluarga (baca dengan balita) dan pergi ke tempat baru memang sangat menyenangkan sekaligus menantang. Liburan kali ini merupakan wisata alam (pulau) pertama kali bagi keke (7), adam (4.5), tetya (2.5), dan kita mengajak tante leon. Kenapa memilih wisata alam (pulau dan pantai)? yah karena Indonesia kaya akan pesona alamnya, dan anak-anak harus mulai mengenali kekayaan Indonesia yang satu ini. Nah, tugasnya jatuh pada ortu-nya yang harus mengenalkan kekayaan alam ini, dimana sebelumnya liburan hanya ke mall, taman bermain, atau wahana wisata buatan lainnya. Untuk pengalaman pertama ini saya pilihkan liburan ke pulau terpencil di ujung pulau Madura, yakni Gili Labak. Memang sebelum diputuskan kesana saya sudah mendatangi Gili Labak  beberapa bulan sebelumnya, dan saya puas dengan pemandangan yang tersaji, serta fasilitas pendukung yang ada disana, pantai pasir putih yang bersih terhampar, ombak yang tidak terlalu besar cenderung tenang, air jernih sebening kaca, karang cantik, ikan-ikan kecil di pinggir pantai, pohon-pohon rindang di sekitar pulau, dan ada warung penjual makanan dan minuman yang siap mengisi perut kita, toilet yang bersih, dan tidak banyak pengunjung pulau. Wow, serasa pulau milik sendiri….hehe. Namun, ada yang masih mengganjal, yakni perjalanan dari Sidoarjo ke Gili Labak yang sangat menantang bagi orang dewasa, apalagi anak-anak sempat menciutkan nyali untuk pergi.

Akhirnya setelah diskusi dengan suami bahwa liburan bulan desember 2016 kita akan ke pantai Gili Labak, dan membulatkan tekad kalau anak-anak pasti bisa meski sempat ragu-ragu juga tapi ketika wacana ini dilemparkan ke anak-anak sebulan sebelum berangkat dan mereka sangat excited, akhirnya OK, kita pasti bisa.

Kita pergi memang menggunakan jasa tour Arthenis tour yang membuka paket open trip untuk wisata Gili Labak pada tanggal 24-25 Desember 2016, dengan harga 280.000 / orang, anak-di bawah 5 tahun kena 50%, sedangkan 2,5 tahun free of charge. Karena membawa anak-anak saya memang sengaja ikut open trip untuk memudahkan perjalanan.

Pre-Departure

Seminggu sebelum keberangkatan, beberapa masalah muncul, hal yang saya takutkan selama ini datang juga. Bagiamana jika hari H anak-anak sakit? Ternyata H-9 kakak demam karena kecapaian, tapi dengan obat turun panas dan istirahat selama 2 hari akhirnya sehat. Selang 2 hari, si bungsi kena sariawan di sekujur mulut dan lidah disertai demam, tidak mau makan dan minum, sempat panik juga sih tapi dapat obat dari dokter dan obat sariawan juga (gentin violet) rekom dari teman yang seorang dokter juga dan saya banyakin minum teh krisanthemum (yang ini herbal) yang katanya bisa meredakan sariawan dan panas dalam (hanya teh itu yang mau masuk), dan di hari ke 3 nafsu makan adek teta sudah mulai muncul dan berangsur membaik. Tidak sampai disitu, H-5 mas adam juga demam dan batuk pilek, diberi turun panas juga tidak membaik bahkan cenderung konstan panasnya, akhirnya dapat antibiotik dari dokter dan alhamdullilah sehat pada H-2, dimana pada hari itu si adek demam lagi dan batuk pilek, OMG apakah anak-anak nggak boleh liburan? Hingga jum’at sore masih hangat, dan sekali lagi saya merasa lega karena jum’at malam adek sudah mulai dingin dan sabtu juga sudah ceria.

Departure

Meeting point tur ini di stasiun Gubeng pukul 23.30 malam dan berangkat pukul 24.00, hehe hanya saya yang membawa anak-anak ke Gii Labak, yang lain para ABG. Barang bawaan kami sungguh heboh untuk trip satu hari, yakni ransel isi baju ganti untuk 5 orang, ransel untuk dompet, hp, sunblok, obat-obatan, tas isi sandtoys, dan tas isi baju renang, serta satu tas kecil untuk susu ( 2 anak minum susu cair, di bungsu sufor). Paket gili labak tur juga termasuk dengan snorking, dan Gili Labak terkenal dengan salah spot snorkling yang ramah bagi pemula.

Perjalanan dari Surabaya ke Sumenep lewat Suramadu ditempuh hanya dengan 3.5 jam, kalau siang hari bisa 4-5 jam. Sampai di pelabuhan Tanjung Sumenep pukul 03.30, dipelabuhan terdapat musholla, toilet, dan beberapa warung kecil, serta penyewaan kapal menuju pulau-pulau termasuk Gili Labak dan Gili Genting. Tepat pukul 5 pagi kita memasuki kapal, menurut pemilik kapal, kapasitas kapal maksimal 70 penumpang, namun kalo saya lihat 40 orang saja sudah crowded. Untuk sewa kapal dengan kapasitas 40 orang ini seharga 1 Juta Rupiah untuk perjalanan PP ke Gili Labak, jadi sebaiknya perginya rombongan. Anak-anak sangat excited naik kapal kecil ini, serasa dekat dengan laut dan bisa memandang laut lepas dari jendela, tetapi karena capek di perjalanan anak-anakpun tertidur di kapal. Dari pelabuhan Tanjung ke Gili Labak memakan waktu 1.5-2 jam tergantung angin dan ombak laut. Waktu terbaik untuk berangkat adalah bulan Mei, dan tidak direkomendasikan pergi ke Gili Labak di bulan Agustus karena angin dan ombak yang cukup besar. Disarankan berangkat pagi hari dimana laut masih tenang sehingga kapal tidak begitu terasa goyangannya.

Tetap ceria meski hampir 2 jam di atas kapal

Tetap ceria meski hampir 2 jam di atas kapal

Gili labak here we come

Setelah terombang ambing selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya sampai juga di Pulau yang hanya berpenghuni 15 KK ini. Hamparan pasir putih menyambut kami di pagi hari yang cerah, rasa lelah, bosan terbayarkan dengan deburan ombak pantai yang ramah, pasir putih yang lembut dan air laut yang menyegarkan. Gili Labak belum memiliki pelabuhan (masih dalam tahap pembangunan), sehingga kita langsung turun ke bibir pantai menggunakan tangga kayu yang disediakan oleh pemilik kapal. Hari ini kita cukup beruntung, karena kapal bisa merapat hingga ke bibir pantai, padahal 3 bulan sebelumnya saya harus jalan kaki sejauh 50-100 meter dari bibir pantai dengan kedalaman air sepinggang untuk mencapai pantai. Jadi sebaiknya kenakan baju renang langsung ketika di kapal atau sebelum masuk kapal untuk memudahkan kita ketika menuju pulau.

Just landed dari kapal langsung main air pantai

Just landed dari kapal langsung main air pantai

Anak-anak langsung berhamburan menuju pantai dan mulai mengesplor pasir dengan mainannya. Pasir putihnya bersih dari sampah maupun limbah, sehingga sangat bersahabat untuk anak-anak. Mereka seakan lupa perjalanan darat 3.5 jam, dan kapal laut 1.5 jam, rasa kantuk, capek, dan bosan sudah hilang digantikan dengan tawa ceria, bahkan mereka tidak mau diajak pulang.

Pasir putih dan air jernih pantai gili labak

Pasir putih dan air jernih pantai gili labak

Happy busy balita

Happy busy balita

Si adek nggak ketinggalan action

Si adek nggak ketinggalan action

Mengenalkan alam kepada anak sangat penting, menunjukkan bahwa Indoensia sangat kaya akan tempat wisata yang indah, mengajarkan anak untuk bersyukur juga bahwa ciptaan Allah yang maha indah ini masih bisa kita nikmati, dan harus dijaga. Namun sayang, menejelang siang saya sudah menemui beberapa sampah bungkus makanan dan plastik yang berserakan di pantai, jumlahnya tidak banyak hanya 2-5 bungkus tetapi itu sangat mengganggu dan membuktikan bahwa kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan masih kurang. Saya membayangkan ketika pelabuhan sudah terbangun, wisatawan (tidak bertanggung jawab) makin banyak (ramai) sampah juga pasti bertambah, dan keindahan pantai pun bisa berkurang.

Pasir putih nan halus

Pasir putih nan halus

Bagian belakang pulau

Bagian belakang pulau

Tante leon in action, sisi lain gili labak

Tante leon in action, sisi lain gili labak

Hello all...warm welcome from gili labak

Hello all…warm welcome from gili labak

Beautiful bright morning, tante leon dan peserta open trip

Beautiful bright morning, tante leon dan peserta open trip

Beautiful morning

Beautiful morning

Puas bermain pasir, waktunya snorkling, lokasi snorkling tidak jauh dari bibir pantai kurang lebih kita berpindah tempat 100 meteran dari tepi pantai masih dengan menggunakan kapal. Spot ini ramai jika musim liburan, disana terhampar karang dan berbagai jenis ikan hias beraneka warna. Keke, adam, dan tetya tidak berani turun ikut snorkling, jadi yang snorkling hanya mami dan tante leon. Ayah juga masih belum berani hehehe, jadi nungguin di atas kapal sambil teriak-teriak. Tante leon hanya sebentar karena jarinya terluka tergores tali kapal (kasihan tante leon). Snorkling memang belum cocok untuk anak-anak, tapi view disekitar lokasi snorkling sangat cantik.

View underwater

Underwater View

Ikan beraneka warna

Ikan beraneka warna

More and more fishes

More and more fishes

Gili genting

Kurang lebih kita menghabiskan waktu selama 1 jam di spot snorkling sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan dan pindah ke pulau gili genting yang populer dengan pantai sembilan. Dari gili labak ke gili genting memakan waktu satu jam, sekali lagi anak-anak tertidur di kapal. Mereka kenyang makan mie cup yang dijual di warung gili labak seharga 7000 per cup, dan kelapa muda seharga 10000/biji, sungguh nikmat.

Kelapa muda minuman wajib di gili labak

Kelapa muda minuman wajib di gili labak

Sampai di gili genting, kita tidak turun dipelabuhan namun turun langsung dibibir pantai menggunakan tangga. Yes, anak-anak langsung mengeksplorasi pantai, pasir, dan bermain hingga puas, tanpa menghiraukan panas terik (mungkin mereka pede setelah dioles banana boat spf 50) matahari pukul 13.00.  kurang lebih satu jam kita di gili genting.

Salah satu spot di gili genting (pantai sembilan)

Salah satu spot di gili genting (pantai sembilan)

Icon pulau sembilan

Icon pulau sembilan

Playing sand at pantai sembilan

Playing sand at pantai sembilan

Gili genting lebih besar dari gili labak, lebih menyerupai kampung nelayan, lebih ramai, dan banyak penjual makanan. Pantai sembilan yang menjadi ikon gili genting saat itu tidak terlihat (airnya surut, dan menyisakan gundukan pasir). Overall, gili labak is the best.

Menikmati pemandangan laut dari kapal

Menikmati pemandangan laut dari kapal

 

Goodbyeeee

Jam 2 siang mulai meninggalkan gili genting menuju pelabuhan tanjung, total waktu 30 menit. Disini tetya duduk di ujung kapal, mas adam di buritan, merasakan hembusan angin laut yang tidak setiap hari bisa dirasakan. Setelah sampai dipelabuhan, kita istirahat dan bersih-bersih diri dan makan siang. Tepat pukul 16.00 kita melanjutkan perjalanan pulang ke surabaya. See you on the next trip.

Tips:

*Sunblock adalah benda wajib yang harus dipake ketika ke pantai, kita pake banana boat spf 50 aloe vera, dan terbukti bebas sunburn dan belang. Padahal saya mengolesnya tidak setiap jam (capek juga mengoles 4 orang dengan sb setiap jam).

*Topi lebar dan kacamata, tapi anak-anak suka susah pake topi dan kacamata.

*Minyak kayu putih, wajib oles sering-sering karena anak-anak basah dan kena angin dalam waktu yang lama.

*Plaster handyplast, banyak karang yang bisa melukai, serta pasir yang tajam.

*Cemilan??? Dijamin anak-anak pasti lupa makan saking gembiranya.

*Air putih, yah banyakin minum air putih agar tidak dehidrasi.

 

Welcome to this world tertia…

Tidak pernah terpikir olehku, jika tahun 2014 aku akan diberi karunia terindah titipan allah sekali lagi. Yah, menurutku kevin dan adam sudah cukup membuat rumah kecil kita dipenuhi kebahagiaan, tetapi tuhan punya rencana lain bagi keluarga kita. Kamis, 27 maret, lahirlah seorang bayi mungil yang cantik dan finally kita panggil tertia (tetya). Sama dengan kedua kakaknya, tetya juga terlahir by SC, dan karena sudah dua kali menjalani SC, yang ketiga ini alhamdullilah lebih lancar dan recovery lebih cepat, bahkan tetya sempat IMD meski hanya sebentar. Sekarang baby tetya berumur 6 hari dan sudah menjadi baby yang sehat dan kuat minum ASI-nya. Tidak ada kata yang terucap selain, thanks to allah for this gift and for tetya, selamat datang di dunia yang indah ini, we will always welcome you with arms wide open. love, mama-ayah-kevin-adam…

1st day of 2013

This is a special post, now is 1 of January 2013, the new beginning. Honestly, everyday/month/year is the same, they all special if we can manage and use it wisely. Yesterday we (my big family) were celebrating new year eve in Pacet (Pacet is a highland, mountain area 15 km south of Mojosari). In fact that we don’t have special celebration for new year, but this year was different, my parent bought a small ‘villa’ in Pacet and they invite all relatives to join in their house.

The story begin with the gathering of my mother’s big family in Pacet, as usual, no gathering without food, food, and food. We ate set of tumpeng nasi kuning, many snacks, crackers, and fruits. We had a lot of fun out there, taking pictures in the chili field and when the afternoon comes, the mist was fall covering the houses and surrounding. So beautiful and cold end of December. When the night comes, the house was filled with guesses and laughing when they shared a funny stories.

What about me? I came to the house around 1 pm with my two wonderful children, kevin and adam, and my husband and mother in law. But, my daughter was upset because she like to swim on the pool but it was raining so we only set up a inflatable pool for her in the yard, I hope that will make her happy (but she didn’t), after she swam in the ‘pool’ she was really upset (not comfortable meeting many new people), and she asked her father to go home. Finally, around 4 pm, my husband and my daughter went back to SIdoarjo. Me and the little boy stay on Pacet and celebrates the new year with the rest of the familly, there were around 20 people who stayed until midnite. Happy New Year 2013…

23390_185100684964552_33782565_n

Rasanya OMG

Masih sekitar melahirkan by SC, mau share sedikit tentang pasca melahirkan SC. Flash back sebelum memilih SC untuk kelahiran anak keduaku, aku banyak baca2 blog dan informasi seputar SC v normal, banyak wanita (baca calon ibu) yang menghindari SC, entah apa alasannya, dan itu sempat membuatku galau. Dalam hati mikir, apa kalo melahirkan lewat SC bukan ibu sejati? bahkan banyak yang nekad melahirkan normal meski dokter bilang SC, atau ada resiko2, tetap maksa. Dan banyak juga yang men-judge si dSOG pro SC, and many more. Bagiku, SC is one of the best choice bagi wanita yang paranoid kayak aku. Tapi aku memilih SC bukan tanpa alasan medis sama sekali, yang pertama karena pre-eclamsi, dan anak yang kedua air ketuban sudah habis, kedua alasan tersebut sudah cukup memantapkan hatiku untuk SC meski tetap deg2an juga.
ok back to the story, karena ini SC keduaku, aku masih sedikit ingat tentang proses before and after SC. Yah seperti biasa, aku di bawa keruang operasi, yang kebtulan ada di lantai 2, ganti baju dan pake selimut…ruangannya dingin brrr, dan waktu SC kedua aku tidak mengantuk sama sekali, sehingga proses setelah operasi sampai dibawah ruang pemulihan aku masih terjaga (kalo yang pertama, aku sdh terkantuk2 hehe). Di ruang pemulihan ada beberapa ‘teman’ yang sama habis SC dengan keluhan yang berbeda, ada yang terkena pre-eclamsi, sampai ada yang bukaannya ga nambah2.
Loh katanya back to story? aku merasa so far so good, berada di ruang pemulihan dari jam 5.30an sore hingga 10 pagi keesokan harinya. Selama diruang pemulihan, aku nggak ngapa2in yah intinya boring, krn keluarga nggak boleh masuk, no self phone, hanya tv tanpa suara yang menemani, sama suara mesin2 yang nempel dibadan para pasien yang berbunyi bikin tambah stress. Kucoba gerakkan jempol kaki, oh sudah bergerak, berarti pengaruh obat bius sudah mulai hilang, kuangkat kaki, well masih belum bisa, nunggu 2-3 jam pasca operasi kayaknya baru bisa, jam 9an malam, kucoba gerakkan kaki, horee sudah mulai bergerak tapi masih berat. Tengah malam, aku sudah angkat kaki cari posisi enak biar nggak capek, tapi buat miring masih takut, takut sakit hehe. Ya sudah miring akan dilath besok pagi2 saja. Betul saja, jam 5 pagi para perawat sudah beraksi, yup kita dibangunin dan diseka sekujur badan dan artinya harus miring juga, miring kanan dan kiri. Alamaaak kok yah sakit, ayo latihan miring kata sang perawat…duh, sambil pegangan ranjang yah aku berusaha buat miring dan berhasil…yeah.
Jam 10 siang aku dipindahkan keruangan, wah my family were there and waiting. Hore, aku akhirnya pindah ke kamar dan bisa ngobrol2, tapi ketika dikamar kepala agak terasa pusing, bahkan mual (aku sudah membayangkan, what happen yak, apa ini efek obat bius?, karena semalem ada pasien yang pusing2 hampir muntah karena kena efek obat biusnya). Tapi atas perintah dokter, aku boleh makan apa saja siang itu, dan sore hari boleh lepas infus dan kateter…horeyyyy. Ternyata setelah makan dan istirahat (stop ngomong) pusingku berangsur reda. Oya, dokter juga bilang, latihan miring ajah dulu, baru tar sore boleh duduk dan latihan jalan (dalam hati aku bilang, apa mungkin?) ditambah suami bilang tar sore langsung jenguk baby dan kasih asi (dalam hati, apa aku bisa jalan, mbayangin sakitnya ajah OMG).
Sore, infus sudah dilepas, oya kutanya dokter kenapa nunggu 24 jam baru boleh duduk dan jalan? dikatakan bahwa sisa2 obat bius masih ada kalo sebelum 24 jam, dan jika dipaksa duduk bisa mengakibatkan tekanan darah turun. ok deh lanjut lagi, sore pun tiba, waktunya latihan duduk, yah karena aku sudah pernah di sesar sebelumnya, aku bisa membayangkan bagian2 mana saja yang sakit dan gerakan apa saja yang menyebabkan sakit (kurasa setiap gerakan akan menimbulkan rasa sakit), awalnya latihan duduk di ranjang, butuh waktu yang lama menggerakkan badan, krn hampir banyak gerakan memerlukan otot perut, dan parahnya tiap gerakan pasti membuat perut menegang dan itu imbasnya ke jahitan yang masih basah (kurasa), awwww….
setelah bisa duduk, aku berusaha menurunkan kaki dari tempat tidur, jadi posisi duduk ditepi ranjang, saatnya untuk berdiri…aku sempat menimbang2 berdiri, nggak, berdiri, nggak…tapi suami tetep support, aku ditunggu hingga siap berdiri meski sambil terbungkuk2 akhirnya aku bisa berdiri tegak dibantu suami. Setelah itu latihan jalan, karena aku harus menyusui baby, jadi harus bisa duduk dan berjalan, dont ask me how does it feel, aku jalan sambil memegang (baca menekan) perut untuk mengurangi rasa sakit plus mengurangi imaginasiku bahwa kalo jalan jahitan serasa akan lepas hehe…
yup, kurleb dalam 26 jam dari SC, aku harus bersusah payah untuk berjalan, dari tempat tidur ke kursi roda menuju ruang bayi (bayi di inkubator dan di infus glukosa), dari pintu ruang bayi menuju ruang anakku, meski beberapa langkah tetep rasanya OMG. Malam itu, pertama kali aku menyusui anakku adam, setelah 26 jam lebih adam tidak minum (karena adam bayi ASI), dan menurut dokter bayi yang baru lahir bisa bertahan 3 hari tanpa makan dan minum. ALhamdullilah, ASI-ku bisa langsung keluar, ini jauh beda dengan anak pertama, yang ASI baru keluar pada hari ketiga, dulu juga RS nggak suport ASIX. Adam langsung bisa ngenyot kuat2…wow, bayi 2,3 tapi daya hisapnya sudah kuat, senangnya…hampir 1 jam aku diruang bayi, meski perut cenut2 tapi aku nunggu sampe adam puas minum.
Jadi sehari aku bolak-balik kamar ku ke kamar bayi buat kasih ASI, dan selama itu pula aku ngerasain sakit ketika gerak bahkan pada hari ketiga dan keempat (aku nginep di RS 4 hari). Ini yang aneh, padahal SC pertama, di hari ke tiga aku sudah ok jalannya, ini masih sakit, bahkan hari ke-4, juga demikian, sehingga di rumah aku makin menderita karena perut belum ok, ngurus 2 anak pula…

bersambung di jahitan SC berdarah

Kevin vs Adam

Kalo dilihat dari judulnya, itu bukan ngajak berantem, kevin dan adam adalah nama dua my little babes. Yup kevin si kakak sudah berumur 3 tahun dan adam sang adek yang newborn. disini hanya mau sharing proses lahirnya kedua mia bello bambini, kevin dan adam sama-sama lahir melalui SC, itu persamaan yang pertama. Kevin menjalani SC karena aku didiagnosa kena pre-eclamsi tingkat tinggi pada week 36, karena kandungan protein dalam urin sudah banyak, meskipun air ketuban masih banyak dan jernih. Pre-eclamsiku ini terdeteksi tanpa sengaja, waktu akan berangkat kekantor, pagi2 aku sempetin ke dsog, ternyata alhamdullilah pagi itu aku ke dokter, dan dokter menyarankan aku untuk bed-rest, yang akhirnya ketika menuju ke hospital aku harus memilih 2 pilihan nggak enak, SC atau induksi krn baby harus cepat dilahirkan. Kalo adam, sama dilahirkan pada week 36/37, ada gejala pre-eclamsi tapi masih tingkat ringan, cuma ketika diUSG, ketuban sudah sangat sedikitt, dan bb bayi kok menyusut, trus aku sudah ada flek2 gitu ya sudah ketika dokter decide harus SC, aku sih ok2 ajah…
Berat badan bayi, kevin 2 ons lebih berat dari adeknya, 2,5kg, kurasa itu bayi paling mungil dan lucu, ketika lahir sakit kuning (karena kurang ASI/minum), nggak dijemur juga hehe…akhirnya bolak-balik ke dsa plus beleken dimata sebelah kiri.Adam, dengan berat 2,3 kg yo sangat mungil juga, cuma adam baby ASI, krn sejak awal memang inisitif kasih full ASI, kevin juga full ASI cuma hari 1-3 dikasih sufor di rumah sakit. Adam waktu lahir kurang gula dan harus masuk inkubator dan di infus, adam juga beleken dimata sebelah kiri…
Dspog, niatnya make dokter yang sama antara kevin dan dan adam, tapi apa daya, takdir berkata lain, setelah periksa ke dspog yang sama dengan kevin, tapi pas hari H lahiran si dokter ternyata lagi holiday (memang janjian SC seminggu lebih lama dari jadwal lahiran), tapi kalo lahir smua bisa terjadi tanpa prediksi…
Rumah sakit kevin dan adam sama, di rumah sakit daerah sidoarjo, di pavilyun juga, cuma pavilyun adam satu kelas dibawah kevin karena memang ruangan penuh saat itu, jadi yah yang ada ajah dibooking, tapi tetep private kok.
What else…yah itulah sekelumit kisah antara kevin si sulung dan adam si bungsu…dua baby yang selalu bikin ramai rumah kita…

welcome to this world child…

Mengurus passport tanpa perantara? siapa takut?

Kebetulan masa berlaku passport suami sudah habis bulan Mei lalu, dan memang pertengahan juni ini mau ada rencana ke kuala lumpur, jadi harus pake passport. Karena ada pengalaman ketika mengurus passport pake jasa pihak ketiga (travel agent) tahun lalu dan hasilnya tidak sebanding dengan harganya. Waktu itu harus bayar Rp.600.000 untuk 1 passport yang jadinya sekitar 3 harian, selain itu yang bikin ga puas ternyata kita (waktu itu rombongan kantor) harus antri mulai jam 1-5 sore untuk foto dan interview. Pengalaman lain yah 5 tahun lalu waktu bikin passport suami (semua dilakukan sendiri juga) waktu itu prosesnya saja 2 hari full day ngendon di imigrasi plus kesel, ngumpat2 hehe, keringeten (panas), dan campur aduk deh…karena waktu itu memang orang awam seringkali kena serobot sama si pencari jasa tadi yang jumlahnya banyak dan biasanya sudah kenal para petugas.

Back to tanggal 10 juni kemaren, tanggal 7 juni upload seluruh dokumen pendukung pembuatan passport secara online, antara lain KTP, KK, Akte kelahiran, passport lama. Tentu saja semuanya harus di scan dulu, setelah seluruh syarat selse di upload dan form elektronik diisi maka kita diminta memilih jadwal appoinment, waktu itu saya daftar online hari selasa dan bikin appoinment hari jum’at (karena rabu-kamis full kerja). Hari jum’at pagi jam 7.25 sudah berangkat dan nyampe imigrasi jam 7.50, parkiran imigrasi Surabaya sudah diberi palang ‘PARKIR PENUH’ kalo bawa motor sepertinya masih banyak spot kososng dalam imigrasi. Untuk yang bawa mobil parkiran disekitar imigrasi surabaya cukup banyak, karena ada 2 gedung disebelah utara kantor imigrasi yang dijadikan lahan parkir, yang bayar Rp. 3000 flat rate.

Kantor imigrasi buka jam 8.00 tetapi ruang tunggu sudah dibuka, dan sudah ramai. Langsung kita masuk area pelayanan yang khusus untuk pemohon yang telah melakukan pre-registrasi secara online bisa langsung menuju loket 2 (disana ada tulisan ‘pendaftaran online’ kalo ga salah). Eh tetapi meskipun sudah mendaftar secara online tetapi itu saja tidak cukup. Selain harus datang pagi-pagi (sebelum jam 8, kita juga harus mengisi formulir permohonan passport dalam map hijau, yang dijual di loket khusus, dan ini saya punya pengalama menyebalkan karena petugas sangat ketus dan kurang menyenangkan (tapi yah maklum karena rutinitas yang sama bertahun2 bisa bikin orang stress) dan kita harus membeli formulir tersebut seharga Rp. 10.000). Kita antri depan loket 2 jadi antrian yang pertama, dan jam 8 tepat loket dibuka tetapi sayangnya, syarat-syarat (disana kita harus menyerahkan dokumen asli serta kopinya) kita di tolak karena foto kopi dari dokumen-dokumen yang kita berikan kurang jelas dan kita harus meng-kopi lagi di kopearsi imigrasi…hmmm harus sabaaaaaar (ujian pertama nih).

Selesai fotokopi, kita masukkan lagi berkan ke antrian (saat itu sudah jam 8.30), setelah hampir 30 menanti dipanggil akhirnya nama kita dipanggil dan ternyata saya belum mengisi form data diri (yang mana form tersebut sama persis dengan versi online), saya jelas ajah berang, tetapi si petugas bilang kita ga usah antri lagi, dan form tersebut bida diambil secara gratis di meja CS depan pintu masuk ruang layanan. Damn, isiannya lumayan banyak sih, selse, saya serahkan sambil saya komplen karena form itu sudah saya isi secara online dan sama percis, jawaban petugas sih sante banget kalo form yang aku isi itu fungsinya cuma sebagai arsip saja (hah?? ga salah?, bukannya bisa buka database yang aku sudah isikan secara online?)…

finally kita harus menunggu depan loket 4, untuk membayar (hore cepat, dalam hati aku sidah seneng), ternyata? untuk membayar kita perlu no antrian membayar, dan untuk mendapatkan no antrian kita harus nunggu untuk dipanggil di loket 5 (ohhh aku mulai goyah, mulai berfikir, mending lewat calo kayaknya). dari loket 2 antri ke loket 5 nunggu 30 menitan, dari loket 5 (no antrian) ke loket 4 (pembayaran) nunggu 30 menit. dapat no 121, dan saat itu sudah jam 9.30an, bayar sih cepet, setelah bayar (bayar 255 ribu) kita bisa antri foto. Jam 11 tepat, antrian foto sudah sampe ke no antian 95, dan guess what??kantor imigrasi tutup dari jam 11-13.00. Iyah sih kita harus solat jum’at, tetapi menutup seluruuuuuuuuuuh layanan dan membiarkan kita terlantar disana-oh my…

Finally kita putuskan untuk ke kampus (karena saya ada kuliah jam 13.00), nanti selepas sholat jum’at suami bisa antri foto sendiri disana. Dengan asumsi, antrian terkahir no 95, dan suami no 121, masih jauh, berangkat jam 13.00 cukuplah….teryata ketika nyampe disana jam 1.30 antrian sudah masuk ke no 128, hmm untung masih boleh foto, kalo tidak maka apa yang sudah kita lakukan seharian tadi dianggap hangus dan kita harus mulai dari awal. Foto selse, interview beres dan dikasih tahu waktu pengambilan hari kamis minggu berikutnya…..

Tips n triks

1. Mendaftar via online jauh lebih baik daripada manual, karena disana ada jadwal appoinment dan antriannya cukup sedikit dibanding loket pendaftaran manual yang puanjang banget.

2. Pastikan semua dokumen sudah discan sesuai permintaan, dan pada hari appoinment siapkan dokumen asli serta fotokopi (harus jelas) dan bawa form appointment. Jika hari appoinment tidak muncul maka dianggap batal dan harus daftar secara online lagi.

3. Beli dan isi form di imigrasi, jgn pernah punya anggapan kalo sudah dilakukan secara online kita ga perlu nulis2 lagi, karena kita tetap harus isi form kayak pendaftar manual.

4. Datang lebih awal (kalo bisa 5 menit sebelum loket buka) makin pagi makin baik, karena meskipun diloket awal tidak antri tetapi ketika membayar dan foto semua pendaftar digabung jadi satu, so online dan manual ga ada bedanya.

5. kalo bawa baby, kalo bisa ga usah ikut dulu deh, kecuali kalo sdh antri mau foto baru dibawa. tetapi ingat, seluruh aktivitas pendaftran harus dilakukan pada hari itu juga, mulai cek dokumen sampai foto, so kalo ga selse dianggap batal.

6. Total waktu yang diperlukan dari daftar pertama sampe foto dan interview kurang lebih antara 3-4 jam (kalo online) manual bisa lebih lama lagi.

 

d