Category Archives: health

Blood Transfusion

Tranfusi darah adalah aktivitas yang akan saya tulis paling akhir jika terkait medical procedure. Tetapi dua bulan lalu, tepatnya 28 Agustus 2019, ketika saya di vonis HB tinggal 5, badan lemas tidak berdata, jalan 50 meter berasa naik gunung berat dan nafas ngos-ngosan, akhirnya saya pasrah untuk dilakukan blood transfusion. Okay, kembali ke empat bulan sebelum blood transfusion, apa yang terjadi? berawal dari bulan puasa minggu kedua, saya mulai haid/menstruasi, seminggu pertama saya anggap normal jika haid belum berhenti, memasuki minggu kedua mulailah saya bertanya-tanya, ada apa ini kenapa masih haid juga, googling tapi belum terarah sehingga saya tidak berasumsi. H-1 lebaran, saya nekad ke UGD RSUD Sidoarjo feels like home hospital hahahha karena klinik banyak yang tutup. Saya diminta ke lantai 2, dan disana diperiksa oleh dokter jaga sepertinya PPDS obgyn, dan di USG seems no problem, kemudian saya diberi vitamin dan tambah darah.

Seminggu setelah lebaran, saya kembali ke dokter SpOG untuk periksa lebih lanjut, alhmadullilah sudah pada buka. Setelah diperiksa diketahui ada miom, sekitar 2.5 cm, itu yang menyebabkan pendarahan, akhirnya saya diberi 4 macam obat (hormonal tapi lupa judulnya, ingetnya mahal saja hahaha). Dokter juga menyarankan untuk makan yang sehat dan olahraga. Setelah dari dokter kemudian haid berhenti, namun tidak lama, paling 2 minggu, kemudian tibalah masa haid, dan seperti biasa lebih dari seminggu, sekitar 2-3 minggu. demikian hingga lama kelamaan saya sering merasa cepat capek, terutama ketika jalan kaki, sering ngantuk,  teman-teman jug abilang saya sangat pucat, dan akhir agustus saya cek ke psukesmas dan test darah ternyata HP tinggal 5 (omg, padahal nomalnya minimal 11 untuk wanita dewasa). Kemudian saya dirujuk ke RSUD ke obgyn, untuk tindakan lebih lanjut. Hari itu sabtu, dan pas ketika tiba di rumah sakit praktek obgyn masih buka, saya langsung konsultasi dan dokter bilang untuk tranfusi hari itu juga, Akhirnya saya pesan kamar dari kelas I saya naik kelas VIP (biasanya anak-anak ikut kemping di rumah sakit).

Dokter memberikan 3 pax darah, yang diinjek selama 2 hari (transfusi darah dilakukan bertahap dan terdapat interval waktu dari kantong pertama ke kedua, dst). Setelah di cek, HB baru naik jadi 9, kemudian ditambah lagi 2 pax, dan tentu saja saya extend sehari di rumah sakit. Ngeri, itu yang saya rasakan ketika melihat darah dari kantong pindah ke tangan saya, but is there any other choice? Anak pertama dan kedua saya juga pernah mendapat tranfusi darah karena HB rendah. Rasanya ketika darah masuk ke tangan, agak ngilu yah, terutama jika jarum infus sudah 3 hari berada di tangan yang sama. I dont like that feeling, jadi ngat para vampire yang butuh darah dengan meminum haha. Alhamdullilah, HB akhirnya naik menjadi 11, dan ketika cek untuk persiapan operasi laparaskopi HB tetap stabil 11, im so happy.

Setelah tranfusi, badan sudah setrong and kuat jalan keliling rumah sakit tanpa ngos-ngosan. Dan ketika di USG, miom masih ada, malah bertambah menjadi beberapa, jadi tranfusi bukan jalan keluar untuk masalah endometrium, karena akar masalah masih ada, dokter sempat menyarankan angkat rahim tapi pada saat itu saya masih menolak, jika angkat miom saja dikhawatirkan akan muncul kembali dikemudian hari. Akhirnya saya putuskan untuk mencari beberapa opini terkait masalah ini. dan hasilnya bisa dilihat di posting saya terkait operasi laparaskopy histerectomy.

Laparaskopi Endometrium, is that scary as we think??

Tidak pernah terpikir olehku bahwa di usia 41 tahun kurang 4 hari aku mendapat hadiah spesial, yakni terbaring dimeja operasi (untuk kesekian kali). Jika sebelumnya adalah tindakan operasi yang dinanti-nanti (sesar/cesar), tapi yang ini sungguh berbeda. Keputusan untuk melakukan laparaskopi memang sangat singkat, hanya butuh waktu 3 hari untuk menentukan hari dan jam operasi. Mengapa demikian? cerita dibalik keputusan operasi itulah yang cukup panjang dan melelahkan. Hari rabu, 30 Oktober 2019, aku dapat semester break kuliah, dan langsung pulang ke Surabaya, niatnya sampe rumah langsung periksa dokter SpOg, tetapai apadaya, badan rasanya capek setelah perjalanan jauh (KL-SUB hanya 2.45 menit) tapi persiapan sebelum ke bandara hingga kerumah butuh waktu lebih panjang dari perjalanan udara. Baiklah aku memutuskan untuk pergi ke dokter keesokan malamnya. Selama ini aku masih mengkonsumsi sunolut untuk menghambat haid, obat ini diresepin SpOg ketika di sunway medical center, Kuala Lumpur (cerita soal sunway terpisah).

Datang ke SpOg juga butuh perjuangan (mungkin makin banyak yah jumlah wanita hamil), harus antri panjang. Ok, tibalah giliranku dipanggil masuk ke ruang periksa, seperti ruang periksa kebanyakan SpOG, disana ada meja konsultasi, kasur untuk periksa dan alat ultrasound (USG) plus monitor. Sebelum diperiksa, dokter menanyakan masalah yang aku alami (fyi, ini adalah dokter pertama aku dan membantu persalinan anak pertama dan konsul hamil anak kedua). Gini dok, terakhir kali saya periksa waktu itu didiagnosa terdapat penebalan endometrium sekitar 1.6 cm, dan keesokan harinya saya harus terbang ke Kuala Lumpur untuk study, seminggu kemudian saya menstruasi dan minggu kedua menstruasi saya periksa ke SpOG di Kuala Lumpur, disana saya juga di USG dan hasil menunjukkan ada penebalan kurang lebih sama dengan waktu diperiksa di Indoensia. Akhirnya dokter di Sunway menyarankan pada saya untuk melakukan tindakan biopsy (kuret) sepulang saya di Indonesia, dan untuk menghentikan pendarahan dokter memberi saya sunolut untuk 2 minggu. Selanjutnya, dokter kemudian meminta aku untuk ke meja periksa dan melakukan USG di vagina (bukan di perut lagi) dan ternyata penebalan tidak berkurang malah bertambah menjadi 2.8 cm.

Ada opsi dari dokter untuk melakukan terapi hormon melalui injeksi yang dilakukan selama dua bulan sekali, injeksi dilakukan sebulan seklai untuk menipiskan endometrium tadi, selanjutnya akan dilakukan biopsy untuk melihat apakah penebalan tersebut mengandung sel berbahaya (ganas). Mendengar itu rasanya bikin dag dig dug, oya, selain ada penebalan dinding rahim aku juga memiliki miom (ukurannya lupa, karena fokus pada penebalan tersebut). Akupun bertanya, apa yang terjadi jika diketahui ada keganasan? dokter bilang angkat rahim. Pikiranku langsung menyambung angkat rahim berarti tidak bisa mens, berarti menopuse, jika menopuse berarti sudah tidak memiliki gairah seksual lagi (hihihi kok masih inget saja untuk urusan itu yah hahah). Dokter kemudian menjelaskan panjang lebar, bahwa yang diangkat hanya rahim, tetapi indung telur tetap ada. Kemudian, dokter bagaimana jika saya langsung operasi? (mengingat kesibukan kuliah di awal semester yang takutnya mengganggu proses terapi, saya juga sudah tidak bisa punya anak lagi karena setelah anak ketiga langsung di steril), setelah diskusi panjang lebar, akhirnya disepakati saya akan operasi, dan dokter memberi cek list medical cek up yang harus saya jalani keesokan harinya.

Malam hari aku puasa, sejak pukul 12 malam, paling hanya minum yah. Jam 9 pagi aku menuju parahita lab untuk cek darah lengkap, urine, thorax, dan eng ing eng HIV test. HIV test bikin saya nervous sampai tidak bisa tidur, kenapa? karena 2 bulan sebelumnya saya sempat transfusi darah sebanyak 5 pax. Meskipun ditulis bahwa darah dari donor sudah di screening dengan ketat, tetapi rasa deg-degan tetap ada. Malam hari hasil test jadi, dan alhamdullilah semua dalam kondisi ok, termasuk yang saya takutkan juga negatif. Besok malam, kontrol lagi ke dokter, dan dokter bilang semua normal, jadi bisa lanjut ke tindakan operasi. Kapan rencana operasi? haha saat itu rasanya speechless, I said as soon as posible karena tanggal 12 November saya harus kembali ke KL, dan saya ingin operasi yang cepat recoverynya sehingga saya bisa langsung beraktivitas. Akhirnya dipilih hari senin tanggal 4 November, dan tanggal 3 sore saya harus sudah masuk rumah sakit. I did medical procedure in RSUD Sidoarjo, my fave feel like home hospital (lebay)….dan tanggal 4 itu saya harus jemput pembicara konferensi di bandara juanda, ikut sebagai host gala dinner pra konference malam harinya, dan tanggal 5 jadi moderator plenary session dan invited speaker di international conference, tanggal 6 menjadi PIC workshop smartPLS. Semua saya cancel mendadak karena operasi ini, dan mohon maaf yah teman-teman.

Senin pagi, habis subuh aku sudah mandi, keramas, bab, dan tetap masih puasa. Jadi setiap mau operasi inginnya menyiapkan diri semaksimal mungkin, karena itu akan mempengaruhi after match haha. Pukul 9 pagi, tidak disangka my best fellow come to visit yey…so happy mereka menyempatkan diri untuk menengokku disela-sela kesibukan departemen yang super crowded. Pukul 9.30 perawat sudah datang untuk membawa aku ke ruang operasi, diikuti oleh suami dan dua kolega tersayang. Kita berpisah di pintu ruang operasi. Selama di ruang tunggu, aku sudah tiduran, sekitar pukul 10 dokter SpOG datang to talk n make a confirmation about the procedure, I agree. Selanjutnya aku dibawa masuk ke ruang operasi, tidak asing dengan ruangan operasi (sudah 3 kali operasi sesar di rumah sakit yang sama), dingin, bersih, banyak alat-alat, dan ada beberapa perawat yang selalu ngajak bercanda (biar aku nggak nervous). Kemudian, dokter anestesi datang dan talk for a while, tapi aku sudah baca dan mendapat konfirmasi mengenai jenis bius yang akan aku dapatkan, yes bius umum or bius total.

Okay, aku sempat tanya pukul berapa sebelum disuktik bius melalui selang infus, kayaknya sekitar pukul 10 pagi, setelah disuntik, saya sempat bertanya kapan saya mulai tidak sadar? saya masih dengar jawaban 3 menit, tapi kenyataannya, itu adalah kata-kata terakhir yang saya dengan di ruang operasi hahahhaha….oya sebelum dibius perawat bilang saya akan dipasang kateter, alat bantu nafas, dan selang yang dimasukkan melalui hidung ke lambung, tapi semua alat tersebut dipasang setelah saya tidak sadar (alhamdullilah jadi tidak merasa ngilu).

Dingin, itu yang aku rasakan ketika pertama kali membuka mata di ruang pemulihan, langsung mataku berputar keseluruh ruangan, mencari jam, karena penasaran, sudah berapa lama aku tertidur. Ternyata jam menunjukkan pukul 15an, masih belum 15.30, but not so sure 15 lebih berapa. sambil merintih memanggil mbak perawat to warn them that I wake up, I said i feel cold (padahal sudah ada 3 selimut haha) kemudian saya dikasih lampu penghangat (so warm), but penderitaan belum dimulai sepenuhnya, punggung dan kaki terasa capek, saya pengen miring tapi perut masih agak ngilu. Sepertinya capek tersebt karena aku ada diposisi telentang dalam waktu yang lama. Ketika aku raba perut, oh terdapat 4 buah plaster kecil-kecil, berarti ada 4 lobang yang telah dibuat. Aku tidak merasa pusing, mual dan yang lain-lain alhamdullilah, berarti persiapan pra operasi sudah ok (puasa), padahal sebelum masuk rumah sakit sempat makan richeese level 5, yang akhirnya ga bisa habis karena super spicy.

Satu jam kemudian, aku dipindahkan ke ruang rawat inap, aku bisa pindah sendiri dari bed satu ke lainnya (ini yang nggak bisa aku lakukan ketika operasi sesar), kemudian perawat membawa ke ruang rawat inap sambil tetap merasa ngantuk. Di ruangan ternyata tidak ada orang, anak-anak sedang dikirim pulang, mama juga istirahat pulang ke rumah, dan pas saya bisa lanjut tidur sore itu hingga waktu magrib. Tenggorokan agak kering, seperti ada dahak tapi tidak bisa keluar, but its not disturb me a lot, yang mengganggu adalah kateter hahaha, memang aku masih belum boleh turun dari bed, jadi yah still lying down dan menunggu benar-benar pulih. Habis magrib semua pada datang, anak-anak, mama, suami, adik-adek, ponakan, ramenya, karena laparaskopi hanya meinggalkan luka kecil, jadi aku tidak merasa sakit sama sekali, so nice, jadi tetap bisa bercanda dan tetap bisa ganti-ganti posisi.

Saya diijinkan pulang dua hari kemudian karena ada obat yang harus disuntikkan mellaui infus seperti antibiotik dan pereda nyeri. Kateter dilepas sehari setelah operasi, it was nice. Setelah pulang, kontrol lagi seminggu kemudian. 4 hari setelah operasi saya harus pergi keluar kota, Garut tepatnya dengan kerata api PP, memang acara ini sudah kita agendakan jauh hari, disana kita melakukan kunjungan kekeluargaan ke rumah suami adek bungsu kita, alhamdullilah selama perjalanan lancar termasuk luka operasi saya, dan tidak ada rasa sakit yang kentara, yang aku hindari selama seminggu adalah mengangkat beban berat, yang lainnya normal saja, jalan, duduk, jongkok, mandi, makan semoa normal. 8 hari setelah operasi saya kembali ke KL, meski capek selama perjalanan tetapi it is okay, saya tidur selama 2 hari setelah sampai KL karena rasanya lelah sekali.

Jadi laparaskopi yang saya lakukan selain mengambil miom juga mengangkat rahim yang mengalami penebalan, hasil lab menyatakan berat total produk yang diambil seberat 350 gram, miomnya sih kecil juga. Dan hasil lab alhamdullilah dinyatakan tidak mengandung keganasan. Ini pertama kali saya melakukan laparaskopi, dan saya merasa it was awsome, baik dokter, perawat, dan teknologi, tentu yang tidak kalah penting kemudahan ini bisa terjadi atas kehendak Allah. Terima kasih juga untuk suami yang selalu menunggu ketika aku dirumah sakit, taking care trio ketika uti dan yangti belum datang, dan selalu kena cerewetku tiap sakit. Uti dan yangti yang selalu perhatian, sodara dan teman yang selalu mensupport. Terima kasih juga untuk doa-doanya.

Setelah laparaskopi, saya tidak mengalami pendarahan lagi, padahal sebelumnya selalu pendarahan dan saya sempat tranfusi darah karena HB rendah menyentuh 5. Jadi laparaskopi is not that scary, sementara ini solve my endometrium problem, im so happy with the result. Oya, saya laparaskopi dengan asuransi BPJS, meskipun ada penambahan biaya karena naik kelas, but still BPJS is awsome too. Thank you.

Berikut adalah penampakan video laparoscopic hysterectomy, tapi ini sudah menggunakan robot yah, setidaknya begitulah gambarannya. Banyak video sih, tapi saya suka yang ini, so enhance, oya, saya juga dapat flasdisk proses laparaskopy juga, tetapi untuk sementara belum bisa di share.

 

 

 

Swimming Club di Sidoarjo

Kolam Renang GOR sidoarjo, bersih bukan?

Hello sporty people, sekarang banyak orang yang beralih ke healthy life, salah satunya dengan berolahraga rutin. Banyak pilihan olahraga yang bisa diikuti, salah satunya berenang. Berenamg bisa diikuti semua orang, termasuk anak-anak. Namun idealnya mulai umur 5 tahun, dimana anak sudah mengerti instruksi. Banyak manfaat berenang bagi anak-anak mulai untuk melatih keberanian dan kemandirian, meningkatkan percaya diri anak, dan melatih motorik kasar.

Ikut club adalah salah satu cara untuk mengenalkan olahraga, karena di club ini anak-anak bisa bersosialisasi bersama teman sebaya. Club renang di disidoarjo ada 2, yaitu sidoarjo aqiatic club dan delta swiming club. Homebase keduanya di kolam renang GOR sidoarjo.

Sebetulnya banyak yang tanya, club atau private lesson? Keduanya ada plus minusnya. Kalo private sudah jelas waktu latihan fleksibel, tetapi bayar lebih mahal. Kalau club, jam latihan sudah ditentukan, jumlah pelatih lebih banyak, dan biaya lebih murah.

Club renang di sidoarjo memiliki jadwal latihan pada jam 17.00-19.00, jadi setelah jam operasional kolam renang tutup. Untuk SAC jadwal latihan hari selasa, kamis, sabtu, minggu. Sedangkan untuk DSC latihan pada hari senin, rabu, jumat. Untuk jam latihan seperti di atas.

Ikut club memang lebih ekonomis dan anak-anak bisa bebas berlatih tanpa terganggu peserta umum. Ingin berenang dengan 4 gaya juga sangat memungkinkan dengan ikut club, demikian juga melatih anak menjadi atlet renang. Biaya pendaftaran club 50 ribu, ditambah iuran per bulan 120 ribu dan kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tiket karena latihannya pada saat jam tutup.

Berminat ikut club? Berikut kontak salah satu club renang.

SAC, kolam renang GOR sidoarjo, phone 8963102, 8953043, 082230609040.

Pojok kolam tempat siswa latihan nunggu antrian nyebur

Menunggu giliran

Kolam untuk anak-anak

Kolam untuk baby 🙂

Jahitan SC berdarah

Hari ke 5 pagi hari, waktu ngaca aku ngelihat rembesan darah warna hitam di plester anti air-ku, panik dan takut kalo2 jahitan lepas, pagi itu juga aku back to RS dan kontrol ke dokter yg SC aku, eh ternyata dokter lagi keluar kota seminggu, akhirnya aku minta dokter spog siapa saja yg ada saat itu. Hasilnya, ternyata ada genangan darah dibalik kulit yang dijahit, dan darah itu yang bikin aku susah jalan (sakit oiy) so harus dikeluarin melalui sela-sela jahitan, hampir 1 jam jahitanku dipencet2 agar darah yang sudah menghitam dan sebagian sudah bentuk gumpalan dipaksa keluar, sumpah banyak banget (kata suamiku yang melihat), trus setelah hampir habis jahitan ditutup pake plester, dan tada ternyata aku bisa jalan lebih enak, ringan, dan nggak sakit lagi.
Apa selesai sampe disitu? ternyata tidak, jadi sisa2 darah yang masih terperangkap masih ada dan keluar sedikit demi sedikit, jadi dalam hitungan jam perban yang kupake (bukan yang anti air) pun tembus bahkan sampe ke celana, akhirnya keesokan harinya balik ke RS buat ganti perban dan bersiin darah (sekali dua kali pencet darah sudah habis), diperban lagi, dan suamiku inisiatif buat beli perlengkapan DIY merawat luka yang mengeluarkan darah, seperti kasa steril, alkohol, dan plester, itu setelah melihat perawat yang menganti perbanku yang ternyata yah sesimpel merawat luka. Pertimbangannya krn luka jahitku masih terus mengeluarkan darah (sedikit tapi pasti) dan kita males bolak-balik RS, makanya tiap bocor perban kita ganti sendiri.
KOntrol hari ke 9, masih mengeluarkan darah meski sudah jauh berkurang tapi belum kering, jalan sudah enak sudah nggak sakit, cuma yah itu tadi, darah masih keluar meski warnanya sudah mulai terang (kecokatan/coklat muda).
Hari ke 11, aku kontrol ke dokter yang SC aku, disana aku keluarkan semua keluhanku soal jahitan yang tak kunjung kering, ketika diperiksa:
me: dok, ini jahitan mengeluarkan daah terus
dok: coba saya lihat, hmmm ini sih gpp, jahitan sdh bagus, tinggal dikit sudah nutup semua
me: tapi dok, kok keluar terus darahnya, kenapa
dok: yah ada pembuluh darah yang putus sehingga darah keluar dan terperangkap dibawha kulit (kurlep yg kutangkap spt itu) dan akan kering kalo darah (baca cairan) sdh keluar semua
dok: makanya rajin2 pencet2 (lubang) jahitan pas mandi biar cepet habis, nggak usah pake perban, mandi ajah seperti biasa, luka disabun ajah pake sabun antiseptic (lifeboy atau detto), trus selse itu dioles salep yah.
me: hah? mandi dok? dipakein sabun?gpp?
dok: gpp, biar cepet sembuh, jgn lupa makan protein hewani (telur, daging, ayam), makan yang banyak
me: telur dok?
dok: iyah
me: ok, thanks dok
Hari ke 12, pagi, aku mandi, jahitan aku bersiin pake air mengalir (tapi msh lum berani bersiin pake sabun), habis itu aku keringin dan pake salep trus yah sudah (pura2 jahitan is fine), tetapi yang terjadi adalah darah (cairan) masih keluar dan tembus ke celana, nah karena aku agak ga nyaman, akhirnya aku tetep pake kasa tapi nggak di plester, jd ditempel saja, kl kasa sudah coklat diganti, sehingga nggak cepat tembus ke celana.
Hari ke 16, kontrol lagi ke dokter karena tiba2 kalo jalan kok kerasa nyeri, ternyata ketika diperiksa, pak dokter bilang aku krg rajin pencet2 cairan agar keluar, ternyata setelah dikeluari jalan jd enteng, jadi aku makin rajin ajah keluarin cairannya, dan aku nggak tau pasti akhirnya cairan yang keluar dari sela2 jahitan berkurang dan habis. Hari ke 27 waktu kontrol, cairan sudah habis dan luka sudah nutup semua (kering), alhamdullilah semua sdh berakhir, padahal aku sudah snagat panik soalnya tuh darah hampir 23 harian keluar terus, meski akhirnya habis dan jahitan kelihatan seperti sedia kala, cantik.
so, ingat kata dsog-ku, yang panik cukup dokternya ajah hehe…

Rasanya OMG

Masih sekitar melahirkan by SC, mau share sedikit tentang pasca melahirkan SC. Flash back sebelum memilih SC untuk kelahiran anak keduaku, aku banyak baca2 blog dan informasi seputar SC v normal, banyak wanita (baca calon ibu) yang menghindari SC, entah apa alasannya, dan itu sempat membuatku galau. Dalam hati mikir, apa kalo melahirkan lewat SC bukan ibu sejati? bahkan banyak yang nekad melahirkan normal meski dokter bilang SC, atau ada resiko2, tetap maksa. Dan banyak juga yang men-judge si dSOG pro SC, and many more. Bagiku, SC is one of the best choice bagi wanita yang paranoid kayak aku. Tapi aku memilih SC bukan tanpa alasan medis sama sekali, yang pertama karena pre-eclamsi, dan anak yang kedua air ketuban sudah habis, kedua alasan tersebut sudah cukup memantapkan hatiku untuk SC meski tetap deg2an juga.
ok back to the story, karena ini SC keduaku, aku masih sedikit ingat tentang proses before and after SC. Yah seperti biasa, aku di bawa keruang operasi, yang kebtulan ada di lantai 2, ganti baju dan pake selimut…ruangannya dingin brrr, dan waktu SC kedua aku tidak mengantuk sama sekali, sehingga proses setelah operasi sampai dibawah ruang pemulihan aku masih terjaga (kalo yang pertama, aku sdh terkantuk2 hehe). Di ruang pemulihan ada beberapa ‘teman’ yang sama habis SC dengan keluhan yang berbeda, ada yang terkena pre-eclamsi, sampai ada yang bukaannya ga nambah2.
Loh katanya back to story? aku merasa so far so good, berada di ruang pemulihan dari jam 5.30an sore hingga 10 pagi keesokan harinya. Selama diruang pemulihan, aku nggak ngapa2in yah intinya boring, krn keluarga nggak boleh masuk, no self phone, hanya tv tanpa suara yang menemani, sama suara mesin2 yang nempel dibadan para pasien yang berbunyi bikin tambah stress. Kucoba gerakkan jempol kaki, oh sudah bergerak, berarti pengaruh obat bius sudah mulai hilang, kuangkat kaki, well masih belum bisa, nunggu 2-3 jam pasca operasi kayaknya baru bisa, jam 9an malam, kucoba gerakkan kaki, horee sudah mulai bergerak tapi masih berat. Tengah malam, aku sudah angkat kaki cari posisi enak biar nggak capek, tapi buat miring masih takut, takut sakit hehe. Ya sudah miring akan dilath besok pagi2 saja. Betul saja, jam 5 pagi para perawat sudah beraksi, yup kita dibangunin dan diseka sekujur badan dan artinya harus miring juga, miring kanan dan kiri. Alamaaak kok yah sakit, ayo latihan miring kata sang perawat…duh, sambil pegangan ranjang yah aku berusaha buat miring dan berhasil…yeah.
Jam 10 siang aku dipindahkan keruangan, wah my family were there and waiting. Hore, aku akhirnya pindah ke kamar dan bisa ngobrol2, tapi ketika dikamar kepala agak terasa pusing, bahkan mual (aku sudah membayangkan, what happen yak, apa ini efek obat bius?, karena semalem ada pasien yang pusing2 hampir muntah karena kena efek obat biusnya). Tapi atas perintah dokter, aku boleh makan apa saja siang itu, dan sore hari boleh lepas infus dan kateter…horeyyyy. Ternyata setelah makan dan istirahat (stop ngomong) pusingku berangsur reda. Oya, dokter juga bilang, latihan miring ajah dulu, baru tar sore boleh duduk dan latihan jalan (dalam hati aku bilang, apa mungkin?) ditambah suami bilang tar sore langsung jenguk baby dan kasih asi (dalam hati, apa aku bisa jalan, mbayangin sakitnya ajah OMG).
Sore, infus sudah dilepas, oya kutanya dokter kenapa nunggu 24 jam baru boleh duduk dan jalan? dikatakan bahwa sisa2 obat bius masih ada kalo sebelum 24 jam, dan jika dipaksa duduk bisa mengakibatkan tekanan darah turun. ok deh lanjut lagi, sore pun tiba, waktunya latihan duduk, yah karena aku sudah pernah di sesar sebelumnya, aku bisa membayangkan bagian2 mana saja yang sakit dan gerakan apa saja yang menyebabkan sakit (kurasa setiap gerakan akan menimbulkan rasa sakit), awalnya latihan duduk di ranjang, butuh waktu yang lama menggerakkan badan, krn hampir banyak gerakan memerlukan otot perut, dan parahnya tiap gerakan pasti membuat perut menegang dan itu imbasnya ke jahitan yang masih basah (kurasa), awwww….
setelah bisa duduk, aku berusaha menurunkan kaki dari tempat tidur, jadi posisi duduk ditepi ranjang, saatnya untuk berdiri…aku sempat menimbang2 berdiri, nggak, berdiri, nggak…tapi suami tetep support, aku ditunggu hingga siap berdiri meski sambil terbungkuk2 akhirnya aku bisa berdiri tegak dibantu suami. Setelah itu latihan jalan, karena aku harus menyusui baby, jadi harus bisa duduk dan berjalan, dont ask me how does it feel, aku jalan sambil memegang (baca menekan) perut untuk mengurangi rasa sakit plus mengurangi imaginasiku bahwa kalo jalan jahitan serasa akan lepas hehe…
yup, kurleb dalam 26 jam dari SC, aku harus bersusah payah untuk berjalan, dari tempat tidur ke kursi roda menuju ruang bayi (bayi di inkubator dan di infus glukosa), dari pintu ruang bayi menuju ruang anakku, meski beberapa langkah tetep rasanya OMG. Malam itu, pertama kali aku menyusui anakku adam, setelah 26 jam lebih adam tidak minum (karena adam bayi ASI), dan menurut dokter bayi yang baru lahir bisa bertahan 3 hari tanpa makan dan minum. ALhamdullilah, ASI-ku bisa langsung keluar, ini jauh beda dengan anak pertama, yang ASI baru keluar pada hari ketiga, dulu juga RS nggak suport ASIX. Adam langsung bisa ngenyot kuat2…wow, bayi 2,3 tapi daya hisapnya sudah kuat, senangnya…hampir 1 jam aku diruang bayi, meski perut cenut2 tapi aku nunggu sampe adam puas minum.
Jadi sehari aku bolak-balik kamar ku ke kamar bayi buat kasih ASI, dan selama itu pula aku ngerasain sakit ketika gerak bahkan pada hari ketiga dan keempat (aku nginep di RS 4 hari). Ini yang aneh, padahal SC pertama, di hari ke tiga aku sudah ok jalannya, ini masih sakit, bahkan hari ke-4, juga demikian, sehingga di rumah aku makin menderita karena perut belum ok, ngurus 2 anak pula…

bersambung di jahitan SC berdarah

Just water please…

siapa sih yang nggak butuh air?? terutama air minum, air putih, pure water, mineral water, natural water, aqua, apalah sebutannya, yang pasti kalo air putih tuh harusnya seger, tawar, ga berbau, ga berbuih (istilahnya kok aneh-aneh). nah begitu pula sebagaian orang, banyak yang milih air putih sebagai minuman favorit, meskipun ada yang ga doyan tapi pastilah dalam sehari minum yang namanya air putih. pengalaman selama di boras ketika pertama kali masuk hotel, lihat sekeliling ga ada yang namanya air putih, jadi belum minum. sore-sore keluar ke macdonald buat beli makan malam, pas ditanya minumnya??kujawab water, natural water. dan ternyata dalam tas kertasnya yang guede, ada sekaleng air putih dingin. awalnya aku ga yakin kalo itu air putih, tapi yah sudahlah, mungkin yang jual ga denger or ga ngerti bahasaku.

nyampe dikamar, karena kehausan aku buka kaleng..cezzzz, wah mulai curiga neh, mana ada air putih berbunyi kayak coca cola, dan ternyata pas diminum….alamaaaak….ini sih air putih pake soda. sudah ga ada rasanya, bersoda pula. jadilah ilfil minum, tapi karena ga ada lagi, besok paginya aku minum juga tuh air krn sodanya sudah hilang.

pagi-pagi pergi ke satelite meeting, disana sudah berkerumun para peserta, dan pas ditanya soal air, ternyata mereka coomplain juga soal air ini, semua bilang yaikss…(alias ga enak). nah kejadian  lucu, pas di acara registrasi disediain complementary drink, semua pada berlari pada botol mirip aqua warna biru tulisan mineral water, semua sudah ambil satu-satu dan ternyata pas di buka, ceezzzzz….huaaaa semua ketawa ngakak, karena ketemu lagi sama air yang sama.

ternyata setelah ditelusur, disini memang tidak jual air putih kemasan, entah kenapa tapi pernah ada berita kalo dengan tidak menjual air kemasan juga salah satu cara mencintai lingkungan, dan disini orang-orangnya memang eco-friendly. jadi kalo air putih, mungkin cukup pake tab water ajah, tapi itu dia, water fountain tuh jarang banget hampir ga pernah ketemu, sama sekali termasuk di githenburg. so yang kita inginkan hanya, air putih biasa, just water pleaseeeee….

High vs low impact exercise

Those terms are very familiar in exercise environment. Some people chose low impact exercise because they don’t want to push their heart to working hard, some people like high impact to burn more calories. The question is, what the low and high impact exercise is? and what are the benefits for the body?

When you feet leave the ground simultaneously during exercise, that’s called high impact exercise. The exercise that categories as a high impact are running, jumping jack, jumping rope, some aerobics also categories as high impact when the movement consists of running and jumping. High impact exercise is very powerful for fat burning and weight lost program, help strengthen the bones and improve endurance. High impact exercise is not suitable for people with joint injury, osteoporosis, overweight, new beginner exercise, and other medical problem.

Low impact exercise is slow movement, easy and light exercise. Low impact exercise don’t need hard movement intensity. With low impact exercise people still can burn calories and lose weight, because you can still work out and develop strength. The examples of low impact exercise are aquatic including swimming, aquarobic, pilates, yoga, weight lifting. Most people who don’t like high impact exercise choose the low impact one because low impact it’s easier to do, and more refreshing. 

Which exercise that you like, it depend on your preferences, purposes why you doing exercise, and your health condition. For beginner, it is good to start with low impact exercise rather than straight to high impact one. Make your muscles, bones, and heart make adjustment in exercise environment, then increase the exercise intensity gradually. Once your body has adapts with the regular exercise you can start the high impact exercise without found any problem.