Category Archives: library

Library Lovers Day

Hmmm sounds strange isn’t it? but it’s true. Yup, on 14th February will known as a library lovers day in Australia, where all libraries will join to celebrate the library lovers day on the valentine day. Those libraries can download and create library lovers merchandise to be shared with the patrons and colleagues.

I think this is a good idea to introduce library widely to the youngster generation. With the fun and cool merchandise and unique event, many people might turn their attention to the library. This will obviously will attract more users to visit library and emerge their self on the library activities.

Maybe we can have this one for our libraries, just like in Sweden did.

Advertisements

Techno-lib

nah ini dia beberapa teknologi baru yang sedang marak digunakan di perpustakaan. bukan benar-benar baru, cum apengembangan dari teknologi yang sudah ada. jadi kalo ngomongin perpustakaan pasti ga jauh-jauh dari koleksi, storage, dan search system. nah teknologi yang berhasil diambil disini adalah soal ketiga hal tersebut. kalo di indonesia masih banyak cara-cara manual untuk shelfing, stock opname, dan penelusuran, nah disini sudah menggunakan system yang mana pustakawan tidak perlu lagi sibuk-sibuk shelving buku, atau searching, atau memproses buku-buku tersebut ke pengguna.

di Indonesia juga sudah ada yang namanya mandiri check out, disini sama juga, tetapi menggunakan teknologi self check out yang lebih canggih yakni dengan memanfaatkan RFID. kalo saat ini banyak perpustakaan yang menggunakan barcode dan electronic magnetic untuk pengenalan buku, disini menggunakan RFID yang jelas memberikan banyak manfaat. RFID beda dengan EM yang mana untuk membaca barcode harus didekatkan ke sinar laser yang nantinya akan mendisplaykan informasi mengenai buku ke komputer, tetapi dengan RFID tidak perlu mendekatkan RFID code ke sinar. penempatan RFID code-nya juga hampir sama dengan barkode. selain itu, dengan RFID buku-buku bisa didelegasikan ke tempat-tempat sesuai dengan shelfnya, jadi petugas tidak perlu mentrasportasikan koleksi tersebut. kemudahan untuk mengetahui koleksi hilang, dipinjam, atau salah letak akan sangat mudah dideteksi dengan mengunakan RFID reader ke koleksi yang ada di shelf.

sebetulnya ini menarik untuk digunakan, namun peprustakaan saat iniseperti berkejaran dengan teknologi, yang mana baru saja peprustakaan beralih ke sistem otomatis dengan memanfaat kan barcode, dan untuk perpindahan dari manual ke barcode ini bukan hal yang murah dan mudah, dan jika sebuah teknologi baru muncul lagi, maka perpustakaan harus menempatkan prioritasnya sebelum mengadopsi sistem terbaru meskipun sangat efisien. penghitungan biaya yang dikeluarkan serta keuntungan yang didapatkan perlu dipertimbangkan masak-masak. meskipun teknologi baru ini sangat bermanfaat, namun tetap saja belum bisa menjawab isu-isu pencurian/kehilangan buku, meskipun RFID code ditempelkan dengan sangat kuat dalam sampul buku, namun tetap saja itu bisa dirobek dan buku akan tidak terdeteksi.

peprustakaan besar seperti yang ada di buenos aires sangat terkesan dengan penggunaan RFID ini jika system ini mampu menekan tingkat perusakan/pencurian koleksi. namun sekali lagi, biaya yang dikeluarkan pun sangat mahal, dan sayangnya banyak perpustakaan yang baru saja memulai menggunakan barcode system sehingga kehadiran sistem sirkulasi dengan RFID masih dianggap amsih belum perlu.

selanjutnya adalah alat pembersih buku, nah menariknya adalah alat ini bisa membersihkan buku dari kuman dan bisa memberikan bau harum pada buku-buku tersebut. cukup masukkan buku yang anda inginkan ke dalam alat yang mirip kulkas dan tunggu selama 30 detik maka buku-buku akan aman dari kuman dan harum, itu kata-kata si penjual alat lho. alat yang harganya 5000 USD ini memang masih bukan priorita sutama bagi banyak perpustakaan, tapi patut dicoba karena perpustakaan umum dengan peminjam yang sangat beragam, akan sangat mudahnya menularkan virus/kuman melalui buku-buku tersebut.

mendengarkan musik sambil duduk-duduk sudah sering, tetapi bagaimana jika musik keluar dari si kursi?? ini adalah kursi yang menarik banyak minat pengguna perpustakaan, tidak hanya anak-anak mungkin tetapi orang dewasa. pengguna bisa mendengarkan talking book, cd lagu-lagu serta main game di kursi ini tanpa harus mengganggu orang lain. pengguna akan langsung bisa mendengarkan musik ketika duduk di kursi tersebut. so much comforting.

Singing Chair

mobile libraries

dalam acara IFLA konferense ini, banyak sekai sesi-sesi menarik yang bisa dihariri, pameran berbagai macam produk yang berkaitan dengan perkembangan perpustakaan, dan tak kalah menariknya adalah pameran mobil perpustakaan atau biasa kalo di Indonesia disebut dengan perpustakaan keliling. Selama konferensi mobile library tersebut ikut dipamerkan dipelataran depan gedung konferensi. Ada beberapa mobile library yang terparkir setiap harinya dan datang dari berbagai macam daerah di luar gothenburg. Mobile library ini emang dikhususkan untuk melayani daernah luar kota yag emmang jauh dari public library.

Isi dari mobile library ini pun seragam secara kelengkapan, ada koleksi, pustakawan, serta sirkulasi desk. Bedanya hanya pada design pada masing-masing mobil yang memang satu dengan lainnya tidak ada yang sama. Warna mobilnyapun disesuaikan dengan kota dari mana mereka berasal dan nama kota/daerah biasa diadopsi sebagai nama mobile keliling mereka.

Sedangkan untuk koleksi juga sangat bervariasi dan dalam satu mobil bisa mengangkut kurang lebih 3000 koleksi buku, video, talking book, majalah, dan banyak lagi. Koleksi yang cukup banyak tersebut ditata sedemikian rupa dan sangat aestetik. Design rak, furniture, serta leay out yang menarik sehingga menjadikan mobile library ini menjadi tempat yang menarik tidah hanya bagi anak-anak namun bagi orang dewasa untuk memasuki dan browsing kemudian membaca / meminjam koleksi-koleksi tersebut.

Perpustakaan keliling ini biasa melayani perpustakaan sekolah disekitar daerah layanan perpustakaan keiling, banyak yang datang hanya sebulan dua kali di pagi hari, dan sore hari mengunjungi komunity untuk memberikan layana ke para orang dewasa. User bisa meminjam buku sebanyak yang mereka bisa bawa (bayangkan) dan bisa meminjam dalam waktu 4 minggu. Biasanya dalam setiap perpustakaan keliling dikelola oleh 3 pustakawan (the real pustakawan, bukan petugas pengantar buku), disana mereka bisa membimbing para pembaca.

bisa dibayangkan, betapa anak-anak akan suka memanfaatkan fasilitas peprustakaan, dan dengan berinvestasi dengan perpustakaan, maka kita akan mendapatkan hasil yang luar biasa di masa depan, that’s for sure.

Registrasi & city library tour, hari ke2

selasa, 10 agustus merupakan hari kedua digothenburg. yup, inilah hari pendaftaran ulang yang mana para peserta datang ke panitia registrasi untuk mendapatkan conference pack, yang isinya papan nama, buku agenda acara konferensi, peta kota gothenburg, notes, tas konferensi, buklet next ifla 2011 di purto rico, dan tak lupa voucher makan senilai 40 euro atau 350 krona.

paniatia pendafatran jumlahnya cukup banyak, kurang lebih 10 orang, jadi meskipun menumpuk tapi ga sampai antri panjang, so proses ini bisa dilalui dengan cepat. setelah itu para peserta diberi kesempatan satu kali untuk mengikuti guided tour ke perpustakaan yang tersebar di region gothenburg. perpustakaan yang dijadikan tujuan tidak hanya yang berada diseputaran kota, tapi sampai keluar kota juga.

dipendaftaran ini ketemu sama delegasi indonesia yang ternyata ada 11 orang, sebagian dari perpusnas, sebagain dari perpustakaan bandung (lupa perpustakaan apa), yah kalo dilihat-lihat mereka cukup kompak untuk ke konferensi bareng. cuma karena belum banyak kenal dan kayaknya mereka senior so kita ga mingle banyak.

oya, trip ke city library, wow, that was amazing, ibu-ibu guide-nya sangat ramah, speken english so well, kok setelah diarasa hampir seluruh pustakawan di swedia tuh bagus sekali bahasa ingrisnya. perpustakaan dengan konvension center cukup dijngkau dengan jalan kaki kurang lebih 10-15 menit (can you imagine?? aku jalan that far) lokasi gedungnya tepat di pojok pusat kota (betul-betul pusat kota, pusat atraksi, shopping precinct, dan dekat dengan patung apollo yang terkenal itu). nah kalo kita lihat semau perpustakaan kota yang ada di surabaya, cukup taruh agak kepinggir ajah heheh….

bangunannya biasa kalo dari luar, warna kuning kecoklatan khas batu bata dengan beberapa cendela kaca di sisi-sisinya. menurut si guide, perpustakaan ini didirikan oleh penulis buku anak-anak tekenal dari swedia, yup astrid lindgren (hmm jadi ingat pas kecil aku suka baca pipi kaus kaki panjang) jadi jangan heran kalo sampai sekarang perpustakaan masih amat sangat terkelola dengan baik dan saya rasa cukup mengikuti perkembangan user.

karena waktu itu belum buka (buka jam 10) jadi kita masuk lewat pintu karyawan, tetapi didepan pintu perpustakaan sudah banyak berkerumun pengunjung yang menunggu pintu dibuka. kita mulai jalan dilantai 1, disana ada koleksi untuk anak-anak yang tertata sangat un-usual, jauh dari rak-rak buku biasa, tetapi berbagai macam bentuk rak dan cara menata agar tetap rapi. koleksinya pun sangat banyak dan beragam, i just think, that indonesian children must be love it, dan akan sangat betah disana 🙂

tidak ada no klas disini, cuma ada barcode di belakang, nice. tapi nanti or kapan akan datang lagi to ensure penglihatanku. setelah itu kita moving ke accesible media section, disana banyak koleksi untuk disable person. dan jumlahnya amat sangat banyak, ada tactile buku dengan huruf braille disertai dengan bahan-bahan yang bisa disentuh jadi sangat cocok bagi para visual impaired person mereka bisa baca dan membayangkan benda yang dibaca melalui sentuhan. misalnya jika baca tentang burung yang berbulu, dibuku tersebut ada seperti apa bulu itu etc. kemudian ada daisy talking book, yakni buku text sekaligus suara, jadi para ibu ato orang tua bisa membacakan atau si anak bisa mendengarkan buku tersebut. ada buku dengan large tetx, nah ini juga sangat membantu para visual impaired. ada koleksi bagi para penderita disleksia, dan so on. user juga bisa mendownload talking book dari rumah, disediakan juga buku-buku yang mudah dicerna dengan tingkatan mudah, sedang, tinggi (ABC).