Category Archives: Uncategorized

Shocking Nite

Hari rabu malam, waktunya kontrol kehamilan. Yes, ini minggu ke 35/36, masih pede kalo kehamilan baik-baik saja. Sudah mulai cuti (meski belum resmi) karena memang kampus sedang minggu tenang, jadi sejak hari kamis minggu lalu sudah stay at home. Hari ini (rabu) seharian main sama kevin, siang ke bank urus e-banking, sampe sore. Setelah dari bank, agak pusing dikit (sangat nggak kerasa, tapi ada) mungkin lapar, tapi tetep lanjut ke rumah nyokap yang 15 menit jauhnya. Nyampe sana makan, dan ngobrol2 sampe habis magrib, trus balik pulang.

Dapat no antrian dokter no 12, jika dokter baru dateng jam 8 malam, maka no 12 akan tiba sekitar jam 9.30-10.00 malam. Datang jam 10, nunggu 3 antrian, masuklah ke ruangan dokter, tapi sebelum itu aku ditimbang (wah sudah naik 16 kg hehe) trus yang bikin kaget tensi darah naik 150/90, wah ini tanda-tanda ga baik. Akhirnya namaku dpanggil buat masuk ke ruangan, dan dokter langsung tanya soal keluhan (sapaan standar si dokter hehe), dan kubilang i’m fine kecuali tensi yang naik, yang bulan-bulan biasanya 120/80 kok ini tiba-tiba menaik, ada apakah?.

AKhirnya aku di USG, untuk berat badan ok sudah 2.5 kg, kepala, badan, jantung, etc smua ok, cuma sayang air ketuban banyak berkurang, dan tadi ditunjukin ada beberapa titik yang air ketubannya sangat sedikit tapi masih ada. Ok what next, ada beberapa opsi soal kondisiku saat itu, pertama dokter menyimpulkan sementara bahwa aku kena pre-eclamsi ringan (kaki agak bengkak), trus aku juga diminta untuk tes darah dan urin di lab besoknya. Dari hasil itu makan akan diambil tindakan, misalnya, aku harus masuk hospital selama kurang lebih 2 hari untuk di treatmen (bukan aku, tapi bayi yang di treatmen atau dimatangkan), setelah itu jika aku getting better (tensi normal) maka baby akan dilahirkan pada week 38, tapi kalo getting worse, yah terpaksa bayi akan dilahirkan prematur.

Prematur, aku jadi ingat anak pertama (kevin), lahir di minggu 36 karena aku terkena gejala pre-eklamsi yang sudah cukup berat, jadi hari itu juga kevin harus dilahirkan secara sesar. Yah, kita berharap yang terbaik, berdoa agar ibu n baby sehat, berpikir positif (meski susah), dan nunggu hasil besok.

Advertisements

The consal experience 3

Hari kamis, hari ketiga di bali dan konferensi, hari jalan-jalan, karena memang agenda konferensi hari ini adalah kunjungan ke perpustakaan dan tempat wisata, kalo nggak salah ada 6 pilihan lokasi kunjungan. Pagi itu jam 8, semua peserta berkumpul di lobi hotel menunggu bis yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing sesuai pilihan. Kunjungan dalam acara konferensi adalah hal biasa, karena memang kita pergi ke tempat baru tidak hanya ingin menghadiri konferensi saja, tetapi juga yah mengunjungi tempat-tempat menarik sesuai dnegan tema konferensi saat itu. Karena saya tidak mungkin ikut perjalanan (karena hamil tua), jadi diputuskan untuk tidak ikut tour tersebut, dan stay di hotel sambil menunggu waktu cek out.

Waktu cek out jam 12, masih lama donk, jadilah kita pergi naik taksi ke toko oleh-oleh 24 jam, khrisna, yah beli beberapa baju buat keke, dan tas buat temen2, sama kacang-kacangan, tau tuh oleh-oleh dibali kok isinya dari kacang ke kacang hehe…ga sempet jelajah toko sepanjang kartika plaza, yang temen-temen peserta bilang lagi banyak sale…tapi rasa capek dan takut capek membuat aku selama 3 hari itu stay di hotel (niatnya mang bukan jalan2 kok), bahkan ke pantai pun tidak.

Untuk acara-acara seperti ini, kurasa sangat bagus, bisa menambah wawasan dan teman baru, ditambah para peserta semua pada semangat dan antusias untuk mengikuti acara dari awal sampai akhir. Aku membayangkan bahwa acara presentasi paper akan mengurangi minat peserta, ternyata tidal, dari pagi jam 8 pagi sampai jam 4 sore, ada 5 ruang presentasi, dan semua rata-rata penuh oleh audience. Bahkan yang tidak (kurang) berbahasa inggrispun menyempatkan meminjam alat penterjemah sehingga mereka tetap mengikuti jalannya konferensi dnegan baik.

tentang my paper, akan diposting tersendiri…

Naik Pesawat Ketika Hamil?

Tidak pernah kepikir olehku, bakalan naik pesawat di saat hamil. Makanya cuek ajah ketika hamil (karena toh nggak bakal kemana-mana, apalagi naik peswat), jadinya yah nggak pernah cari-cari info soal itu, baik dari pihak doker maupun maskapai penerbangan. Ternyata tahun ini, dikehamilanku yang ke-tiga, aku diberi kesempatan merasakan terbang ketika hamil, dan nggak tanggung-tanggung, di week 32/33 pula. Nervous? pastinya, karena pas nggak hamil saja aku paling paranoid naik pesawat (selain sempit, terbang pula), makanya tiap naik pesawat aku selalu milih-milih, kalo nggak pake maskapai ‘A’ nggak mau jalan hehe…meskipun paraniod ini sering bikin repot kantong dan teman (kalo sama teman, kepaksa dia harus ikut naik pesawat tertentu tersebut hehe)…

Okay, back to hamil dan penerbangan. Sebetulnya apa sih yang ditakutkan oleh orang hamil ketika terbang? kata banyak orang sih karena tekanan udara yang kuat bisa membahayakan kehamilan, misalnya terjadi abortus pada usia kehamilan muda, atau lahir prematur pada usia kehamilan tua. Bahkan ketika aku konsultasi ke 2 SpoG, mereka punya pandangan yang jauh berbeda tentang hamil dan penerbangan, SpOg yang laki-laki cenderung membawa enjoy dan mengatakan bahwa terbang ketika hamil is very very save as long as the mother and baby are healthy. So no problem at all, dan paling maksimal sampe wekk 34 masih ok-lah. Sedangkan dokter SpOg ku yang satu lagi, kebetulan perempuan, sangat hati-hati dalam menanggapi terbang dan kehamilan, dan resiko-resiko selama terbang dijabarkan dengan sangat ‘menakutkan’ (menurutku) dan itu membuat kita down. Meskipun dia bilang it’s ok, terbang di usia 32 week, tapi…ada resiko bayi mengalami sudden death (wuih serem yah), karena air pressure.

Akibatnya, dari kedua pengalaman tersebut, saya cenderung memedang pendapat yang pertama, selain karena melegakan, dan membuat kita semangat, secara fisik dan psikologis, pikiran positif maka mempengaruhi kondisi tubuh juga. Tapi nggak semudah itu lho setelah mendengar dua aption tentang bahaya terbang selama hamil, setelah si dokter bilang resiko-resiko yang ada aku jadi kepikiran, sedikit stress, nggak bisa tidur, dikit-dikit megang perut merasakan gerakan bayi, efeknya aku jadi pusing, malas, dan nervous tingkat tinggi. Minta pendapat ke teman-teman, dan ternyata mereka memberikan tanggapan yang positif, suami juga mendukung n bilang no worries, as long as aku merasa nyaman n yakin it’s ok, yah it’s ok. Dan temen juga mendukung, berfikir positif saja, karena yang bawa bayi kan aku, kalo aku negrasa gpp dan kuat, dan baik-baik ajah, maka baby jug angerasa gitu. Kalo kita stress bisa-bisa kebawa ke baby (bener juga).

Saat terbangpun tiba, cek in lebih awal karena hamil tua semua harus serba slow motion dan denger-denger kalo hamil harus lapor dulu sebelum terbang. jadi di konter cek in, tertulis standing banner yang menyatakan bahwa ‘wanita hamil harus lapor ke kantor dahulu sebelum terbang’ kwkwkw…oyah ketika cek in, aku jug abilang k epetugas kalo sedang hamil dan tolong dipilihin kursi yang enak hehe, alias ngga deket dengan emergency exit, dan kalo bisa depan-depan ajah kursinya. Setelah selesai cek in, aku pergi ke kantor maskapainya untuk mengisi beberapa form pernyataan tentang kehamilan, disana juga ditanyain tentang surat pengantar dari dokter yang menyatakan kalo kita dalam kondisi sehat dan usia kehamilan kita. Form yang diisi semacam surat pernyataan bahwa kita terbang dan resiko yang terjadi selama penerbangan diluar tanggung jawab maskapi, bla..bla..dan disertai ttd di atas materai.

Ketika terbang, pake sabuk pengaman harus hati-hati, jgn sampe mencekik perut, agak longgar sedikit. Selama penerbangan yang biasanya aku lepas sabuk pengaman, ini nggak berani karena takut tiba-tiba terjadi turbulence hehe…dan selama perjalanan mulai dari take off dan landing, semua smooth (alhamdullilah) dan perjalanan yang hanya 40 minit jadi nggak berasa, dan baby alhamdulliah sehat sampai tujuan. Prosedur yang sama juga dijalanin ketika balik dari denpasar ke surabaya. jadi, intinya terbang ketika hamil insya allah its ok selama ibu dan bayi sehat, serta buang jauh-jauh pikiran negatif.

the consal experience 2

Selasa, waktunya berangkat ke bali, berat rasanya ninggalin kevin dirumah ditambah stress gara-gara habis dari dokter malam sebelumnya. Tapi the show must go on kan, karena smua sdh di booking, hotel, tiket. Ternyata dari bandara juanda, pesawat on time, dan 40 minit later sudah mendarat di kuta. Honestly, ini perjalanan naik pesawat pertama ke bali (dan i’m kind of shock, karena di bayanganku bandara internasional denapasar itu megah dan bersih, tetapi ini kebalikannya, atau mungkin karena sedang direnovasi yah)

Setelah beli kupon taksi seharga 50 ribu, jalanlah kita ke discovery kartka plaza (the venue), sama seperti bandaranya, jlaan kartika plaza yang terkenal ramai itupun ternyata jalan 2 arah yang hanya bisa dilewatin 2 mobil dan snagat crowded. sampai di hotel langsung menuju ke pendafataran peserta, dan in my opinion, panitia telah mempersaipkan segala sesuatunya dengan baik dan sistematis, nggak kalah sama registrasi-nya IFLA, cuma ketika mencari namaku agak lama dapetinnya, karena mungkin tidak mengenal surname and first name yah…

Badge, jadwal, buku panduan, sampai map sudah didapat, then, yah ikutin acara konferensi-nya, yang puncaknya akan dilaksanakan hari rabu-nya (jadwal presentasi paper hari rabu). Acara berjalan dengan lancar, malam hari ada acara welcome dinner di helipad tepi pantai discovery, cukup mewah susunan table-nya, acara juga meriah (lagu, dance) menu juga bervariasi, dan yang paling penting adalah networking. Disana ketemu banyak teman (lama), para dosen-dosen ku dulu di unpad pada hadir di acara tersebut, teman seangkatan waktu kuliah juga ada, teman2 baru juga banyak, so malam itu, malam yang aku bayangkan bakal boring ternyata menyenangkan.

acara ditutup jam 9 pm, wow, hari yang melelahkan, back to hotel n sleep tight. Cu tomorrow….

The consal experience

Baru ada kesempatan menulis soal consal xv di denpasar bali minggu lalu. Meskipun ini adalah konferensi ke-dua tapi tetap membawa kesan yang berbeda. FYI, consal adalah salah satu konferensi perpustakaan terbesar di tingkat Asia Tenggara yang diselenggarakan 3 tahun sekali. Ok, saya mulai dari pre-departure saja. Tahun ini memang tahun keberuntungan buatku, karena tuan rumah consal yah indonesia, dan lokasi konference di Bali, pas kan (hanya 40 menit dari Surabaya by plane). Tetapi, meskipun dekat, banyak hal yang sangat-sangat menjadi pertimbangan sebelum berangkat karena kondisi saya yang saat itu (pas consal, hamil 32/33 minggu).

Awal februari pengumuman bahwa paper kita diterima oleh consal, wah senang dong berarti bisa goes to bali nih bulan Mei nanti, ditambah ada free registrasi (meskipun registrasi di consal tidak semahal beberapa konferensi internasional lainnya, yang rata-rata sudah di atas 3 juta), tapi free registrasi tidak dibarengi dengan free-free lainnya seperti hotel dan transport hehehe (maunya yang enak-enak), dan ini beda dengan pengalaman seorang teman 3 tahun lalu yang mengikuti consal di Vietnam dan mendapatkan free registrasi, hotel, dan transport lokal. Bagi saya, setidaknya registrasi di cover ok-lah, dan ternyata dari kantor ada fasilitas untuk konferensi internasional (wow that save my pocket…)

Bulan Maret sudah tanya ke dokter SpOg soal kehamilan dan naik pesawat, hasilnya? si dokter malah santai dan bilang that’s ok, tapi nanti kondisiku akan dilihat beberapa hari sebelum terbang, apakah aku ada keluhan, sakit, etc. Lega donk sudah dapat lampu hijau, jadi bikin papernya makin semangat. Pada saat itu belum booking airlines dan hotel (takut batal berangkat pas bulan mei), padahal garuda indonesia lagi promo, sby-dps hanya 250 ribu rupiah.

2 minggu sebelum hari H, ke dokter SpOg (yang ini beda dengan dokter yang pertama), well setelah memeriksa si dokter menyarankan balik lagi beberapa hari sebelum berangkat, jadi si dokter belum mau kasih surat keterangan yang akan kupakai buat terbang. 1 minggu sebelum berangkat, ke dokter SpOg yang pertama, setelah aku n baby di cek, ternyata baby-ku kelilit tali plasenta 2 kali, dan kabar bagusnya aku dinyatakan layak terbang saat itu usia kehamilan 31/32 minggu…wuih senengnya, dan besoknya langsung booking tiket yang harganya sudah naik jadi 2x lipat. Langsung telp hotel buat reservasi, dan aku beruntung masih dapat tempat di venue, discovery kartika plaza hotel. Pertimbangan utama kenapa memilih hotel tersebut adalah karena saya hamil, dan biar gampang bolak-balik antara kamar dan ruang konferensi.

Hotel dan pesawat sudah ok, tinggal meyakinkan diri untuk terbang dalam kondisi hamil, banyak browsing dan baca-baca milist serta berita soal ini, dan sebagian informasi yang aku baca semaunya positif soal ibu hamil dan naik pesawat (jadi lega…). Tetapi, sehari sebelum terbang, masih sempat ke dokter cari 2nd opinion untuk memperkuat diri hehe, dan hasilnya sungguh diluar dugaan, karena waktu periksa ibu dan baby dalam kondisi sehat, tetapi si dokter malah bilang “secara usia kandungan masih aman untuk terbang, tapi hati-hati dengan air pressure karena bisa mengakibatkan sudden death pada bayi” wuih…setelah dengar itu, aku langsung stress berat, lha gmn tidak setelah euforia dengar lampu ijo dari dokter pertama yang bilang sangat aman, eh ini dapat hal  yang mencengangkan. Jadi suami komen, tidak semua 2nd opinion itu bagus (lha ini malah bikin stress)…

Ternyata pulang dari dokter sudah jam 22.00 lebih, harus istirahat buat persiapan besok….

etix

Considering going overseas in the next couple of days/months?? you must first will think about the flight ticket. Since there are many flights available, you must choose the cheaper but offers great services. If so, don’t be afraid to get them online. According to my experience (hmmm, in fact this is my first flight booking, but I learned  a lot from it) buying ticket online vs travel agent both of them have advantages and disadvantages. Firstly, I went to booking dot com to see the ticket price range (i only know booking dot com) then I went to some travel agents in surabaya (actually I called them and ask for the flight ticket price), the result, the price is more expensive around $50-80. That is the first drawback, second, they only offer limited route choises, for instance when I choose flight Jakarta-Gothenburg with stop over in Singapore, Copenhagen, and Frankfurt, the travel agent didn’t provides those routes. They only offers some 3 or 4 different route choices, if you book online you may have more than 10 route choices from jakarta-gothenburg.

However, when you decide to buy online, you should ensure that you have sufficient credit card, because online booking usually receive credit card payment. The problem occurs when the price is exceeding the credit card limits, you should call the cc to increase the cc limit. Even now, some online vendors provide flexibility payment method to increase buyer. The common online payment methods are using credit card (off course), paypal, and bank transfer. Paypal is now very popular among people who conduct online transaction, and I think that paypal brings many benefit and ease of use on online payment.

Yes, finally I choose the online booking through the official flight company (lufthansa) and yet that was cheaper (jakarta-gothenburg return only $1200 something, and travel agent offers me $1600 or even $2000 for the same flight), easier, and time saving, moreover it was much cheaper than the travel agent has.

The marriage

Yes, two weeks ago we (me and DIP colleagues) received a maroon invitation, it was no surprising that one of our colleague will get married soon, since we knew the rumor about that before the invitation arrived. Preparation was made during that time, for instance the transportation and dresses (lol). Everyone was excited including me because I planned to take my only daughter with us to Kediri, however, one day before departure I decided not to take her along.

Fyi, that was the 2nd marriage for our friend (Pak Imam) congrats sir…I think after a long and winding road, finally he found someone that can fill the empty of his heart, especially to be a good mother to his daughter and son. We are very happy to hear the news just like the couple did. So, when we went to Kediri last sunday, it full of joy and good feeling. The party was amazing even though we went through the sugar cane field in the rural area (I can’t imagine if we went there [again] at night). Everything was going well, and everyone was very happy not mentioning about hot weather and sweat were everywhere…wash up our make up though.

Back to my marriage, well I can’t say that it was celebrated in very huge party, but a very simple and humble silent ceremony (because marriage not always goes with big party), and I was surprising that this year 2010, our marriage went to the 5th year. congrats to us 🙂

ps: too bad, we forgot to grab some pic with our beautifully dresses…