Category Archives: Just Say

Menjadi mahasiswa baru

Setelah lebih dari sepuluh tahun menunggu, akhirnya kabar gembira ini tiba. Ya Allah, ternyata engkau punya jalan cerita sendiri bagi ku. Tahun 2019 adalah break through setelah kuliah terakhir tahun 2008, sekarang, 11 tahun kemudian aku memasuki bangku kuliah lagi. Memang selama ini aku hanya berjuang di 2 tahun terakhir, mulai menyiapkan proposal dan berbagai lamaran beasiswa, dari tahun 2017 hingga 2019 ada beberapa beasiswa yang pernah aku ikuti, AAS tahun 2016 dan 2018 hasilnya gagal, LPDP tahun 2018 dan gagal, Budi LN tahun 2019 dan gagal. Wah rasanya gagal berkali-kali itu sesuatu, rasanya aku sudah nggak layak untuk lanjut kuliah ini. Sedih banget rasanya, tapi tetap aku tidak patah semangat.

Akhirnya tahun 2019, ada kabar gembira dari kampus tempat aku bekerja dan mengabdi, bahwa ada program beasiswa / bantuan kuliah S3 keluar negeri. Unbelievable, dan ternyata aku adalah penerima beasiswa tahap kedua, tahap pertama tahun 2018. Alhamdullilah, ternyata kerja keras dan doa terkabul. September 2019, berangkatlah aku ke University of Malaya, Kuala Lumpur untuk melanjutkan studi Library and Information Science under Faculty of Computer and IT. Aku mengambil PhD program (reserach based), tetapi tetap ada syarat perkuliahan yang harus diambil yakni advanced reserach method dan bahasa melayu. Menjadi mahasiswa baru bukan masalah mudah, apalagi di usia yang sudah kepala 4, memiliki anak usia TK dan SD di rumah, dan suami. Sungguh dilematis bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk meraih ilmu di negeri tetangga dengan meninggalkan pekerjaan dan keluarga. But, my husband is always support, he always said that I can do this. Now, I’m here, writing this blog from a room in Shah Alam.

I also have a great colleague who come earlier in KL, she support me and comfort me, so I feel like home and dont feel a homesick. Jadi tantangan terberat adalah mengalahkan diri sendiri, bagaimana mendorong diri sendiri untuk semnagat, tidak mellow, dan tetap berupaya ditengah kesulitan dan kebingungan sebagai seorang mahasiswa baru. Aku berharap akan dapat selesai (lulus) pada bulan Juli tahun 2022. So I can go back home and to see my family…yeeey….

Goodbye and Welcome

Final day of the year of 2016, apa yang sudah aku lakukan selama setahun ini? Kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2016 ini tidak banyak capaian yang berhasil dilakukan (baca tidak dilakukan). Tidak terasa waktu cepat berlalu dan menurut pepatah sesal kemudian tiada guna. Sebagai seorang akademisi tidak banyak karya ilmiah yang berhasil dipublikasikan (sadly), sebagai seorang ibu hehe…rasanya masih harus banyak belajar, sebagai seorang istri apalagi kwkwkkw…belum lulus rasanya, dan sebagai seorang anak masih jauh baktiku ke orang-orangtua, sebagai teman masih belum bisa menjadi tempat berkeluh kesah yang selalu tersedia, dan last but not least sebagai diriku sendiri? Masih banyak yang perlu dibenahi dan di raih di 2017.

My list: lanjut kuliah, membuat banyak publikasi, lebih sabar ke anak-anak, show the world to kidos, lebih banyak berdoa dan bersyukur.

Goodbye 2016, and im ready to face 2017…

wow

banyak hal terjadi selama ini setelah berhenti menulis. banyak hal-hal yang lupa tidak dituangkan dalam tulisan, begitu juga dengan tampilan dashboard wp yang terasa asing bagiku. dengan adanya kerjaan yang menumpuk dikampus, ditambah dengan trio krucils yang tingkah polanya bikin wow menjadi alasan kenapa selama 2 tahun ini aku berhenti menulis. 2 tahun yah? ternyata time goes fast, yang sebetulnya sayang sekali kalo tidak dituangkan dalam tulisan. ok, semoga mulai hari ini bisa dimulai lagi coret2nya…for the future.

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 4,000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 7 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Medical record

Hari ini aku menginap di rumah sakit, yang kupilih adalah rumah sakit daerah di sidoarjo (karena rumah di sidorajo), kenapa memilih rumah sakit pelat merah daripada yang lain? ini ada beberapa alasan, pertama karena jaminan kesehatan saya juga keluaran pelat merah, dokter kandungan yang menangani juga praktek disini, serta rumah sakit ini salah satu yang paling besar, so tiga pertimbangan itu yang mengantarkan aku kesini. Di rumah sakit ini memang banyak pilihan kamar, karena demi kenyaman dan biar bisa posting-posting dan ‘kerja’ dikit-dikit aku milih stay di paviliun. Teman-teman pada nanya, ‘enak nggak kamarnya’, yah aku jawab masih lebih enak discovery kartika plaza….gmn mau enak kalo tinggal di rumah sakit.
Datang ke hospital jam 11 pagi, malamnya sudah booking mau masuk (malam itu memang penuh, jadi aku disuruh datang agak siangan dengan harapan ada yang check out), jam 11 ternyata di kamar yang VIP semua pada penuh (kayaknya jumlah kamarnya sedikit, sekitar 20-30an), dan aku diminta telp lagi nanti agak siangan. Kahirnya pulang dulu ke rumah sambil nunggu di telp. Tapi bukan aku kalo sabar menanti, habis jumatan sekitar jam 1, suami telp rumah sakit dan ternyata nanti sore ada yang check out, so aku pergilah jam 3.30.
Ternyata pasien baru akan check out, dan kamar masih di bersihin, akhirnya aku nunggu di ruang poli (tiduran). Disana aku duduk bersama berkas-berkas pasien (bukan dosen ilmu informasi & perpustakaan) kalo nggak penasaran sama informasi dan arsip. Disela-sela nunggu, si nurse mulai menginterogasi aku:
nurse: ok bu, disi dulu data pasien-nya
me: well (hmmm ini kutambahkan sendiri) saya pernah jadi pasien disini, 3 tahun yang lalu, apa datanya nggak ada?
nurse: berapa nomor registrasi-nya?
me: waduh mbak, saya ya lupa, lha sudah lama, apa nggak bisa dilihat di komputer?
nurse: oh bentar nanti saya cek-kan yah (kemudian keluar ruanagan sambil bawa form pasien)
me: nunggu sambil cengir-cengir ke suami, mereka apa nggak butuh arsiparis yah….dengan dokumen sebanyak itu, dan seringkali hilang. Dan yang selalu ditanyakan adalah no registrasi dari si pasien (padahal, siapa sih yg mau ngapalin noreg, siapa sih yg telaten nyimpen noreg, ke rumah sakit ajah amit2…kalo bisa dihindari), jadi harusnya kan kalo ada database yang ok, bisa ditelusur lewat nama (depan belakang, alamat, etc). cuma sayangnya nggak sedikit dokumen yang penulisan entri-nya nggak valid. Misal, namaku ‘nove’, sejak jaman dulu sampe sekarang, orang yang bisa menuliskan namaku dnegan benar bisa dihitung dnegan jari, pasti sering kali dipelesetin jadi ‘novi’, ‘nova’, kwkkwkw….dan dengan susah payah saya selalu bilang nama saya nove, n-o-v-e…baru deh jelas.
nurse: akhirnya datang dan membawa daftar pasien yang kosong dan saya disuruh ngisi (again, setelah 3 tahun lalu juga ngisi)
me: berapa lama dokumen rekam medis pasien disimpan?
nurse: 10 tahun
me: kalo say apindah rumah sakit, bisa nggak say adikasih kopi rekam medis untuk dibawa ke RS tersebut?
nurse: tidak bisa, krn ini sangat rahasia…
me: mbatin, sangat rahasia dan penting tapi treatmennya kayak dokumen biasa ajah kekekke…

yah itulah sekelumit kurang dianggap pentingnya dokumen bagi sebuah instansi sebesar rumah sakit daerah, berapa banyak waktu terbuang biuat re-create dokumen baru, menelusur dokumen yang subyek entrinya nggak kosnisten, berapa banyak dana terbuang untuk itu, waktu itu aku beruntung karena sudah sore sehingga sepi, kalo antrian panjang dan tiap pasien akan ngisi form lagi, lagi dan lagi setiap daftar sakit. OMG deh, jadi intinya pentingnya managemen dokumen dan asrisp yang powerful dikelola oleh tenaga profesional merupakan kunci sukses organisasi modern.

Goodbye Steve Jobs

banking ‘thing’

just arrived from some banks, i had to leave my office to do banking things. we have plan to open e-banking account a few months ago, however, today we have time to do that. we start around 10.30 am and it was raining so we hope that not many people queuing, but i was wrong, rain didn’t stop the crowd to the bank, but not many as on the clearly day. i think many banks in indonesia still depend on the human rather than machine, the fact that everyday¬† there are still many people who visit banks and conduct transactions with customer service or teller. when internet banking is not used and promoted widely to the users, and the lack of user’s technological skills trigger the ineffectiveness of internet banking. if all those users tempt to use internet banking for most their financial activities, i think there is no more queuing in the bank, and you don’t need to spent a whole day queuing.

back to my story, we went to bni to make e-banking application and education saving plan, we spent approximately an hour to finish transaction, and we moved to mandiri to apply for token but sadly after waiting almost an hour we informed that the token was run out, so we decided to ask new sms banking login, and it spent almost 30 minutes. we arrived at home around 1 pm hungry and tired, just like when we were working hehe…