Category Archives: health

Swimming Club di Sidoarjo

Kolam Renang GOR sidoarjo, bersih bukan?

Hello sporty people, sekarang banyak orang yang beralih ke healthy life, salah satunya dengan berolahraga rutin. Banyak pilihan olahraga yang bisa diikuti, salah satunya berenang. Berenamg bisa diikuti semua orang, termasuk anak-anak. Namun idealnya mulai umur 5 tahun, dimana anak sudah mengerti instruksi. Banyak manfaat berenang bagi anak-anak mulai untuk melatih keberanian dan kemandirian, meningkatkan percaya diri anak, dan melatih motorik kasar.

Ikut club adalah salah satu cara untuk mengenalkan olahraga, karena di club ini anak-anak bisa bersosialisasi bersama teman sebaya. Club renang di disidoarjo ada 2, yaitu sidoarjo aqiatic club dan delta swiming club. Homebase keduanya di kolam renang GOR sidoarjo.

Sebetulnya banyak yang tanya, club atau private lesson? Keduanya ada plus minusnya. Kalo private sudah jelas waktu latihan fleksibel, tetapi bayar lebih mahal. Kalau club, jam latihan sudah ditentukan, jumlah pelatih lebih banyak, dan biaya lebih murah.

Club renang di sidoarjo memiliki jadwal latihan pada jam 17.00-19.00, jadi setelah jam operasional kolam renang tutup. Untuk SAC jadwal latihan hari selasa, kamis, sabtu, minggu. Sedangkan untuk DSC latihan pada hari senin, rabu, jumat. Untuk jam latihan seperti di atas.

Ikut club memang lebih ekonomis dan anak-anak bisa bebas berlatih tanpa terganggu peserta umum. Ingin berenang dengan 4 gaya juga sangat memungkinkan dengan ikut club, demikian juga melatih anak menjadi atlet renang. Biaya pendaftaran club 50 ribu, ditambah iuran per bulan 120 ribu dan kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tiket karena latihannya pada saat jam tutup.

Berminat ikut club? Berikut kontak salah satu club renang.

SAC, kolam renang GOR sidoarjo, phone 8963102, 8953043, 082230609040.

Pojok kolam tempat siswa latihan nunggu antrian nyebur

Menunggu giliran

Kolam untuk anak-anak

Kolam untuk baby ūüôā

Advertisements

Jahitan SC berdarah

Hari ke 5 pagi hari, waktu ngaca aku ngelihat rembesan darah warna hitam di plester anti air-ku, panik dan takut kalo2 jahitan lepas, pagi itu juga aku back to RS dan kontrol ke dokter yg SC aku, eh ternyata dokter lagi keluar kota seminggu, akhirnya aku minta dokter spog siapa saja yg ada saat itu. Hasilnya, ternyata ada genangan darah dibalik kulit yang dijahit, dan darah itu yang bikin aku susah jalan (sakit oiy) so harus dikeluarin melalui sela-sela jahitan, hampir 1 jam jahitanku dipencet2 agar darah yang sudah menghitam dan sebagian sudah bentuk gumpalan dipaksa keluar, sumpah banyak banget (kata suamiku yang melihat), trus setelah hampir habis jahitan ditutup pake plester, dan tada ternyata aku bisa jalan lebih enak, ringan, dan nggak sakit lagi.
Apa selesai sampe disitu? ternyata tidak, jadi sisa2 darah yang masih terperangkap masih ada dan keluar sedikit demi sedikit, jadi dalam hitungan jam perban yang kupake (bukan yang anti air) pun tembus bahkan sampe ke celana, akhirnya keesokan harinya balik ke RS buat ganti perban dan bersiin darah (sekali dua kali pencet darah sudah habis), diperban lagi, dan suamiku inisiatif buat beli perlengkapan DIY merawat luka yang mengeluarkan darah, seperti kasa steril, alkohol, dan plester, itu setelah melihat perawat yang menganti perbanku yang ternyata yah sesimpel merawat luka. Pertimbangannya krn luka jahitku masih terus mengeluarkan darah (sedikit tapi pasti) dan kita males bolak-balik RS, makanya tiap bocor perban kita ganti sendiri.
KOntrol hari ke 9, masih mengeluarkan darah meski sudah jauh berkurang tapi belum kering, jalan sudah enak sudah nggak sakit, cuma yah itu tadi, darah masih keluar meski warnanya sudah mulai terang (kecokatan/coklat muda).
Hari ke 11, aku kontrol ke dokter yang SC aku, disana aku keluarkan semua keluhanku soal jahitan yang tak kunjung kering, ketika diperiksa:
me: dok, ini jahitan mengeluarkan daah terus
dok: coba saya lihat, hmmm ini sih gpp, jahitan sdh bagus, tinggal dikit sudah nutup semua
me: tapi dok, kok keluar terus darahnya, kenapa
dok: yah ada pembuluh darah yang putus sehingga darah keluar dan terperangkap dibawha kulit (kurlep yg kutangkap spt itu) dan akan kering kalo darah (baca cairan) sdh keluar semua
dok: makanya rajin2 pencet2 (lubang) jahitan pas mandi biar cepet habis, nggak usah pake perban, mandi ajah seperti biasa, luka disabun ajah pake sabun antiseptic (lifeboy atau detto), trus selse itu dioles salep yah.
me: hah? mandi dok? dipakein sabun?gpp?
dok: gpp, biar cepet sembuh, jgn lupa makan protein hewani (telur, daging, ayam), makan yang banyak
me: telur dok?
dok: iyah
me: ok, thanks dok
Hari ke 12, pagi, aku mandi, jahitan aku bersiin pake air mengalir (tapi msh lum berani bersiin pake sabun), habis itu aku keringin dan pake salep trus yah sudah (pura2 jahitan is fine), tetapi yang terjadi adalah darah (cairan) masih keluar dan tembus ke celana, nah karena aku agak ga nyaman, akhirnya aku tetep pake kasa tapi nggak di plester, jd ditempel saja, kl kasa sudah coklat diganti, sehingga nggak cepat tembus ke celana.
Hari ke 16, kontrol lagi ke dokter karena tiba2 kalo jalan kok kerasa nyeri, ternyata ketika diperiksa, pak dokter bilang aku krg rajin pencet2 cairan agar keluar, ternyata setelah dikeluari jalan jd enteng, jadi aku makin rajin ajah keluarin cairannya, dan aku nggak tau pasti akhirnya cairan yang keluar dari sela2 jahitan berkurang dan habis. Hari ke 27 waktu kontrol, cairan sudah habis dan luka sudah nutup semua (kering), alhamdullilah semua sdh berakhir, padahal aku sudah snagat panik soalnya tuh darah hampir 23 harian keluar terus, meski akhirnya habis dan jahitan kelihatan seperti sedia kala, cantik.
so, ingat kata dsog-ku, yang panik cukup dokternya ajah hehe…

Rasanya OMG

Masih sekitar melahirkan by SC, mau share sedikit tentang pasca melahirkan SC. Flash back sebelum memilih SC untuk kelahiran anak keduaku, aku banyak baca2 blog dan informasi seputar SC v normal, banyak wanita (baca calon ibu) yang menghindari SC, entah apa alasannya, dan itu sempat membuatku galau. Dalam hati mikir, apa kalo melahirkan lewat SC bukan ibu sejati? bahkan banyak yang nekad melahirkan normal meski dokter bilang SC, atau ada resiko2, tetap maksa. Dan banyak juga yang men-judge si dSOG pro SC, and many more. Bagiku, SC is one of the best choice bagi wanita yang paranoid kayak aku. Tapi aku memilih SC bukan tanpa alasan medis sama sekali, yang pertama karena pre-eclamsi, dan anak yang kedua air ketuban sudah habis, kedua alasan tersebut sudah cukup memantapkan hatiku untuk SC meski tetap deg2an juga.
ok back to the story, karena ini SC keduaku, aku masih sedikit ingat tentang proses before and after SC. Yah seperti biasa, aku di bawa keruang operasi, yang kebtulan ada di lantai 2, ganti baju dan pake selimut…ruangannya dingin brrr, dan waktu SC kedua aku tidak mengantuk sama sekali, sehingga proses setelah operasi sampai dibawah ruang pemulihan aku masih terjaga (kalo yang pertama, aku sdh terkantuk2 hehe). Di ruang pemulihan ada beberapa ‘teman’ yang sama habis SC dengan keluhan yang berbeda, ada yang terkena pre-eclamsi, sampai ada yang bukaannya ga nambah2.
Loh katanya back to story? aku merasa so far so good, berada di ruang pemulihan dari jam 5.30an sore hingga 10 pagi keesokan harinya. Selama diruang pemulihan, aku nggak ngapa2in yah intinya boring, krn keluarga nggak boleh masuk, no self phone, hanya tv tanpa suara yang menemani, sama suara mesin2 yang nempel dibadan para pasien yang berbunyi bikin tambah stress. Kucoba gerakkan jempol kaki, oh sudah bergerak, berarti pengaruh obat bius sudah mulai hilang, kuangkat kaki, well masih belum bisa, nunggu 2-3 jam pasca operasi kayaknya baru bisa, jam 9an malam, kucoba gerakkan kaki, horee sudah mulai bergerak tapi masih berat. Tengah malam, aku sudah angkat kaki cari posisi enak biar nggak capek, tapi buat miring masih takut, takut sakit hehe. Ya sudah miring akan dilath besok pagi2 saja. Betul saja, jam 5 pagi para perawat sudah beraksi, yup kita dibangunin dan diseka sekujur badan dan artinya harus miring juga, miring kanan dan kiri. Alamaaak kok yah sakit, ayo latihan miring kata sang perawat…duh, sambil pegangan ranjang yah aku berusaha buat miring dan berhasil…yeah.
Jam 10 siang aku dipindahkan keruangan, wah my family were there and waiting. Hore, aku akhirnya pindah ke kamar dan bisa ngobrol2, tapi ketika dikamar kepala agak terasa pusing, bahkan mual (aku sudah membayangkan, what happen yak, apa ini efek obat bius?, karena semalem ada pasien yang pusing2 hampir muntah karena kena efek obat biusnya). Tapi atas perintah dokter, aku boleh makan apa saja siang itu, dan sore hari boleh lepas infus dan kateter…horeyyyy. Ternyata setelah makan dan istirahat (stop ngomong) pusingku berangsur reda. Oya, dokter juga bilang, latihan miring ajah dulu, baru tar sore boleh duduk dan latihan jalan (dalam hati aku bilang, apa mungkin?) ditambah suami bilang tar sore langsung jenguk baby dan kasih asi (dalam hati, apa aku bisa jalan, mbayangin sakitnya ajah OMG).
Sore, infus sudah dilepas, oya kutanya dokter kenapa nunggu 24 jam baru boleh duduk dan jalan? dikatakan bahwa sisa2 obat bius masih ada kalo sebelum 24 jam, dan jika dipaksa duduk bisa mengakibatkan tekanan darah turun. ok deh lanjut lagi, sore pun tiba, waktunya latihan duduk, yah karena aku sudah pernah di sesar sebelumnya, aku bisa membayangkan bagian2 mana saja yang sakit dan gerakan apa saja yang menyebabkan sakit (kurasa setiap gerakan akan menimbulkan rasa sakit), awalnya latihan duduk di ranjang, butuh waktu yang lama menggerakkan badan, krn hampir banyak gerakan memerlukan otot perut, dan parahnya tiap gerakan pasti membuat perut menegang dan itu imbasnya ke jahitan yang masih basah (kurasa), awwww….
setelah bisa duduk, aku berusaha menurunkan kaki dari tempat tidur, jadi posisi duduk ditepi ranjang, saatnya untuk berdiri…aku sempat menimbang2 berdiri, nggak, berdiri, nggak…tapi suami tetep support, aku ditunggu hingga siap berdiri meski sambil terbungkuk2 akhirnya aku bisa berdiri tegak dibantu suami. Setelah itu latihan jalan, karena aku harus menyusui baby, jadi harus bisa duduk dan berjalan, dont ask me how does it feel, aku jalan sambil memegang (baca menekan) perut untuk mengurangi rasa sakit plus mengurangi imaginasiku bahwa kalo jalan jahitan serasa akan lepas hehe…
yup, kurleb dalam 26 jam dari SC, aku harus bersusah payah untuk berjalan, dari tempat tidur ke kursi roda menuju ruang bayi (bayi di inkubator dan di infus glukosa), dari pintu ruang bayi menuju ruang anakku, meski beberapa langkah tetep rasanya OMG. Malam itu, pertama kali aku menyusui anakku adam, setelah 26 jam lebih adam tidak minum (karena adam bayi ASI), dan menurut dokter bayi yang baru lahir bisa bertahan 3 hari tanpa makan dan minum. ALhamdullilah, ASI-ku bisa langsung keluar, ini jauh beda dengan anak pertama, yang ASI baru keluar pada hari ketiga, dulu juga RS nggak suport ASIX. Adam langsung bisa ngenyot kuat2…wow, bayi 2,3 tapi daya hisapnya sudah kuat, senangnya…hampir 1 jam aku diruang bayi, meski perut cenut2 tapi aku nunggu sampe adam puas minum.
Jadi sehari aku bolak-balik kamar ku ke kamar bayi buat kasih ASI, dan selama itu pula aku ngerasain sakit ketika gerak bahkan pada hari ketiga dan keempat (aku nginep di RS 4 hari). Ini yang aneh, padahal SC pertama, di hari ke tiga aku sudah ok jalannya, ini masih sakit, bahkan hari ke-4, juga demikian, sehingga di rumah aku makin menderita karena perut belum ok, ngurus 2 anak pula…

bersambung di jahitan SC berdarah

Just water please…

siapa sih yang nggak butuh air?? terutama air minum, air putih, pure water, mineral water, natural water, aqua, apalah sebutannya, yang pasti kalo air putih tuh harusnya seger, tawar, ga berbau, ga berbuih (istilahnya kok aneh-aneh). nah begitu pula sebagaian orang, banyak yang milih air putih sebagai minuman favorit, meskipun ada yang ga doyan tapi pastilah dalam sehari minum yang namanya air putih. pengalaman selama di boras ketika pertama kali masuk hotel, lihat sekeliling ga ada yang namanya air putih, jadi belum minum. sore-sore keluar ke macdonald buat beli makan malam, pas ditanya minumnya??kujawab water, natural water. dan ternyata dalam tas kertasnya yang guede, ada sekaleng air putih dingin. awalnya aku ga yakin kalo itu air putih, tapi yah sudahlah, mungkin yang jual ga denger or ga ngerti bahasaku.

nyampe dikamar, karena kehausan aku buka kaleng..cezzzz, wah mulai curiga neh, mana ada air putih berbunyi kayak coca cola, dan ternyata pas diminum….alamaaaak….ini sih air putih pake soda. sudah ga ada rasanya, bersoda pula. jadilah ilfil minum, tapi karena ga ada lagi, besok paginya aku minum juga tuh air krn sodanya sudah hilang.

pagi-pagi pergi ke satelite meeting, disana sudah berkerumun para peserta, dan pas ditanya soal air, ternyata mereka coomplain juga soal air ini, semua bilang yaikss…(alias ga enak). nah kejadian¬† lucu, pas di acara registrasi disediain complementary drink, semua pada berlari pada botol mirip aqua warna biru tulisan mineral water, semua sudah ambil satu-satu dan ternyata pas di buka, ceezzzzz….huaaaa semua ketawa ngakak, karena ketemu lagi sama air yang sama.

ternyata setelah ditelusur, disini memang tidak jual air putih kemasan, entah kenapa tapi pernah ada berita kalo dengan tidak menjual air kemasan juga salah satu cara mencintai lingkungan, dan disini orang-orangnya memang eco-friendly. jadi kalo air putih, mungkin cukup pake tab water ajah, tapi itu dia, water fountain tuh jarang banget hampir ga pernah ketemu, sama sekali termasuk di githenburg. so yang kita inginkan hanya, air putih biasa, just water pleaseeeee….

High vs low impact exercise

Those terms are very familiar in exercise environment. Some people chose low impact exercise because they don’t want to push their heart to working hard, some people like high impact to burn more calories. The question is, what the low and high impact exercise is? and what are the benefits for the body?

When you feet leave the ground simultaneously during exercise, that’s called high impact exercise. The exercise that categories as a high impact are running, jumping jack, jumping rope, some aerobics also categories as high impact when the movement consists of running and jumping. High impact exercise is very powerful for fat burning and weight lost program, help strengthen the bones and improve endurance. High impact exercise is not suitable for people with joint injury, osteoporosis, overweight, new beginner exercise, and other medical problem.

Low impact exercise is slow movement, easy and light exercise. Low impact exercise don’t need hard movement intensity. With low impact exercise people still can burn calories and lose weight, because you can still work out and develop strength. The examples of low impact exercise are aquatic including swimming, aquarobic, pilates, yoga, weight lifting. Most people who don’t like high impact exercise choose the low impact one because low impact it’s easier to do, and more refreshing.¬†

Which exercise that you like, it depend on your preferences, purposes why you doing exercise, and your health condition. For beginner, it is good to start with low impact exercise rather than straight to high impact one. Make your muscles, bones, and heart make adjustment in exercise environment, then increase the exercise intensity gradually. Once your body has adapts with the regular exercise you can start the high impact exercise without found any problem. 

Shins splint

It’s been two days I was suffering from lower leg pain every time I’m doing high impact exercise (aerobic), it was very disturbing, because the pain was increasing significantly during the exercise. In the first day, within the 10 minutes warming up, everything was fine, but on the next 30 minutes it was horrible, but I can still continue the aerobic even though my leg was pain and ¬†feel uncomfortable. The solution on that time was not to pressure my leg to do the hard steps, jumping, and running. The pain is suddenly gone every time I take some rest. The next day I was doing the same exercise, but I still got the same result, lower leg pain or shin splint in medical term.

I’m still wondering what is the culprit that causes my leg pain during the exercise, coz I never experience the same problem before. I also exercise regularly every day. I’m starting to remember my exercises within the last 2 weeks, I went to the sport centre everyday, doing body combat, attack, NRG, body pump, oh great…all of those exercise are high impact that needs running, jumping, kicking, weight lifting, and whatsoever. Maybe I work to hard on it, since I never ever done such a crazy exercise like that.¬†

The solution, stop exercise that might causes the pain worst, just take some rest for a while doing low impact exercise swimming, yoga, pilates, cycling. Combine low and high impact exercise as well as strength and flexibility. Uses ice to reduce pain if necessary, uses heat or shin supporter, if it getting worst, just go to the doctor. 

Image source: 

http://content.revolutionhealth.com/contentimages/images-image_popup-r7_shinsplints.jpg 

pilates v yoga

some people are still hardly distinguish between pilates and yoga. both of them are low impact exersice, emphasising on strenght, balanced, and concentration. pilates was founded by joseph pilates in early 20th century. the purposes of this exersise was to improve the rehabilitation program for war veterans. pilates also can be used as a treatment method for injure by strengthening, streching, and stabilizing key muscle. the pilates method is using mind to control the muscles. The program focuses on the core postural muscles which help keep the body balanced and which are essential to providing support for the spine.  In particular, Pilates exercises teach awareness of breath and alignment of the spine, and aim to strengthen the deep torso muscles.

on the other hand, yoga is defined as a discipline of asceticism and meditation that are thought to lead to spiritual experiences and a profound understanding or insight into the nature of existence. nowadays people doing yoga to build a good posture (asanas), and develop flexibility. yoga has become a popular exersice since it combine meditation to reduce stress and low impact exercise that includes streching and consentration.

those exercise are not for calorie burner purposes, but if you are practice pilates or yoga regularly that will bring benefits for posture development, and muscles strenght. some of benefits of pilates are improve muscle strenght and tone, increase flexibility and core strenght, improved posture, prevent from injury, improved concentration, stress management and relaxation. some benefits of yoga are improved postural strenght, increased flexibility, reduced fatigue, reduced pain, enhance ability to concentrate, ability to cope stress. so, they quite similar isn’t it. and if you are so tired to do the high impact aerobic, pilates and yoga would be the good choise for daily exercise.

 

sources:

yoga: http://en.wikipedia.org/wiki/Yoga

pilates: http://en.wikipedia.org/wiki/Pilates

pilates and yoga benefits: http://www.goforyourlife.vic.gov.au/hav/articles.nsf/pages/Pilates_and_yoga_the_health_benefits?open

yoga image: http://www.health-and-fitness-journal.com/yoga%20back%20streach.jpg

pilates image1: http://media.canada.com/536d56c7-75a1-4105-acb9-66d4ee476d1f/pilates2.jpg

pilates image2: http://www.unirec.co.nz/images/usr/pilates.jpg