Category Archives: travelling

Jadwal Kereta Api Surabaya Sidoarjo Update 1 April 2017

Sudah bertahun-tahun tidak menikmati kereta api komuter susi (Surabaya-Sidoarjo), tapi sejak banyaknya kuliah pagi yang mulai jam 07.00 maka harus cari alternatif lain selain bawa mobil (rute sidoarjo-surabaya kalo pagi bikin stres), ditambah anak sudah usia masuk sekolah yang butuh antar juga. Ok pilihan jatuh pada komuter, dan kebetulan rumah deket stasiun komuter, yeeeyyy dan jadwal komuter pagi jam 06.03 tiba di stasiun gubeng pukul 06.48 wah pas ini, dari gubeng naik taksi atau uber atau grab atau ojek whatever hanya 10 menit.

Jadwal komuter susi memang tidak sesering kereta komuter di Singapura, yang hampir tiap beberapa menit lewat, ini hanya 4 kali rate dengan jadwal yang kurang bersahabat. Apalagi pada saat jam pulang kantor, nggak banget jadwalnya. ANyway, sejak tanggal 1 April ada perubahan jadwal kereta surabaya-sidoarjo dan sebaliknya sebagai berikut:

KA Komuter Surabaya-Sidoarjo

SGU 04.10 12.40 18.01
SDA 04.41 13.57 19.08

KA Komuter Sidoarjo-Surabaya

SDA 06.03 15.25 20.04
SGU 06.57 16.53 20.57

KA Penataran Surabaya-Sidoarjo

SGU 04.41 07.41 11.36 17.41 19.50
SDA 05.20 08.24 12.14 18.41 20.38

KA Penataran Sidoarjo-Surabaya

SDA 06.23 09.02 14.30 18.39 21.46
SGU 07.08 09.44 15.10 19.16 22.32

KRD Surabaya-Sidoarjo

SGU 16.38
SDA 17.14

KRD Sidoarjo-Surabaya

SDA 10.00
SGU 10.41

 

Perpuseru #1 welcoming

Opening by the MC

Mendapat kesempatan langka untuk mengikuti workshop perpuseru di Jakarta merupakan pengalaman emas yang tidak aka disia-siakan. Berawal dari wa kolega yang merekomendasi saya untuk menggantikan dirinya mengikuti workshop perpuseru sebagai sebagai fasilitator lapangan, karena kolega tersebut akan berangkat umroh, dan tanpa berpikir panjang I said Yes. FYI, seluruh biaya workshop akan ditanggung oleh CocaCola Foundation Indonesia (CCFI). CCFI ini merupakan pelaksana program perpuseru yang didanai oleh Bill & Melinda Gates dibawah payung global library. Jadi selain di Indonesia global library ini juga ada di Vietnam dan Eropa Timur. Programnya adalah melakukan transformasi perpustakaan umum agar lebih berdaya guna dan mampu miningkatkan kuaitas hidup masyarakat.

Suasana sebelum acara

Okay, kembali ke hari pertama. Pembukaan dilakukan di ballromm Merlynn Park Hotel, yah sekitar 10 minit drive dari tempat kita menginap di Grand Mercure Hotel. Pembukaan diikuti 180 fasilitator dari 90 perpustakaan kabupaten di seluruh Indonesia (sabang sampai merauke), kemudian ditambah 28 tim sinergi propinsi. Saat itu saya merasa nothing ketika bertemu para calon perubah perpustakaan desa dari seluruh Indonesia…wow….ini yang saya bilang kesempatan emas…

Foto dulu

ACara dibuka oleh MC yang atractive sehingga bisa menghidupkan suasana, didukung oleh tim dari dwidaya tour yang memberikan briefing di hari pertama tersebut sehingga semuanya jelas. Acara pertama diisi oleh bu Lia, dimana pada sesi ini lebih pada pengenalan seluruh keluarga perpuseru, menyampaikan tujuan kita mengikuti workshop ini, serta pengenalan kegiatan workshop fasilitator. Acara yang berlangsung selama 2 jam ini begitu meriah disertai dengan nyanyian, games, jokes, dan menari hehhe…katanya kalo mau menjadi fasilitator perpuseru harus gila. dan ternyata tim perpuseru bisa membuat 200an peserta ikut hanyut menjadi gila hehe….

Setelah makan siang acara dilanjut dengan materi bu erlin yang menjelaskan mengenai perpuseru dan coca cola foundation. Mengapa kita berada di Jakarta mengikuti kegiatan perpuseru. Dilanjutkan dengan penjelasan mengenai positif deviance yang bagi saya sangat menarik untuk diterapkan di perpustakaan. Secara singkat positif deviance menjelaskan bahwa penyelesaian sebuah masalah yang muncul disebuah komunitas / masyarakat hanya bisa dilakukan oleh komunitas itu sendiri. Jadi komunitas/masyarakat sudah memiliki metode penyembuh bagi masalah masing-masing. Dan ini yang digunakan oleh perpuseru dalam strategi pengembangan perpustakaan di Indonesia.

Keseluruhan acara, dari pagi sampai sore cukup menantang, dan disajikan secara berbeda sehingga membuat seluruh peserta tetap antusias untuk mengikuti jalannya acara hingga selesai.

Hi greeting from me

 

Serunya Exploring Gili Labak dengan Balita

Banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi dengan seluruh keluarga (baca dengan balita) dan pergi ke tempat baru memang sangat menyenangkan sekaligus menantang. Liburan kali ini merupakan wisata alam (pulau) pertama kali bagi keke (7), adam (4.5), tetya (2.5), dan kita mengajak tante leon. Kenapa memilih wisata alam (pulau dan pantai)? yah karena Indonesia kaya akan pesona alamnya, dan anak-anak harus mulai mengenali kekayaan Indonesia yang satu ini. Nah, tugasnya jatuh pada ortu-nya yang harus mengenalkan kekayaan alam ini, dimana sebelumnya liburan hanya ke mall, taman bermain, atau wahana wisata buatan lainnya. Untuk pengalaman pertama ini saya pilihkan liburan ke pulau terpencil di ujung pulau Madura, yakni Gili Labak. Memang sebelum diputuskan kesana saya sudah mendatangi Gili Labak  beberapa bulan sebelumnya, dan saya puas dengan pemandangan yang tersaji, serta fasilitas pendukung yang ada disana, pantai pasir putih yang bersih terhampar, ombak yang tidak terlalu besar cenderung tenang, air jernih sebening kaca, karang cantik, ikan-ikan kecil di pinggir pantai, pohon-pohon rindang di sekitar pulau, dan ada warung penjual makanan dan minuman yang siap mengisi perut kita, toilet yang bersih, dan tidak banyak pengunjung pulau. Wow, serasa pulau milik sendiri….hehe. Namun, ada yang masih mengganjal, yakni perjalanan dari Sidoarjo ke Gili Labak yang sangat menantang bagi orang dewasa, apalagi anak-anak sempat menciutkan nyali untuk pergi.

Akhirnya setelah diskusi dengan suami bahwa liburan bulan desember 2016 kita akan ke pantai Gili Labak, dan membulatkan tekad kalau anak-anak pasti bisa meski sempat ragu-ragu juga tapi ketika wacana ini dilemparkan ke anak-anak sebulan sebelum berangkat dan mereka sangat excited, akhirnya OK, kita pasti bisa.

Kita pergi memang menggunakan jasa tour Arthenis tour yang membuka paket open trip untuk wisata Gili Labak pada tanggal 24-25 Desember 2016, dengan harga 280.000 / orang, anak-di bawah 5 tahun kena 50%, sedangkan 2,5 tahun free of charge. Karena membawa anak-anak saya memang sengaja ikut open trip untuk memudahkan perjalanan.

Pre-Departure

Seminggu sebelum keberangkatan, beberapa masalah muncul, hal yang saya takutkan selama ini datang juga. Bagiamana jika hari H anak-anak sakit? Ternyata H-9 kakak demam karena kecapaian, tapi dengan obat turun panas dan istirahat selama 2 hari akhirnya sehat. Selang 2 hari, si bungsi kena sariawan di sekujur mulut dan lidah disertai demam, tidak mau makan dan minum, sempat panik juga sih tapi dapat obat dari dokter dan obat sariawan juga (gentin violet) rekom dari teman yang seorang dokter juga dan saya banyakin minum teh krisanthemum (yang ini herbal) yang katanya bisa meredakan sariawan dan panas dalam (hanya teh itu yang mau masuk), dan di hari ke 3 nafsu makan adek teta sudah mulai muncul dan berangsur membaik. Tidak sampai disitu, H-5 mas adam juga demam dan batuk pilek, diberi turun panas juga tidak membaik bahkan cenderung konstan panasnya, akhirnya dapat antibiotik dari dokter dan alhamdullilah sehat pada H-2, dimana pada hari itu si adek demam lagi dan batuk pilek, OMG apakah anak-anak nggak boleh liburan? Hingga jum’at sore masih hangat, dan sekali lagi saya merasa lega karena jum’at malam adek sudah mulai dingin dan sabtu juga sudah ceria.

Departure

Meeting point tur ini di stasiun Gubeng pukul 23.30 malam dan berangkat pukul 24.00, hehe hanya saya yang membawa anak-anak ke Gii Labak, yang lain para ABG. Barang bawaan kami sungguh heboh untuk trip satu hari, yakni ransel isi baju ganti untuk 5 orang, ransel untuk dompet, hp, sunblok, obat-obatan, tas isi sandtoys, dan tas isi baju renang, serta satu tas kecil untuk susu ( 2 anak minum susu cair, di bungsu sufor). Paket gili labak tur juga termasuk dengan snorking, dan Gili Labak terkenal dengan salah spot snorkling yang ramah bagi pemula.

Perjalanan dari Surabaya ke Sumenep lewat Suramadu ditempuh hanya dengan 3.5 jam, kalau siang hari bisa 4-5 jam. Sampai di pelabuhan Tanjung Sumenep pukul 03.30, dipelabuhan terdapat musholla, toilet, dan beberapa warung kecil, serta penyewaan kapal menuju pulau-pulau termasuk Gili Labak dan Gili Genting. Tepat pukul 5 pagi kita memasuki kapal, menurut pemilik kapal, kapasitas kapal maksimal 70 penumpang, namun kalo saya lihat 40 orang saja sudah crowded. Untuk sewa kapal dengan kapasitas 40 orang ini seharga 1 Juta Rupiah untuk perjalanan PP ke Gili Labak, jadi sebaiknya perginya rombongan. Anak-anak sangat excited naik kapal kecil ini, serasa dekat dengan laut dan bisa memandang laut lepas dari jendela, tetapi karena capek di perjalanan anak-anakpun tertidur di kapal. Dari pelabuhan Tanjung ke Gili Labak memakan waktu 1.5-2 jam tergantung angin dan ombak laut. Waktu terbaik untuk berangkat adalah bulan Mei, dan tidak direkomendasikan pergi ke Gili Labak di bulan Agustus karena angin dan ombak yang cukup besar. Disarankan berangkat pagi hari dimana laut masih tenang sehingga kapal tidak begitu terasa goyangannya.

Tetap ceria meski hampir 2 jam di atas kapal

Tetap ceria meski hampir 2 jam di atas kapal

Gili labak here we come

Setelah terombang ambing selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya sampai juga di Pulau yang hanya berpenghuni 15 KK ini. Hamparan pasir putih menyambut kami di pagi hari yang cerah, rasa lelah, bosan terbayarkan dengan deburan ombak pantai yang ramah, pasir putih yang lembut dan air laut yang menyegarkan. Gili Labak belum memiliki pelabuhan (masih dalam tahap pembangunan), sehingga kita langsung turun ke bibir pantai menggunakan tangga kayu yang disediakan oleh pemilik kapal. Hari ini kita cukup beruntung, karena kapal bisa merapat hingga ke bibir pantai, padahal 3 bulan sebelumnya saya harus jalan kaki sejauh 50-100 meter dari bibir pantai dengan kedalaman air sepinggang untuk mencapai pantai. Jadi sebaiknya kenakan baju renang langsung ketika di kapal atau sebelum masuk kapal untuk memudahkan kita ketika menuju pulau.

Just landed dari kapal langsung main air pantai

Just landed dari kapal langsung main air pantai

Anak-anak langsung berhamburan menuju pantai dan mulai mengesplor pasir dengan mainannya. Pasir putihnya bersih dari sampah maupun limbah, sehingga sangat bersahabat untuk anak-anak. Mereka seakan lupa perjalanan darat 3.5 jam, dan kapal laut 1.5 jam, rasa kantuk, capek, dan bosan sudah hilang digantikan dengan tawa ceria, bahkan mereka tidak mau diajak pulang.

Pasir putih dan air jernih pantai gili labak

Pasir putih dan air jernih pantai gili labak

Happy busy balita

Happy busy balita

Si adek nggak ketinggalan action

Si adek nggak ketinggalan action

Mengenalkan alam kepada anak sangat penting, menunjukkan bahwa Indoensia sangat kaya akan tempat wisata yang indah, mengajarkan anak untuk bersyukur juga bahwa ciptaan Allah yang maha indah ini masih bisa kita nikmati, dan harus dijaga. Namun sayang, menejelang siang saya sudah menemui beberapa sampah bungkus makanan dan plastik yang berserakan di pantai, jumlahnya tidak banyak hanya 2-5 bungkus tetapi itu sangat mengganggu dan membuktikan bahwa kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan masih kurang. Saya membayangkan ketika pelabuhan sudah terbangun, wisatawan (tidak bertanggung jawab) makin banyak (ramai) sampah juga pasti bertambah, dan keindahan pantai pun bisa berkurang.

Pasir putih nan halus

Pasir putih nan halus

Bagian belakang pulau

Bagian belakang pulau

Tante leon in action, sisi lain gili labak

Tante leon in action, sisi lain gili labak

Hello all...warm welcome from gili labak

Hello all…warm welcome from gili labak

Beautiful bright morning, tante leon dan peserta open trip

Beautiful bright morning, tante leon dan peserta open trip

Beautiful morning

Beautiful morning

Puas bermain pasir, waktunya snorkling, lokasi snorkling tidak jauh dari bibir pantai kurang lebih kita berpindah tempat 100 meteran dari tepi pantai masih dengan menggunakan kapal. Spot ini ramai jika musim liburan, disana terhampar karang dan berbagai jenis ikan hias beraneka warna. Keke, adam, dan tetya tidak berani turun ikut snorkling, jadi yang snorkling hanya mami dan tante leon. Ayah juga masih belum berani hehehe, jadi nungguin di atas kapal sambil teriak-teriak. Tante leon hanya sebentar karena jarinya terluka tergores tali kapal (kasihan tante leon). Snorkling memang belum cocok untuk anak-anak, tapi view disekitar lokasi snorkling sangat cantik.

View underwater

Underwater View

Ikan beraneka warna

Ikan beraneka warna

More and more fishes

More and more fishes

Gili genting

Kurang lebih kita menghabiskan waktu selama 1 jam di spot snorkling sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan dan pindah ke pulau gili genting yang populer dengan pantai sembilan. Dari gili labak ke gili genting memakan waktu satu jam, sekali lagi anak-anak tertidur di kapal. Mereka kenyang makan mie cup yang dijual di warung gili labak seharga 7000 per cup, dan kelapa muda seharga 10000/biji, sungguh nikmat.

Kelapa muda minuman wajib di gili labak

Kelapa muda minuman wajib di gili labak

Sampai di gili genting, kita tidak turun dipelabuhan namun turun langsung dibibir pantai menggunakan tangga. Yes, anak-anak langsung mengeksplorasi pantai, pasir, dan bermain hingga puas, tanpa menghiraukan panas terik (mungkin mereka pede setelah dioles banana boat spf 50) matahari pukul 13.00.  kurang lebih satu jam kita di gili genting.

Salah satu spot di gili genting (pantai sembilan)

Salah satu spot di gili genting (pantai sembilan)

Icon pulau sembilan

Icon pulau sembilan

Playing sand at pantai sembilan

Playing sand at pantai sembilan

Gili genting lebih besar dari gili labak, lebih menyerupai kampung nelayan, lebih ramai, dan banyak penjual makanan. Pantai sembilan yang menjadi ikon gili genting saat itu tidak terlihat (airnya surut, dan menyisakan gundukan pasir). Overall, gili labak is the best.

Menikmati pemandangan laut dari kapal

Menikmati pemandangan laut dari kapal

 

Goodbyeeee

Jam 2 siang mulai meninggalkan gili genting menuju pelabuhan tanjung, total waktu 30 menit. Disini tetya duduk di ujung kapal, mas adam di buritan, merasakan hembusan angin laut yang tidak setiap hari bisa dirasakan. Setelah sampai dipelabuhan, kita istirahat dan bersih-bersih diri dan makan siang. Tepat pukul 16.00 kita melanjutkan perjalanan pulang ke surabaya. See you on the next trip.

Tips:

*Sunblock adalah benda wajib yang harus dipake ketika ke pantai, kita pake banana boat spf 50 aloe vera, dan terbukti bebas sunburn dan belang. Padahal saya mengolesnya tidak setiap jam (capek juga mengoles 4 orang dengan sb setiap jam).

*Topi lebar dan kacamata, tapi anak-anak suka susah pake topi dan kacamata.

*Minyak kayu putih, wajib oles sering-sering karena anak-anak basah dan kena angin dalam waktu yang lama.

*Plaster handyplast, banyak karang yang bisa melukai, serta pasir yang tajam.

*Cemilan??? Dijamin anak-anak pasti lupa makan saking gembiranya.

*Air putih, yah banyakin minum air putih agar tidak dehidrasi.

 

Solo part III: becak trip

Tada, bangun tidur ternyata sudah hari minggu, time to pack. Tapi sebelum itu, masih ada waktu seharian sebelum pulang dengan kereta sore. Jam 8 sudah pergi sarapan dihotel, seperti biasa menu campur indo-western gitu, karena kangen sama dick bread heheh (itu menjadi menu pertama ditambah plain butter, yummy), trus ambil sosis chicken & meat plus salad sayur, masih belum selse yah petualangan sarapan, ditambah dengan sushiiii (sayang sushinya kurang pas, terlalu ‘atos’, yang harusnya sushi itu memang agak-agak longgar, nggak diteken2 kayak lontong).  Sedangkan suami, makan nasi sama ikan saus asam manis, sama soto campur tanpa nasi.

Habis sarapan bingung mau kemana, kan masih jam 9. Tapi akhirnya mau jalan ke PGS lihat ada apa disana, setelah nyari becak dan ternyata ke PGS hanya 10 ribu IDR only tanpa nawar tanpa eyel2an kayak di surabaya. Ternyata disepanjang jalan slamet riyadi kalo hari minggu ada car free day, jadi jalanan rame pejalan kaki, sepeda, yang main bola, becak, dan aktivitas tanpa mesin lainnya. Setelah ngobrol sama bapak becak, akhirnya kita muter arah ke kampung batik kauman yang lokasinya sih sebelum PGS karena ternyata PGS buka jam 10. AKhirnya dikampung batik ini memang lebih murah dibading yang laweyan, tapi kok banyak baju yang dijual modelnya kurang up to date (ato aku yang ga up date), kalo dilaweyan lebih personal, kalo disini cenderung produk massal, pantes ajah lebih murah. Disini hanya beli beberapa daster/baby doll yang rata2 30 ribuan, sama kaos2 tulisan solo buat oleh-oleh.

Setelah keringeten milih-milih, kita lanjut ke toko serabi notoyudan, katanya ini serabi paling top sekota solo haha (masih dengan becak yang sama), disana ada 2 toko serabai yang berseberangan, sama-sama otentik (katanya), yang satu ny lydia, satu lagi ny handayani, akhirnya milih yang handayani karena yah itu tadi menurut internet itu yang ngetop haha. Beli hanya 20 biji, pengennya beli banyak buat oleh-oleh, tapi mbak penjual bilang ini hanya tahan sampe malam (hiks), jadinya yah hanya beli 20 yang akan kita sikat sendiri besok paginya (kalo ga basi), oya harga per-serabi 1800 yang original dan 2000 yang coklat, murah sekali bukan sedangkan disini 2000 tapi rasanya jauuuuuh.

Balik ke hotel masih dengan becak yang sama, ternyata enak jalan-jalan sama becak, akhirnya total kita hanya bayar 40 ribu buat becak yang sudah muter-muter tadi. Nyampe hotel packing dikit dan istirahat, sebelum beli oleh-oleh buat little girl dirumah, memang nyariin genduk cilik ini susah-susah gampang. Susahnya, yah bingung mau beliin apa? gampangnya, yah selama ada matahari sih semua aman. Akhirnya kita pergi ke solo grand mall, yang cuma 500 meter dari hotel jaraknya (naik taksi ajah kali ini), trus langsung ke matahari buat beli mainan ikan dan pancingan 2 set (disidoarjo yo akeh kayak ginian), trus baju motif bunga merah marun (50% off), dan pas mau turun lihat sponge bob t-shirt lagi sale 50% juga, akhirnya ambil satu. Sebelum pulang, mampir dulu beli straw dan blueberry cheese cake breadtalk (kok ga seenak yang dijakarta yak).

Ke hotel naik becak hehe, walah hari ini kok banyak becak yah judulnya. Pokoknya puas2in naik becak berdua (jarang-jarang kan). Nyampe hotel kita mandi-mandi dan siap-siap check out ninggalin solo. Check out jam satu, sedangkan kereta jam 3, ngapain yah?? akhirnya kita mutusin buat nyoba tahu kupat solo yang deket hotel sahid, naik becak hanya 8000 katanya, hah??kaget lagi yak. Akhirnya biar sama-sama untung sepakat ditunggu sama bapak becak sampe kita selse makan kupat. Tahu kupat solo ini dijual diwarung-warung, ada kurleb tiga warung yang jual tahu kupat diperempatan jalan gajahmada (kalo ga salah), semua rame pengunjung dan kita makan di yang paling pojok. Tahu kupat, kalo di surabaya yah tahu tek-tek, cuma yang ini isinya ada mie dan pake kupat bukan lontong. Bumbunya hanya pake kuah kecap dan kacang tanah sebagai taburan bukan kacang tumbuk campur petis dan kecap.

Finally, time to go, ke stasiun solo balapan, dan kretapun datang on time jam 3 sore, dan nyampe surabaya jam 7 malam. Fiuh, perjalanan yang seru dan ga bikin kapok. dari stasiun we drove home and meet lil girl (yang ternyata belum tidur).

Solo part II: ubek-ubek solo

Kenyang setelah makan tongseng dan nasi goreng, acara kita lanjutkan untuk jalan-jalan dengan berbekal peta solo (yang ternyata kota solo itu kecil, jadi mudah untuk diubek-ubek). Dan saat itu aku kontak temen yang juga datang ke resepsi wedding si joy, dan sepakat untuk jalan bareng. Jadi sore itu kita jalan bertiga, tujuan utama adalah pasar klewer, naik taksi cuma 11-an ribu, tapi kan kena tarif minimal jadi yah 15 ribu. Terkaget-kaget pas lihat pasar klewer yang super terkenal itu, yah betul-betul pasar, kayak sukowati kalo dibali. Penjual (mainly batik) ada disepanjang dalam pasar, jalan bagi pengunjung hanya kecil, paling banter bisa muat 2 orang, panas, dan penjual-penjual yang agresif. Jadi kalo tidak pernah ke klewer atau tidak tahu harga dan barang mending cepet-cepet keluar deh. Kita nggak ada 10 menit sudah keluar lagi dari pasar hehe…Tapi kalo mau, sebelum klewe ada PGS (pusat grosir solo) dan kraton solo tentunya disatu spot.

Keluar klewer, kita naik taksi lagi ke kampung batik laweyan, lumayan agak jauh sih, tapi sekali lagi bayar taksi hanya 15 ribu saja (naik taksi kayaknya serba 15 ribu hihi). Konsep kampung batik ini yah kampung yang penduduknya bikin dan jual batik. Kita sudah janjian sama taksi bahwa kita minta ditunggu, karena memang masuk-masuk gang kampung gitu. Langsung masuk, waktu itu ke batik putra, tempatnya lumayan ok, jadi rata-rata disana rumah disulap jadi workshop sekalian. Di toko batik ini aku nemuin batik yang model dan warna yang cocok, kalo dikampung batik ini, harganya lumayan mahal karena minimal 100-an ribu ke atas…jadi yah ga usah beli banyak-banyak, tapi sudah bisa make pembayaran elektronik haha.

Lepas dari kampung batik laweyan, pindah ke toko roti orion, wuih rasanya dari ujung ke ujung, karena toko roti ini arahnya yah ke klewer tadi. Tapi setelah crita-crita, akhirnya kita sepakat makan timlo dulu deket orion, yakni diwarung timlo solo masih satu jalan sama orion. Masuk timlo solo, aku mesen timlo telur pake lontong, yang lain timlo telur pake nasi, harga 14 ribuan. Rasanya, meskipun sudah luama sekali nggak makan timlo, tapi aku rasa timlo ini masih kurang yummy tapi kuahnya ok. Dan setelah diusut, ternyata timlo yang enak katanya timlo sastro yak..ato apa gitu…(belum sempet nyoba).

Setelah ke timlo, kita jalan beberapa rumah/toko ke orion, katanya ini sangat khas solo lho. Mandarin dan roti semir (kata temen) adalah signature-nya orion hehhehehe…jadi disana beli beberapa mandarin spesial (semir ga dapat) dan nurutku mandarin itu yah mirip lapis surabaya, roti kering orion, srundeng klapa varia (kayaknya enak) dan kata temen-temen kantor yummy banget. Habis diorion kita back to hotel, siap-siap pergi ke acara resepsi. Dan lagi-lagi naik taksi, yah cuma 15 ribu haha.

Acara resepsi diundangan yah jam 7 malam, dihotel dana, nggak sampe 100 meter dari novotel, sebetulnya kita mau jalan atau naik becak, cuma saat itu hujan kenceng jadinya yah taksi lagi-taksi lagi. Di acara, yang make adat jawa tengah banget, bikin suami terkaget-kaget, lha kalo disurabaya kan sistemnya salam, makan, pulang. Kalo disini datang, duduk, makan, acara, pulang (salaman yah pas acara selse, mantennya yg nunggu dipintu keluar, bukan tamu yang naik kuwade hehehe). Karena ini baru pertama bagi suami, yah aku jelasin secara bokap orang jawa tengah dan aku sering datang ke acara-acara yang mirip ini dimana semua tamu datang pada jam yang sama (jangan sampe telat yah, atau nggak kebagian makan). Setelah duduk, sambil dengerin acara pembuka kita diberi hidangan pembuka (biasanya kue-kue gitu), trus ada makanan pembuka lagi (biasanya sup, beberapa kalo mang sup hihi), terus makan berat (bisa nasi, bisa yg lain) dan terakhir minuman atau es. Kalo kemaren dapat makan selad solo, yang kebetulan aku juga pengen icip-icip, jadinya pas deh.

Sambil makan, kita reuni, karena beberapa teman yang dari jakarta, jogja pada datang, dan seperti biasa foto-foto. Acara selse jam 9, kita pulang jalan kaki ajah, sambil nurunin isi perut. Disepanjang jalan banyak yang jual serabi solo digerobak-gerobak gitu, juga becak mangkal, dan warung tenda yang lupa jualan apa mereka. Okay, dah ngantuk, besok lanjut lagi solo part III: becak trip

Solo part I: perjalanan

Sabtu pagi pun tiba, jam 5.20 we heading to the station, well maybe it takes around 50 min from sidoarjo to surabaya. Pagi itu yang kita kira bakal sepi, ternyata sangat crowded. Setelah selesai dengan urusan cetak tiket jam 6.35 masuk stasiun (gubeng), awalnya nggak tahu kalo ada executive lounge (maklum orang udik ini), akhirnya masuk juga dan ternyata yah tetep panas karena dari kurleb 5 AC yang ada yang nyala hanya 2, sedangkan didalam full penumpang yang siap-siap berangkat (entah ke jogja atau bandung). Jangan dibayangkan executive lounge kayak yang dibandara yang super cozy, disini lebih mirip ruang tunggu dengan kursi-kursi dan pendingin ruangan. Ada juga cafe kecil didalam jika ingin jajan.

Jadwal kereta jam 7.00 am, molor jadi jam 7.20, yah its ok, asal ga molor banyak-banyak, dan keretapun datang. hmmm ternyata gerbong kita no 2 dari belakang (jauh juga jalannya secara rangkaian kereta sangat panjang). Setelah cari-cari no kursi, kita sudah sibuk atur-atur barang dikabin, betulin sandaran kaki (yang sepertinya rusak). Untuk ukuran pagi atau siang, temperatur dalam ruangan sangat dingin, sehingga diputuskan untuk make selimut hihihi, rencana mau bawa syal lebar kelupaan tapi gpp kan ada selimut yang bisa disewa hanya dengan bayar Rp. 3000.

Perjalanan lumayan lancar, kursi nyaman dan jauh lebih lapang dari kelas ekonomi pesawat meskipun ukuran kursi relatif sama, juga enaknya lagi ga ada turbulance hahaha. Yang bikin nggak enak yah ketika berhenti dibeberapa stasiun misalnya wonokromo, mojokerto, jombang, kertosono, nganjuk, madiun…etc, itu yang sangat annoying. Dalam kereta, petugas kereta api juga berjualan kue-kua dan makanan berat dengan harga yang relatif terjangkau bagi penumpang eksekutif. Tapi sayangnya saya tidak sempat cicipin karena bawa bekal home made sandwich, donut dan hot coffe beli distasiun. Tapi kita berdua slalu bayangin, coba ada keke (our daughter) dia pasti suka makan nasi goreng yang dijual dikereta.

Ga terasa perjalanan 5 jam akhirnya berakhir, jam 12.30 nyampe deh di solo balapan. Stasiunnya nggak terlalu besar seperti disurabaya. Turun dari kereta dipintu keluar stasiun sudah disambut oleh petugas konter taksi didalam stasiun, karena ini juga yang pertama kali make taksi di stasiun jadinya kita ikut saja. Kita sebut tujuan, waktu itu langsung ke novotel kena tarif 25.000 dan lucunya si taksi berupa sedan putih tanpa argo (awwwww). Ternyata setelah di usut, bahwa taksi yang ada dalam stasiun adalah taksi tanpa argo, jadi kalo mau naik yang pake argo harus keluar stasiun dulu (yang terus terang saat itu solo sangat panas, lebih panas dari surabaya). Dan jika make taksi argo ke hotel, hanya kena 15.000 karena jarak stasiun ke hotel hanya kurleb 3 km saja.

Dari hotel check in (sudah pesen via online beberapa hari sebelum, dan lagi hot deals saat itu, jadinya murah), cuma kenapa yah kok rasanya layanan resepsionis di hotel kurang maksimal. Ga tahu karena saya tamu dengan harga diskon hehehe, ato karena saya banyak tanya, yah whatever. Yang pasti si resepsionis hanya ngasih peta kota solo dan kalo ditanya-tanya soal ‘hot spot’ disolo kayak yang nggak tahu, jadinya yah balik lagi, internet is the best teacher.

Kita nginap dilantai 7, hotel sebetulnya lumayan rame sih, kamar lumayan gede  perpaduan modern dan antik haha…dan yang paling penting dikamar ada wifi jadi bisa online browsing lokasi menarik disolo. All in all, smua dilakukan sendiri, mulai nentuin mau jalan kemana, beli apa, makan apa, naik apa…smua kita arrange sendiri. Karena judulnya liburan, dan kalo liburan kita itu tipe lazy travellers (atau slow tourist), jadi yah smua dibikin senyaman mungkin. Oya tapi niat awal ke solo bukan bener2 liburan tapi memenuhi undangan temen yang merit disalah satu hotel disana.

Dari rumah mang sudah wanti2 buat icip-icip makanan solo, salah satunya tongseng (suami paling doyan tongseng), jadi pas nyampe hotel langsung deh order tongseng dan aku nasi goreng super spesial. Tapi sayang, lupa moto karena saking laparnya, secara penampilan, makanan khas hotel pasti sangat menarik, porsi juga lumayan jumbo untuk harga 50 ribuan each. Cuma nurutku si tongseng kurang nendang (krg sedep ajah), kalo nasih goreng sih overall, banyaklah yg bisa nandingin hihihi, but kita berdua kenyang. What next????….Baca Solo part II: ubek-ubek solo

 

Tiket Kereta Api

Rasanya sudah hampir 5 tahun aku tidak menikmati kereta api jarak jauh yang ada di indonesia, terakhir sekitar hampir 2 tahun yang lalu naik komuter, setelah itu belum pernah lagi. Nah, minggu ini, berawal dari undangan teman kuliah jaman dulu yang rencananya mau ngunduh mantu pada bulan maret ini di solo, krn dekat kita putuskan untuk datang sekalian liburan dan ketemu teman-teman. Sebetulnya ada 2 opsi keberangkatan, pertama bawa mobil sendiri memang lebih nyaman, dan fleksibel, cuma setelah dipikir dan hitung banyak kurangnya, pertama karena kita belum pernah nyetir jarak jauh, kedua kan pengennya refreshing (berdua), ketiga harga BBM kok rasanya semakin menggila yah..sudah hampir 10 ribu malah…jadi naik kereta jadi alternatif yang dipilih, selain nyaman (katanya), hemat (kan transport umum), trus cepat (4 jam only).

Singkat cerita, hari senin booking hotel, selasa reservasi tiket KA di stasiun (belum tahu kalo bisa online), ternyata hari itu kita bawa uang ga banyak (dengan harapan loket reservasi bisa nerima debit (bukan bca) or cc. Ternyata setelah kita kesana opsi pembayaran elektronik tersebut tidak tersedia, jadinya beli tiket pergi dulu, baru setelah ambil atm beli yang pulang (lucu juga yak), tapi akhirnya sampe sore kita ga balik ke stasiun karena toh besok bisa kembali lagi…

Besoknya, siang hari, suami kembali ke satsiun buat reserve tiket balik, dan ternyata sudah fully booked, ada opsi naik kereta yang dari bandung dihari dan 2 jam lebih cepat dari jadwal kereta sebelumnya, tetapi apa yang terjadi??sistem jaringan error, jadi tidak bisa reserve dan setelah ditunggu sampe 2 jam masih eror juga, akhirnya diputuskan untuk datang malam hari ke stasiun. Hasilnya??masih error juga, walah.  Nyampe rumah sudah sangat malam, ga mungkin mau nelp call center buat online booking, akhirnya besok paginya jam 7 pagi nelp call center yang dijawab dengan ramah dan dipandu buat reserve ulang. Jika dikonter reservasi manual kita harus ngisi form pemesanan (yang bagiku agak mengganggu, tapi kayaknya memang form diperlukan untuk memastikan pesanan sesuai dan benar) dan petugas reservasinya alamak…kok tidak bersahabat yah dengan customer (tampang cuek, njawab seadanya, body language ga ramah) kalo petugas reservasi online masih cukup baiklah. Akhirnya dapat kode booking yang harus digunakan untuk melakukan pembayaran melalui ATM dalam waktu 3 jam, dan setelah itu tiket bisa dicetakkan di stasiun-stasiun yang online.

Setelah membayar, langsung ke stasiun (yang sudah online tentunya), ternyata disana kita ditolak dengan alasan transaksi bisa diproses setelah 24 jam (hah) jadi konsep ONLINE itu yah tetep ada nunggunya…tetep menyusahkan…tetep ga bersahabat dengan kita-kita yang waktunya tidak hanya ngurusin tiket kereta, ditambah lagi harus menyerahkan fotokopi KTP (lha mbak CS nggak bilang begitu, dan di website juga tidak tertera seperti itu, tentu saja saya menolak). Akhirnya back to kampus dan cerita2 ke teman, dan diperoleh kesimpulan akhir bahwa ‘ ingat kita tinggal di indonesia’ jadi yah harap maklum….hmmmmm

Besoknya datang lagi, ternyata sistem error lagi dan parahnya masih belum tahu kapan selsenya. Akhirnya dengan sedikit memaksa dan (dongkol) kita diberi solusi untuk cetak tiket keesokan harinya (yang mana besok adalah hari keberangkatan, mana jam 7 pagi pula), dan alternative kalo ternyata (besok) tidak bisa maka harus cetak waktu pulang yakni di solo.

Sabtu pagi, dihari keberangkatan saya sengaja datang lebih pagi (jam 6.15 sudah nyampe stasiun), karena kemaren sore dipesenin kalo loket reservasi buka dari jam 6 pagi. Jam 6.20 sudah datang ke reservasi mau cetak tiket, dan ternyata didalam sudah ada beberapa orang yang menunggu. Lho kok meja-meja konternya kosong? (pikirku dalam hati), setelah iseng tanya ke cleaning service malah dapat jawaban ‘biasanya jam 6.30’ datangnya. Akhirnya pergi lagi, dan ternyata pas jam 6.30 kurang dikit balik lagi ternyata petugas reservasi sudah datang dan melayani dengan ramah tanpa menggunakan KTP (thanks god).

Memang yah PT kereta api indonesia ini sangat besar baik dilihat dari layanan dan jaringan stasiun. Banyak masyarakat indonesia yang masih sangat tergantung dengan kereta api, itu terlihat dari selalu terjualnya tiet-tiket kereta api baik jarak dekat/menengah/jauh. Kereta masih dipercaya untuk  menjadi solusi berkendara karena alasan kenyamanan dan murah. Namun dengan menjadi satu-satunya pengelola kereta api menjadikan PT kereta api juga jadi ‘semau gue’, alias kurang memperhatikan layanan (masalah reservasi misalnya). Aturan yang berbeda juga sangat membingungkan pengguna, harusnya sosialisasi SOP juga perlu dilakukan agar kebiajakan dari pusat bisa sampai ke titik layanan paling bawah (customer service). Opsi pembayaran di loket reservasi juga seharusnya mulai diperhatikan, mengingat saat ini hampir banyak masyarakat indonesia yang memanfaatkan jasa pembayaran elektronik karena kemudahan dan efisien (tanpa harus bawa uang banyak2). Online reservasi juga agar bisa dipermudah, bisa melalui internet (bukan hanya call center).

Selain hal-hal tersebut, saya rasa, perjalanan menggunakan kereta sangat nyaman, ontime (solo-surabaya tepat 4 jam), bersih dan bebas pedagang berseliweran (hanya dipintu2 masuk kereta saja). Jika bawa anak-anak rasanya cukup nyaman yah, karena anak-anak bisa berlarian di gang, cuma lebih baik anak kecil (jika sudah bisa berjalan) lebih baik beli tiket sendiri (anak usia 3 tahun ke atas harus full tiket) karena kursi benar-benar hanya cukup untuk 2 orang (ato gara2 saya gemuk ya hehehe). Jika ditanya mau pake kereta api lagi?? untuk jarak menengah solo/jogja/jember bolehlah dengan kereta eksekutif, tapi kalo jarak jauh, jakarta misalnya saya lebih memilih pesawat (karena nggak kuat nunggu kereta yang bolak-balik berhenti).