Category Archives: information

Fun Gathering Fakultas Vokasi UNAIR

gathering-dan-peningkatan-kinerja-unair-dosen-vokasi-di-batu-malang

A lot of fun there..

Dosen-dosen Fakultas Vokasi patut berbangga hati, karena pada hari Jum’at-Minggu 21-23 Oktober 2016 diberi kesemptan untuk mengikuti kegiatan gathering dan peningkatan kinerja yang diselenggarakan di kota apel Batu, tepatnya di Amerta Hills Hotel and resort. Acara ini dihadiri oleh seluruh dosen 3 angkatan, angkatan pertama dosen-dosen homebased PNS, angkatan kedua dosen tetap non PNS tahun 2015, dan angkatan ketiga dosen tetap non PNS angkatan 2016. Fakultas Vokasi UNAIR merupakan fakultas termuda yang lahir pada tahun 2014. Dalam kurun waktu 2 tahun in Fakultas Vokasi banyak merekrut dosen tetap non PNS dalam jumlah yang cukup banyak. Kembali lagi pada acara gathering yang dikemas dengan konsep fun educative, memiliki tujuan antara lain untuk membangun kebersamaan dan kekompakan antar seluruh dosen di Fakultas Vokasi, dan meningkatkan kinerja dosen dalam menjalankan tri darma perguruan tinggi.

Seluruh peserta berangkat dengan menggunakan 2 bis, dan langsung menuju Batu. Acara dibuka oleh dekan Fakultas Vokasi UNIVERSITAS AIRLANGGA pada hari Jum’at malam, dimana pada acara pembukaan juga diberikan materi tentang dinamika kelompok/tim, banyak permainan yang bisa membuat para peserta tetap konsentrasi dan fokus pada materi, serta banyak kegiatan yang meningkatkan solidaritas dalam kelompok. Selain materi dalam ruangan, pada hari Sabtu juga diadakan kegiatan outbond yang diikuti seluruh peserta (dosen dan dekanat). Dalam outbound ini banyak permainan yang membutuhkan kerjasama tim, kekompakan, toleransi, empati, dan sportifitas para seluruh anggota kelompok. Memang diyakini bahwa kegiatan outbond dinilai mampu mendekatkan seluruh anggota dan meningkatkan kekompakan tanpa mengenal jabatan, status sosial, dan embel-embel lainnya.

kegiatan-peningkatan-kinerja-unair-dosen-vokasi-di-batu-malang

Sesi penyampaian materi

Sore hari dilanjutkan dengan materi spiritual motivation dimana para peserta diajak mensyukuri apa yang telah didapatkan saat ini. Diakhiri dengan dengan bermaaf-maafan dan mengucapkan terima kasih kepada para kolega yang ada diruangan. Materi kedua ini sungguh menguras emosi para peserta dimana banyak peserta yang menangis. Malam hari merupakan malam yang ditunggu-tunggu peserta, dimana terdapat acara singing kompetition, dimana seluruh peserta tanpa terkecuali harus menyumbangkan suaranya, dan para peserta sangat tenggelam dalam suasana ini sehingga sekali lagi tidak ada lagi embel-embel senior-junior, semua bersama menjadi satu. Hari ketiga, its time to said goodbye for Fun Gathering Fakultas Vokasi AIRLANGGA UNIVERSITY, acara dihari terakhir adalah penyampaian materi tentang tim building dan bagaimana bekerja sama dalam kelompok. Dilanjutkan dengan penyerahan hadiah bagi kelompok outbond yang paling kompak, dan penutupan oleh Dekan Fakultas Vokasi.

peningkatan-kinerja-unair-dosen-vokasi-di-batu-malang

Penandatanganan komitmen

Well, sebetulnya kegiatan seperti ini (gathering) memang diperlukan bagi organisasi, dengan tujuan untuk saling mendekatkan antar anggota, dan me-refresh rutinitas kerja untuk meningatkan kinerja dosen. Materi yang diberikan baik indoor maupun outdoor banyak memberikan manfaat bagi para dosen terutama dalam hal komitmen pada UNAIR sebagai instutusi penaung.

games-dan-outbond-peningkatan-kinerja-unair-dosen-vokasi-di-batu-malang

Fun, fun, fun…. #outbond

universitas-airlangga-excellence-with-morality-logo—-

Demikianlah sedikit tulisan dan cerita akhir tahun tentang fun gathering yang diadakan oleh Fakultas Vokasi. Tulisan ini sekaligus juga sebagai entry di lomba blog Unair yang digagas oleh BPP Unair.

Medical record

Hari ini aku menginap di rumah sakit, yang kupilih adalah rumah sakit daerah di sidoarjo (karena rumah di sidorajo), kenapa memilih rumah sakit pelat merah daripada yang lain? ini ada beberapa alasan, pertama karena jaminan kesehatan saya juga keluaran pelat merah, dokter kandungan yang menangani juga praktek disini, serta rumah sakit ini salah satu yang paling besar, so tiga pertimbangan itu yang mengantarkan aku kesini. Di rumah sakit ini memang banyak pilihan kamar, karena demi kenyaman dan biar bisa posting-posting dan ‘kerja’ dikit-dikit aku milih stay di paviliun. Teman-teman pada nanya, ‘enak nggak kamarnya’, yah aku jawab masih lebih enak discovery kartika plaza….gmn mau enak kalo tinggal di rumah sakit.
Datang ke hospital jam 11 pagi, malamnya sudah booking mau masuk (malam itu memang penuh, jadi aku disuruh datang agak siangan dengan harapan ada yang check out), jam 11 ternyata di kamar yang VIP semua pada penuh (kayaknya jumlah kamarnya sedikit, sekitar 20-30an), dan aku diminta telp lagi nanti agak siangan. Kahirnya pulang dulu ke rumah sambil nunggu di telp. Tapi bukan aku kalo sabar menanti, habis jumatan sekitar jam 1, suami telp rumah sakit dan ternyata nanti sore ada yang check out, so aku pergilah jam 3.30.
Ternyata pasien baru akan check out, dan kamar masih di bersihin, akhirnya aku nunggu di ruang poli (tiduran). Disana aku duduk bersama berkas-berkas pasien (bukan dosen ilmu informasi & perpustakaan) kalo nggak penasaran sama informasi dan arsip. Disela-sela nunggu, si nurse mulai menginterogasi aku:
nurse: ok bu, disi dulu data pasien-nya
me: well (hmmm ini kutambahkan sendiri) saya pernah jadi pasien disini, 3 tahun yang lalu, apa datanya nggak ada?
nurse: berapa nomor registrasi-nya?
me: waduh mbak, saya ya lupa, lha sudah lama, apa nggak bisa dilihat di komputer?
nurse: oh bentar nanti saya cek-kan yah (kemudian keluar ruanagan sambil bawa form pasien)
me: nunggu sambil cengir-cengir ke suami, mereka apa nggak butuh arsiparis yah….dengan dokumen sebanyak itu, dan seringkali hilang. Dan yang selalu ditanyakan adalah no registrasi dari si pasien (padahal, siapa sih yg mau ngapalin noreg, siapa sih yg telaten nyimpen noreg, ke rumah sakit ajah amit2…kalo bisa dihindari), jadi harusnya kan kalo ada database yang ok, bisa ditelusur lewat nama (depan belakang, alamat, etc). cuma sayangnya nggak sedikit dokumen yang penulisan entri-nya nggak valid. Misal, namaku ‘nove’, sejak jaman dulu sampe sekarang, orang yang bisa menuliskan namaku dnegan benar bisa dihitung dnegan jari, pasti sering kali dipelesetin jadi ‘novi’, ‘nova’, kwkkwkw….dan dengan susah payah saya selalu bilang nama saya nove, n-o-v-e…baru deh jelas.
nurse: akhirnya datang dan membawa daftar pasien yang kosong dan saya disuruh ngisi (again, setelah 3 tahun lalu juga ngisi)
me: berapa lama dokumen rekam medis pasien disimpan?
nurse: 10 tahun
me: kalo say apindah rumah sakit, bisa nggak say adikasih kopi rekam medis untuk dibawa ke RS tersebut?
nurse: tidak bisa, krn ini sangat rahasia…
me: mbatin, sangat rahasia dan penting tapi treatmennya kayak dokumen biasa ajah kekekke…

yah itulah sekelumit kurang dianggap pentingnya dokumen bagi sebuah instansi sebesar rumah sakit daerah, berapa banyak waktu terbuang biuat re-create dokumen baru, menelusur dokumen yang subyek entrinya nggak kosnisten, berapa banyak dana terbuang untuk itu, waktu itu aku beruntung karena sudah sore sehingga sepi, kalo antrian panjang dan tiap pasien akan ngisi form lagi, lagi dan lagi setiap daftar sakit. OMG deh, jadi intinya pentingnya managemen dokumen dan asrisp yang powerful dikelola oleh tenaga profesional merupakan kunci sukses organisasi modern.

Mengurus passport tanpa perantara? siapa takut?

Kebetulan masa berlaku passport suami sudah habis bulan Mei lalu, dan memang pertengahan juni ini mau ada rencana ke kuala lumpur, jadi harus pake passport. Karena ada pengalaman ketika mengurus passport pake jasa pihak ketiga (travel agent) tahun lalu dan hasilnya tidak sebanding dengan harganya. Waktu itu harus bayar Rp.600.000 untuk 1 passport yang jadinya sekitar 3 harian, selain itu yang bikin ga puas ternyata kita (waktu itu rombongan kantor) harus antri mulai jam 1-5 sore untuk foto dan interview. Pengalaman lain yah 5 tahun lalu waktu bikin passport suami (semua dilakukan sendiri juga) waktu itu prosesnya saja 2 hari full day ngendon di imigrasi plus kesel, ngumpat2 hehe, keringeten (panas), dan campur aduk deh…karena waktu itu memang orang awam seringkali kena serobot sama si pencari jasa tadi yang jumlahnya banyak dan biasanya sudah kenal para petugas.

Back to tanggal 10 juni kemaren, tanggal 7 juni upload seluruh dokumen pendukung pembuatan passport secara online, antara lain KTP, KK, Akte kelahiran, passport lama. Tentu saja semuanya harus di scan dulu, setelah seluruh syarat selse di upload dan form elektronik diisi maka kita diminta memilih jadwal appoinment, waktu itu saya daftar online hari selasa dan bikin appoinment hari jum’at (karena rabu-kamis full kerja). Hari jum’at pagi jam 7.25 sudah berangkat dan nyampe imigrasi jam 7.50, parkiran imigrasi Surabaya sudah diberi palang ‘PARKIR PENUH’ kalo bawa motor sepertinya masih banyak spot kososng dalam imigrasi. Untuk yang bawa mobil parkiran disekitar imigrasi surabaya cukup banyak, karena ada 2 gedung disebelah utara kantor imigrasi yang dijadikan lahan parkir, yang bayar Rp. 3000 flat rate.

Kantor imigrasi buka jam 8.00 tetapi ruang tunggu sudah dibuka, dan sudah ramai. Langsung kita masuk area pelayanan yang khusus untuk pemohon yang telah melakukan pre-registrasi secara online bisa langsung menuju loket 2 (disana ada tulisan ‘pendaftaran online’ kalo ga salah). Eh tetapi meskipun sudah mendaftar secara online tetapi itu saja tidak cukup. Selain harus datang pagi-pagi (sebelum jam 8, kita juga harus mengisi formulir permohonan passport dalam map hijau, yang dijual di loket khusus, dan ini saya punya pengalama menyebalkan karena petugas sangat ketus dan kurang menyenangkan (tapi yah maklum karena rutinitas yang sama bertahun2 bisa bikin orang stress) dan kita harus membeli formulir tersebut seharga Rp. 10.000). Kita antri depan loket 2 jadi antrian yang pertama, dan jam 8 tepat loket dibuka tetapi sayangnya, syarat-syarat (disana kita harus menyerahkan dokumen asli serta kopinya) kita di tolak karena foto kopi dari dokumen-dokumen yang kita berikan kurang jelas dan kita harus meng-kopi lagi di kopearsi imigrasi…hmmm harus sabaaaaaar (ujian pertama nih).

Selesai fotokopi, kita masukkan lagi berkan ke antrian (saat itu sudah jam 8.30), setelah hampir 30 menanti dipanggil akhirnya nama kita dipanggil dan ternyata saya belum mengisi form data diri (yang mana form tersebut sama persis dengan versi online), saya jelas ajah berang, tetapi si petugas bilang kita ga usah antri lagi, dan form tersebut bida diambil secara gratis di meja CS depan pintu masuk ruang layanan. Damn, isiannya lumayan banyak sih, selse, saya serahkan sambil saya komplen karena form itu sudah saya isi secara online dan sama percis, jawaban petugas sih sante banget kalo form yang aku isi itu fungsinya cuma sebagai arsip saja (hah?? ga salah?, bukannya bisa buka database yang aku sudah isikan secara online?)…

finally kita harus menunggu depan loket 4, untuk membayar (hore cepat, dalam hati aku sidah seneng), ternyata? untuk membayar kita perlu no antrian membayar, dan untuk mendapatkan no antrian kita harus nunggu untuk dipanggil di loket 5 (ohhh aku mulai goyah, mulai berfikir, mending lewat calo kayaknya). dari loket 2 antri ke loket 5 nunggu 30 menitan, dari loket 5 (no antrian) ke loket 4 (pembayaran) nunggu 30 menit. dapat no 121, dan saat itu sudah jam 9.30an, bayar sih cepet, setelah bayar (bayar 255 ribu) kita bisa antri foto. Jam 11 tepat, antrian foto sudah sampe ke no antian 95, dan guess what??kantor imigrasi tutup dari jam 11-13.00. Iyah sih kita harus solat jum’at, tetapi menutup seluruuuuuuuuuuh layanan dan membiarkan kita terlantar disana-oh my…

Finally kita putuskan untuk ke kampus (karena saya ada kuliah jam 13.00), nanti selepas sholat jum’at suami bisa antri foto sendiri disana. Dengan asumsi, antrian terkahir no 95, dan suami no 121, masih jauh, berangkat jam 13.00 cukuplah….teryata ketika nyampe disana jam 1.30 antrian sudah masuk ke no 128, hmm untung masih boleh foto, kalo tidak maka apa yang sudah kita lakukan seharian tadi dianggap hangus dan kita harus mulai dari awal. Foto selse, interview beres dan dikasih tahu waktu pengambilan hari kamis minggu berikutnya…..

Tips n triks

1. Mendaftar via online jauh lebih baik daripada manual, karena disana ada jadwal appoinment dan antriannya cukup sedikit dibanding loket pendaftaran manual yang puanjang banget.

2. Pastikan semua dokumen sudah discan sesuai permintaan, dan pada hari appoinment siapkan dokumen asli serta fotokopi (harus jelas) dan bawa form appointment. Jika hari appoinment tidak muncul maka dianggap batal dan harus daftar secara online lagi.

3. Beli dan isi form di imigrasi, jgn pernah punya anggapan kalo sudah dilakukan secara online kita ga perlu nulis2 lagi, karena kita tetap harus isi form kayak pendaftar manual.

4. Datang lebih awal (kalo bisa 5 menit sebelum loket buka) makin pagi makin baik, karena meskipun diloket awal tidak antri tetapi ketika membayar dan foto semua pendaftar digabung jadi satu, so online dan manual ga ada bedanya.

5. kalo bawa baby, kalo bisa ga usah ikut dulu deh, kecuali kalo sdh antri mau foto baru dibawa. tetapi ingat, seluruh aktivitas pendaftran harus dilakukan pada hari itu juga, mulai cek dokumen sampai foto, so kalo ga selse dianggap batal.

6. Total waktu yang diperlukan dari daftar pertama sampe foto dan interview kurang lebih antara 3-4 jam (kalo online) manual bisa lebih lama lagi.

 

d

KRS online

two weeks ago, FISIP started their online enrollment system (KRS online) called silia. when I heard term KRS online, my mind jumped to everything is conducted virtually means no need face to face meeting, paperless, no signature, and anytime anywhere. but, the things happened during the enrollment days were, many students approaching me on the office asking for paper signature.

so if it said ‘online’ means that everything is done by the computer. that’s it, no more direct human interaction.

social networking in Asia libraries

penggunaan web 2.0 di perpustakaan saat ini sudah tidak bisa terhindarkan, banyak perpustakaan di Asia sudah menerapkan hal ini contoh nyata adalah dari hasil penelitian di singapura, pakistan, taiwan, dan sri langka. banyak perpustakaan memanfaatkan teknologi facebook, blog, twitter, dan banyak lagi media sosial networking yang bisa dimanfaatkan.

banyak manfaat yang ternyata bisa didapatkan dengan penggunaan web 2.0 ini, salah satu contohnya adalah penggunaan blog di nanyang university technologi siangapura yang mampu manarik pengguna untuk berinteraksi dengan peprustakaan melalui blog yang mereka bangun.

dalam konferensi ini, teknologi informasi terutama sosial networking dan web 2.0 sangat dominan, hal ini bisa dilihat dar banyaknya topik-topik yang mengangkat penggunaan media interaksi sosial dalam paper mereka. dan era generasi x&y sangat memungkinkan untuk berkembanyan media jejaring sosial ini karena mereka hidup di jaman teknologi.

di pakisatan, banyak responden pengguna jejaring sosial  kebanyakan berasal dari kota besar (ibukota), dan menggunakan facebook dan youtube, blog, dan IM, namun banyak dari mereka (librarian/responden) tidak menggunakan media ini untuk kegiatan peprustakaan tapi untuk personal purposes. jika kembali ke indonesia, memang banyak sekali pengguna social networking dan tidak ketinggalan para pustakawan, namun pertanyaannya, apakah mereka sudah memanfaatkan powerful media ini untuk kepentingan pekerjan di peprustakaan?. jika perpustakaan mampu mengadopsi teknologi sosial networking dan menerapkannya secara menyeluruh akan sangat membantu kegiatan perpustakaan terutama ketika kontak dengan user. dan kita harus ingat, pengguna peprustakaan saat ini berasal dari generasi dimana mereka menginginkan kemudahan dan kecepatan dalam menemukan informasi, dan jika perpustakaan bisa cepat beradaptasi dengan permintaan perkembangan jaman itu, setidaknya peprustakaan akan tetap eksis dan termanfaatkan secara maksimal.

Satelite meeting pt.2 hari ke1

Menyambung kegiatan satelite meeting, yang memang khusu buat kelompuk khusus yang membahas going global bagi para pustakawan. sebetulnya ini menarik, dimana saat ini pustakan cenderung bekerja di home country-nya, dengan adanya kegiatan ini maka bisa diharapkan akan memberikan motivasi bagi para pustakawan diseluruh dunia untuk going global yang mana dimiliki oleh masyarakat dunia dan dengan mudah menyatu dengan masyarakat dunia. New professional specialist interest group ini berdiri sejak tahun 2004, dan tahun lalu mereka mengadakan satelite meeting pertama di Milan. Tahun ini banyak anggota baru yang tergabung dalam NPSIG terutama dari negara-negara asia-pasific.

acara ini terdiri dari tiga sesi, sesi pertama dmulai jam 11-12.00 yang membahas masalah pustakawan masa depan, peranan asosiasi pustakawan. topik kedua membahas pandangan pustakawan dari tiga negara barbados, rumania, and ukraina. karena kedua topik interest berada di jam yang sama, maka diputuskan untuk ikut yang kedua, karena saya ingin melihat bagaimana the new librarian’s view di negara-negara tersebut, yang saya kira masih serumpun dengan indonesia, dalam hal perkembangan perpustakaan. ternyata jika di barbados, sebagian besar pustakawan adalah wanita, mereka memandang dirinya sebagai inovatif, dinamis, suka tantangan, mau berkembang, suka dengan teknologi. sedangkan di rumania dan ukraina, yang fokus pada penyediaan teknologi informasi pada lokal library, menyebutkan bahwa para pustakawan dibanyak perpustakaan senang dengan adanya teknologi baru yang ada di perpustakaan, tertantang mengikuti training, dan mau menggunakan teknologi.

setelah sesi pertama selesai, acara dilanjutlkan dengan makan siang. makan siang dilakukan dikantin yang letak gedungnya berseberangan dengan gedung konferensi. acara makan siang berlangsung dengan tertib, meski antriannya sangat panjang, karena untuk main menu, diambilkan oleh ‘koki’ yang terdiri dari daging sapi kayak credy pety (isi burger) cuma porsinya sebesar 2 kepal orang dewasa, plus 3 buah kentang rebus dan siram saus stik…untuk saladnya, semua bisa mengambil sendiri dengan variasi bebas, aku ambil selada dan bitroot (kalo ga salah, lha warna merah rasanya kayak timun), minum air putih. setelah seharian ga nemu just water, disinilah kita minum air putih. bahkan ada salah satu peserta konferensi yang langsung ambil 2 gelas air putih. dalam acara makan itu pula, muncul seorang seusia nenek-nenek, yang menginterupsi acara makan, ternyata ibu-ibu itu yang diketahui bernama lina, adalah professor dan sekaligus yang in charge pada university of boras (lupa dekan apa rektor), dan memberikan welcoming words bagi peserta satelite meeting (so nice n friendly, jauh dari kesan formal). ini salah satu budaya yang harus dicontoh, dibalik informalitas masih terdapat intelektualitas dan dedikasi tinggi pada keilmuan. jadi tidak peduli kamu pake baju apa, yang penting adalah kamu punya ilmu apa.

setelah makan acara dilanjutkan dengan sesi kedua, yang mulai tepat pukul 1.30-2.30, dengan topik tantangan menjadi mobile librarian, dan bagaimana meningkatkan karir dan menginternasional. saya memilih topik kedua, karena sejak dulu being global adalah cita-cita dan tujuan hmmm, pembicara pertama dari amerika robin kear yang melakukan presentasi lewat skype conference, untuk topik ini akan dibahas secara terpisah dalam global librarian. Kear banyak menyinggung soal pengalamannya menjadi pustakawan global yang sering bekerja diberbagi negara. topik kedua disampaikan oleh hella klauser yang seorang network expertise yang membahas banyak apa itu global, bagaimana menjadi global, kenapa mau menjadi global. hella menganalogikan beberapa produk brand sebagai sesuai yang global yakni coca cola, etc. jadi menjadi global adalah bisa diterima dimana saja, dan ini merupakan tantangan berat bagi pustakawan terutama dari non speaking english country.

sesi ketiga, mulai jam 2.30-3.30, ada 2 topik juga pertama mengenai bagaimana komunitas pustakawan tetap teroganisir dan innovasi sekolah perpustakaan di belanda. di topik ini disebutkan bahwa pustakawan pada masa baby boomer, yang mana akan banyak pensiun sekitar 5-8 tahun lagi. disebutkan juga mengenai prediksi perpustakaan pada tahun 2040, yang tidak pada saat itu perpustakaan tradisional akan digantikan menjadi  lebih interaktif yang berfokus pada proses dibandingkan produk.

acara ditutup oleh keynote spreaker dari presiden asosiasi pustakawan dari denmark mengenai bagaimana asosiasi perpustakaan dan pembuata keputusan melakukan hal-hal untuk tetap eksis dan memenuhi keinginan penguna serta merangkul anggota baru masuk kejaringan perpustakaan dan bagaimana mengenalkan asosiasi kepada generasi muda pustakawan.

Setelah itu ada acara networking yang diisi dengan acara minum (wine) dan ‘natural’ water tentu saja dan ngobrol-ngobrol untuk menambah jaringan.

satelite meeting-day1

wow, setelah tidur hampir 8 jam (kebayang yak, dari jam 4 sore-jam 1 tengah malam waktu sini) . jam 6.30 pagi aku sudah siap mau sarapan, sarapan model buffet, yang terdiri dari meja roti-rotian (berbagai macam roti ada disana), aneka isiannya, ada macem-macem keju, mayonaise, margarine, salami, turkey, smoked beef, dan macem2 buah serta salad sayur, omelate swedish meatball, bacon, pancake yang ga kayak pancake malah mirip telur dadar, telur rebus. minumnya, berbagai jus, coffe and tea seperti biasa.

ketika sarapan inilah baru ketemu beberapa peserta konferensi yang nginep dihotel yang sama, jadi kenal sama kontingen fiji yang diwakili 2 orang akademik library bachelor dari curtin, nigeria yang ternyata seorang dosen lulusan LIS US, trus ada IL librarian dari puerto rico PhD dari US, pustakawan public library dari kazachtan, maroko, barbados, brazil, namibia, zambia, kepualauan karibia, pakistan, india, nepal, nah beberapa yang telah disebutkan di atas adalah para penerima grant untuk join di IFLA konference, dan kebanayakan topik omongan dimeja makan adalah soal kerjaan dan perjalanan, maklum baru hari itu ketemu. after had breakfast, kita janjian ketemu di lobby untuk berangkat ke satelite meeting bareng.

karena kota kecil, perjalanan dari hotel ke university of boras ga lama paling sekitar 5-10 menit dengan jalan santai, dan suasananya yang ga bisa dibeli. meski sebagian toko saat itu masih tutup (jam 8 pagi), jalanan masih sepi, tapi public transport sudah berkeliaran. dan diketahui kemudian ternyata kotanya memang sepi dan nyaman, bersih pula. cuaca pagi itu cerah meski agak gerimis dikit tapi belum dingin. nyampe di lokasi sudah berkumpul beberapa peserta yang ikut satelite meeting: global librarian. satelite meeting ini adalah konferensi khusus diluar conferensi IFLA yang membahas spesial interest dan disini adalah menjadi pustakawan global. pesertanya ga banyak paling 100an orang. disini ada registrasi dan ada complimentary drink, yang isinya yah hanya minum, dan makanan kecil (kalo di indonesia kueciill, saking ringannya hihi).

acara dimulai tepat pukul 9.30, dibuka dengan keynote speaker dari the shanachie tour yang terdiri dari 2 orang traveller dan tentu saja mereka pustakawan erik boekesteijn dan jaap van de geer. ide mereka adalah melakukan perjalanan keseluruh dunia untuk mengunjungi perpustakaan dan mengumpulkan best practices untuk memajukan perpustakaan, jadi perjaanan ini adalah tentang perpustaaan, dan dalam website mereka banyak cerita dan vieo mengenai perpustakaan yang telah mereka kunjungi. sangat menarik bagaimana jaap dan erik mengumpulkan berbagai macam inovasi mengenai perpustakaan yang ada diseluruh dunia untuk kemudian disharingkan dengan menggunakan web 2.0 jadi semua bisa memberikan ide, tanggapan, mengenai video mereka. jadi jika perpustakaan anda ingin dikunjungi atau ingin bersharing informasi, bisa langsung kontak mereka.

acara banyak disuguhi oleh pemutaran video-video dari hasil jalan-jalan mereka, dan tentu saja, sangat informatif dan aspiratif. jadi disini perpustakaan diharapkan mampu menjawab perkembangan user, dimana saat ini pengguna sudah sering berinteraksi dengan internet, social media, dan teknologi informasi lainnya, dan perpustakaan harus bisa memberikan lebih dari itu dimana perpustakaan memberikan kemudahan serta informasi yang mana orang akan mudah mengakases semudah mengakses internet, dan memaksimalkan penggunaan teknologi informasi web 2.0 social media untuk mendorong layanan perpustakaan.