Category Archives: Uncategorized

Menjadi mahasiswa baru

Setelah lebih dari sepuluh tahun menunggu, akhirnya kabar gembira ini tiba. Ya Allah, ternyata engkau punya jalan cerita sendiri bagi ku. Tahun 2019 adalah break through setelah kuliah terakhir tahun 2008, sekarang, 11 tahun kemudian aku memasuki bangku kuliah lagi. Memang selama ini aku hanya berjuang di 2 tahun terakhir, mulai menyiapkan proposal dan berbagai lamaran beasiswa, dari tahun 2017 hingga 2019 ada beberapa beasiswa yang pernah aku ikuti, AAS tahun 2016 dan 2018 hasilnya gagal, LPDP tahun 2018 dan gagal, Budi LN tahun 2019 dan gagal. Wah rasanya gagal berkali-kali itu sesuatu, rasanya aku sudah nggak layak untuk lanjut kuliah ini. Sedih banget rasanya, tapi tetap aku tidak patah semangat.

Akhirnya tahun 2019, ada kabar gembira dari kampus tempat aku bekerja dan mengabdi, bahwa ada program beasiswa / bantuan kuliah S3 keluar negeri. Unbelievable, dan ternyata aku adalah penerima beasiswa tahap kedua, tahap pertama tahun 2018. Alhamdullilah, ternyata kerja keras dan doa terkabul. September 2019, berangkatlah aku ke University of Malaya, Kuala Lumpur untuk melanjutkan studi Library and Information Science under Faculty of Computer and IT. Aku mengambil PhD program (reserach based), tetapi tetap ada syarat perkuliahan yang harus diambil yakni advanced reserach method dan bahasa melayu. Menjadi mahasiswa baru bukan masalah mudah, apalagi di usia yang sudah kepala 4, memiliki anak usia TK dan SD di rumah, dan suami. Sungguh dilematis bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk meraih ilmu di negeri tetangga dengan meninggalkan pekerjaan dan keluarga. But, my husband is always support, he always said that I can do this. Now, I’m here, writing this blog from a room in Shah Alam.

I also have a great colleague who come earlier in KL, she support me and comfort me, so I feel like home and dont feel a homesick. Jadi tantangan terberat adalah mengalahkan diri sendiri, bagaimana mendorong diri sendiri untuk semnagat, tidak mellow, dan tetap berupaya ditengah kesulitan dan kebingungan sebagai seorang mahasiswa baru. Aku berharap akan dapat selesai (lulus) pada bulan Juli tahun 2022. So I can go back home and to see my family…yeeey….

Blood Transfusion

Tranfusi darah adalah aktivitas yang akan saya tulis paling akhir jika terkait medical procedure. Tetapi dua bulan lalu, tepatnya 28 Agustus 2019, ketika saya di vonis HB tinggal 5, badan lemas tidak berdata, jalan 50 meter berasa naik gunung berat dan nafas ngos-ngosan, akhirnya saya pasrah untuk dilakukan blood transfusion. Okay, kembali ke empat bulan sebelum blood transfusion, apa yang terjadi? berawal dari bulan puasa minggu kedua, saya mulai haid/menstruasi, seminggu pertama saya anggap normal jika haid belum berhenti, memasuki minggu kedua mulailah saya bertanya-tanya, ada apa ini kenapa masih haid juga, googling tapi belum terarah sehingga saya tidak berasumsi. H-1 lebaran, saya nekad ke UGD RSUD Sidoarjo feels like home hospital hahahha karena klinik banyak yang tutup. Saya diminta ke lantai 2, dan disana diperiksa oleh dokter jaga sepertinya PPDS obgyn, dan di USG seems no problem, kemudian saya diberi vitamin dan tambah darah.

Seminggu setelah lebaran, saya kembali ke dokter SpOG untuk periksa lebih lanjut, alhmadullilah sudah pada buka. Setelah diperiksa diketahui ada miom, sekitar 2.5 cm, itu yang menyebabkan pendarahan, akhirnya saya diberi 4 macam obat (hormonal tapi lupa judulnya, ingetnya mahal saja hahaha). Dokter juga menyarankan untuk makan yang sehat dan olahraga. Setelah dari dokter kemudian haid berhenti, namun tidak lama, paling 2 minggu, kemudian tibalah masa haid, dan seperti biasa lebih dari seminggu, sekitar 2-3 minggu. demikian hingga lama kelamaan saya sering merasa cepat capek, terutama ketika jalan kaki, sering ngantuk,  teman-teman jug abilang saya sangat pucat, dan akhir agustus saya cek ke psukesmas dan test darah ternyata HP tinggal 5 (omg, padahal nomalnya minimal 11 untuk wanita dewasa). Kemudian saya dirujuk ke RSUD ke obgyn, untuk tindakan lebih lanjut. Hari itu sabtu, dan pas ketika tiba di rumah sakit praktek obgyn masih buka, saya langsung konsultasi dan dokter bilang untuk tranfusi hari itu juga, Akhirnya saya pesan kamar dari kelas I saya naik kelas VIP (biasanya anak-anak ikut kemping di rumah sakit).

Dokter memberikan 3 pax darah, yang diinjek selama 2 hari (transfusi darah dilakukan bertahap dan terdapat interval waktu dari kantong pertama ke kedua, dst). Setelah di cek, HB baru naik jadi 9, kemudian ditambah lagi 2 pax, dan tentu saja saya extend sehari di rumah sakit. Ngeri, itu yang saya rasakan ketika melihat darah dari kantong pindah ke tangan saya, but is there any other choice? Anak pertama dan kedua saya juga pernah mendapat tranfusi darah karena HB rendah. Rasanya ketika darah masuk ke tangan, agak ngilu yah, terutama jika jarum infus sudah 3 hari berada di tangan yang sama. I dont like that feeling, jadi ngat para vampire yang butuh darah dengan meminum haha. Alhamdullilah, HB akhirnya naik menjadi 11, dan ketika cek untuk persiapan operasi laparaskopi HB tetap stabil 11, im so happy.

Setelah tranfusi, badan sudah setrong and kuat jalan keliling rumah sakit tanpa ngos-ngosan. Dan ketika di USG, miom masih ada, malah bertambah menjadi beberapa, jadi tranfusi bukan jalan keluar untuk masalah endometrium, karena akar masalah masih ada, dokter sempat menyarankan angkat rahim tapi pada saat itu saya masih menolak, jika angkat miom saja dikhawatirkan akan muncul kembali dikemudian hari. Akhirnya saya putuskan untuk mencari beberapa opini terkait masalah ini. dan hasilnya bisa dilihat di posting saya terkait operasi laparaskopy histerectomy.

Laparaskopi Endometrium, is that scary as we think??

Tidak pernah terpikir olehku bahwa di usia 41 tahun kurang 4 hari aku mendapat hadiah spesial, yakni terbaring dimeja operasi (untuk kesekian kali). Jika sebelumnya adalah tindakan operasi yang dinanti-nanti (sesar/cesar), tapi yang ini sungguh berbeda. Keputusan untuk melakukan laparaskopi memang sangat singkat, hanya butuh waktu 3 hari untuk menentukan hari dan jam operasi. Mengapa demikian? cerita dibalik keputusan operasi itulah yang cukup panjang dan melelahkan. Hari rabu, 30 Oktober 2019, aku dapat semester break kuliah, dan langsung pulang ke Surabaya, niatnya sampe rumah langsung periksa dokter SpOg, tetapai apadaya, badan rasanya capek setelah perjalanan jauh (KL-SUB hanya 2.45 menit) tapi persiapan sebelum ke bandara hingga kerumah butuh waktu lebih panjang dari perjalanan udara. Baiklah aku memutuskan untuk pergi ke dokter keesokan malamnya. Selama ini aku masih mengkonsumsi sunolut untuk menghambat haid, obat ini diresepin SpOg ketika di sunway medical center, Kuala Lumpur (cerita soal sunway terpisah).

Datang ke SpOg juga butuh perjuangan (mungkin makin banyak yah jumlah wanita hamil), harus antri panjang. Ok, tibalah giliranku dipanggil masuk ke ruang periksa, seperti ruang periksa kebanyakan SpOG, disana ada meja konsultasi, kasur untuk periksa dan alat ultrasound (USG) plus monitor. Sebelum diperiksa, dokter menanyakan masalah yang aku alami (fyi, ini adalah dokter pertama aku dan membantu persalinan anak pertama dan konsul hamil anak kedua). Gini dok, terakhir kali saya periksa waktu itu didiagnosa terdapat penebalan endometrium sekitar 1.6 cm, dan keesokan harinya saya harus terbang ke Kuala Lumpur untuk study, seminggu kemudian saya menstruasi dan minggu kedua menstruasi saya periksa ke SpOG di Kuala Lumpur, disana saya juga di USG dan hasil menunjukkan ada penebalan kurang lebih sama dengan waktu diperiksa di Indoensia. Akhirnya dokter di Sunway menyarankan pada saya untuk melakukan tindakan biopsy (kuret) sepulang saya di Indonesia, dan untuk menghentikan pendarahan dokter memberi saya sunolut untuk 2 minggu. Selanjutnya, dokter kemudian meminta aku untuk ke meja periksa dan melakukan USG di vagina (bukan di perut lagi) dan ternyata penebalan tidak berkurang malah bertambah menjadi 2.8 cm.

Ada opsi dari dokter untuk melakukan terapi hormon melalui injeksi yang dilakukan selama dua bulan sekali, injeksi dilakukan sebulan seklai untuk menipiskan endometrium tadi, selanjutnya akan dilakukan biopsy untuk melihat apakah penebalan tersebut mengandung sel berbahaya (ganas). Mendengar itu rasanya bikin dag dig dug, oya, selain ada penebalan dinding rahim aku juga memiliki miom (ukurannya lupa, karena fokus pada penebalan tersebut). Akupun bertanya, apa yang terjadi jika diketahui ada keganasan? dokter bilang angkat rahim. Pikiranku langsung menyambung angkat rahim berarti tidak bisa mens, berarti menopuse, jika menopuse berarti sudah tidak memiliki gairah seksual lagi (hihihi kok masih inget saja untuk urusan itu yah hahah). Dokter kemudian menjelaskan panjang lebar, bahwa yang diangkat hanya rahim, tetapi indung telur tetap ada. Kemudian, dokter bagaimana jika saya langsung operasi? (mengingat kesibukan kuliah di awal semester yang takutnya mengganggu proses terapi, saya juga sudah tidak bisa punya anak lagi karena setelah anak ketiga langsung di steril), setelah diskusi panjang lebar, akhirnya disepakati saya akan operasi, dan dokter memberi cek list medical cek up yang harus saya jalani keesokan harinya.

Malam hari aku puasa, sejak pukul 12 malam, paling hanya minum yah. Jam 9 pagi aku menuju parahita lab untuk cek darah lengkap, urine, thorax, dan eng ing eng HIV test. HIV test bikin saya nervous sampai tidak bisa tidur, kenapa? karena 2 bulan sebelumnya saya sempat transfusi darah sebanyak 5 pax. Meskipun ditulis bahwa darah dari donor sudah di screening dengan ketat, tetapi rasa deg-degan tetap ada. Malam hari hasil test jadi, dan alhamdullilah semua dalam kondisi ok, termasuk yang saya takutkan juga negatif. Besok malam, kontrol lagi ke dokter, dan dokter bilang semua normal, jadi bisa lanjut ke tindakan operasi. Kapan rencana operasi? haha saat itu rasanya speechless, I said as soon as posible karena tanggal 12 November saya harus kembali ke KL, dan saya ingin operasi yang cepat recoverynya sehingga saya bisa langsung beraktivitas. Akhirnya dipilih hari senin tanggal 4 November, dan tanggal 3 sore saya harus sudah masuk rumah sakit. I did medical procedure in RSUD Sidoarjo, my fave feel like home hospital (lebay)….dan tanggal 4 itu saya harus jemput pembicara konferensi di bandara juanda, ikut sebagai host gala dinner pra konference malam harinya, dan tanggal 5 jadi moderator plenary session dan invited speaker di international conference, tanggal 6 menjadi PIC workshop smartPLS. Semua saya cancel mendadak karena operasi ini, dan mohon maaf yah teman-teman.

Senin pagi, habis subuh aku sudah mandi, keramas, bab, dan tetap masih puasa. Jadi setiap mau operasi inginnya menyiapkan diri semaksimal mungkin, karena itu akan mempengaruhi after match haha. Pukul 9 pagi, tidak disangka my best fellow come to visit yey…so happy mereka menyempatkan diri untuk menengokku disela-sela kesibukan departemen yang super crowded. Pukul 9.30 perawat sudah datang untuk membawa aku ke ruang operasi, diikuti oleh suami dan dua kolega tersayang. Kita berpisah di pintu ruang operasi. Selama di ruang tunggu, aku sudah tiduran, sekitar pukul 10 dokter SpOG datang to talk n make a confirmation about the procedure, I agree. Selanjutnya aku dibawa masuk ke ruang operasi, tidak asing dengan ruangan operasi (sudah 3 kali operasi sesar di rumah sakit yang sama), dingin, bersih, banyak alat-alat, dan ada beberapa perawat yang selalu ngajak bercanda (biar aku nggak nervous). Kemudian, dokter anestesi datang dan talk for a while, tapi aku sudah baca dan mendapat konfirmasi mengenai jenis bius yang akan aku dapatkan, yes bius umum or bius total.

Okay, aku sempat tanya pukul berapa sebelum disuktik bius melalui selang infus, kayaknya sekitar pukul 10 pagi, setelah disuntik, saya sempat bertanya kapan saya mulai tidak sadar? saya masih dengar jawaban 3 menit, tapi kenyataannya, itu adalah kata-kata terakhir yang saya dengan di ruang operasi hahahhaha….oya sebelum dibius perawat bilang saya akan dipasang kateter, alat bantu nafas, dan selang yang dimasukkan melalui hidung ke lambung, tapi semua alat tersebut dipasang setelah saya tidak sadar (alhamdullilah jadi tidak merasa ngilu).

Dingin, itu yang aku rasakan ketika pertama kali membuka mata di ruang pemulihan, langsung mataku berputar keseluruh ruangan, mencari jam, karena penasaran, sudah berapa lama aku tertidur. Ternyata jam menunjukkan pukul 15an, masih belum 15.30, but not so sure 15 lebih berapa. sambil merintih memanggil mbak perawat to warn them that I wake up, I said i feel cold (padahal sudah ada 3 selimut haha) kemudian saya dikasih lampu penghangat (so warm), but penderitaan belum dimulai sepenuhnya, punggung dan kaki terasa capek, saya pengen miring tapi perut masih agak ngilu. Sepertinya capek tersebt karena aku ada diposisi telentang dalam waktu yang lama. Ketika aku raba perut, oh terdapat 4 buah plaster kecil-kecil, berarti ada 4 lobang yang telah dibuat. Aku tidak merasa pusing, mual dan yang lain-lain alhamdullilah, berarti persiapan pra operasi sudah ok (puasa), padahal sebelum masuk rumah sakit sempat makan richeese level 5, yang akhirnya ga bisa habis karena super spicy.

Satu jam kemudian, aku dipindahkan ke ruang rawat inap, aku bisa pindah sendiri dari bed satu ke lainnya (ini yang nggak bisa aku lakukan ketika operasi sesar), kemudian perawat membawa ke ruang rawat inap sambil tetap merasa ngantuk. Di ruangan ternyata tidak ada orang, anak-anak sedang dikirim pulang, mama juga istirahat pulang ke rumah, dan pas saya bisa lanjut tidur sore itu hingga waktu magrib. Tenggorokan agak kering, seperti ada dahak tapi tidak bisa keluar, but its not disturb me a lot, yang mengganggu adalah kateter hahaha, memang aku masih belum boleh turun dari bed, jadi yah still lying down dan menunggu benar-benar pulih. Habis magrib semua pada datang, anak-anak, mama, suami, adik-adek, ponakan, ramenya, karena laparaskopi hanya meinggalkan luka kecil, jadi aku tidak merasa sakit sama sekali, so nice, jadi tetap bisa bercanda dan tetap bisa ganti-ganti posisi.

Saya diijinkan pulang dua hari kemudian karena ada obat yang harus disuntikkan mellaui infus seperti antibiotik dan pereda nyeri. Kateter dilepas sehari setelah operasi, it was nice. Setelah pulang, kontrol lagi seminggu kemudian. 4 hari setelah operasi saya harus pergi keluar kota, Garut tepatnya dengan kerata api PP, memang acara ini sudah kita agendakan jauh hari, disana kita melakukan kunjungan kekeluargaan ke rumah suami adek bungsu kita, alhamdullilah selama perjalanan lancar termasuk luka operasi saya, dan tidak ada rasa sakit yang kentara, yang aku hindari selama seminggu adalah mengangkat beban berat, yang lainnya normal saja, jalan, duduk, jongkok, mandi, makan semoa normal. 8 hari setelah operasi saya kembali ke KL, meski capek selama perjalanan tetapi it is okay, saya tidur selama 2 hari setelah sampai KL karena rasanya lelah sekali.

Jadi laparaskopi yang saya lakukan selain mengambil miom juga mengangkat rahim yang mengalami penebalan, hasil lab menyatakan berat total produk yang diambil seberat 350 gram, miomnya sih kecil juga. Dan hasil lab alhamdullilah dinyatakan tidak mengandung keganasan. Ini pertama kali saya melakukan laparaskopi, dan saya merasa it was awsome, baik dokter, perawat, dan teknologi, tentu yang tidak kalah penting kemudahan ini bisa terjadi atas kehendak Allah. Terima kasih juga untuk suami yang selalu menunggu ketika aku dirumah sakit, taking care trio ketika uti dan yangti belum datang, dan selalu kena cerewetku tiap sakit. Uti dan yangti yang selalu perhatian, sodara dan teman yang selalu mensupport. Terima kasih juga untuk doa-doanya.

Setelah laparaskopi, saya tidak mengalami pendarahan lagi, padahal sebelumnya selalu pendarahan dan saya sempat tranfusi darah karena HB rendah menyentuh 5. Jadi laparaskopi is not that scary, sementara ini solve my endometrium problem, im so happy with the result. Oya, saya laparaskopi dengan asuransi BPJS, meskipun ada penambahan biaya karena naik kelas, but still BPJS is awsome too. Thank you.

Berikut adalah penampakan video laparoscopic hysterectomy, tapi ini sudah menggunakan robot yah, setidaknya begitulah gambarannya. Banyak video sih, tapi saya suka yang ini, so enhance, oya, saya juga dapat flasdisk proses laparaskopy juga, tetapi untuk sementara belum bisa di share.

 

 

 

Shocking Nite

Hari rabu malam, waktunya kontrol kehamilan. Yes, ini minggu ke 35/36, masih pede kalo kehamilan baik-baik saja. Sudah mulai cuti (meski belum resmi) karena memang kampus sedang minggu tenang, jadi sejak hari kamis minggu lalu sudah stay at home. Hari ini (rabu) seharian main sama kevin, siang ke bank urus e-banking, sampe sore. Setelah dari bank, agak pusing dikit (sangat nggak kerasa, tapi ada) mungkin lapar, tapi tetep lanjut ke rumah nyokap yang 15 menit jauhnya. Nyampe sana makan, dan ngobrol2 sampe habis magrib, trus balik pulang.

Dapat no antrian dokter no 12, jika dokter baru dateng jam 8 malam, maka no 12 akan tiba sekitar jam 9.30-10.00 malam. Datang jam 10, nunggu 3 antrian, masuklah ke ruangan dokter, tapi sebelum itu aku ditimbang (wah sudah naik 16 kg hehe) trus yang bikin kaget tensi darah naik 150/90, wah ini tanda-tanda ga baik. Akhirnya namaku dpanggil buat masuk ke ruangan, dan dokter langsung tanya soal keluhan (sapaan standar si dokter hehe), dan kubilang i’m fine kecuali tensi yang naik, yang bulan-bulan biasanya 120/80 kok ini tiba-tiba menaik, ada apakah?.

AKhirnya aku di USG, untuk berat badan ok sudah 2.5 kg, kepala, badan, jantung, etc smua ok, cuma sayang air ketuban banyak berkurang, dan tadi ditunjukin ada beberapa titik yang air ketubannya sangat sedikit tapi masih ada. Ok what next, ada beberapa opsi soal kondisiku saat itu, pertama dokter menyimpulkan sementara bahwa aku kena pre-eclamsi ringan (kaki agak bengkak), trus aku juga diminta untuk tes darah dan urin di lab besoknya. Dari hasil itu makan akan diambil tindakan, misalnya, aku harus masuk hospital selama kurang lebih 2 hari untuk di treatmen (bukan aku, tapi bayi yang di treatmen atau dimatangkan), setelah itu jika aku getting better (tensi normal) maka baby akan dilahirkan pada week 38, tapi kalo getting worse, yah terpaksa bayi akan dilahirkan prematur.

Prematur, aku jadi ingat anak pertama (kevin), lahir di minggu 36 karena aku terkena gejala pre-eklamsi yang sudah cukup berat, jadi hari itu juga kevin harus dilahirkan secara sesar. Yah, kita berharap yang terbaik, berdoa agar ibu n baby sehat, berpikir positif (meski susah), dan nunggu hasil besok.

The consal experience 3

Hari kamis, hari ketiga di bali dan konferensi, hari jalan-jalan, karena memang agenda konferensi hari ini adalah kunjungan ke perpustakaan dan tempat wisata, kalo nggak salah ada 6 pilihan lokasi kunjungan. Pagi itu jam 8, semua peserta berkumpul di lobi hotel menunggu bis yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing sesuai pilihan. Kunjungan dalam acara konferensi adalah hal biasa, karena memang kita pergi ke tempat baru tidak hanya ingin menghadiri konferensi saja, tetapi juga yah mengunjungi tempat-tempat menarik sesuai dnegan tema konferensi saat itu. Karena saya tidak mungkin ikut perjalanan (karena hamil tua), jadi diputuskan untuk tidak ikut tour tersebut, dan stay di hotel sambil menunggu waktu cek out.

Waktu cek out jam 12, masih lama donk, jadilah kita pergi naik taksi ke toko oleh-oleh 24 jam, khrisna, yah beli beberapa baju buat keke, dan tas buat temen2, sama kacang-kacangan, tau tuh oleh-oleh dibali kok isinya dari kacang ke kacang hehe…ga sempet jelajah toko sepanjang kartika plaza, yang temen-temen peserta bilang lagi banyak sale…tapi rasa capek dan takut capek membuat aku selama 3 hari itu stay di hotel (niatnya mang bukan jalan2 kok), bahkan ke pantai pun tidak.

Untuk acara-acara seperti ini, kurasa sangat bagus, bisa menambah wawasan dan teman baru, ditambah para peserta semua pada semangat dan antusias untuk mengikuti acara dari awal sampai akhir. Aku membayangkan bahwa acara presentasi paper akan mengurangi minat peserta, ternyata tidal, dari pagi jam 8 pagi sampai jam 4 sore, ada 5 ruang presentasi, dan semua rata-rata penuh oleh audience. Bahkan yang tidak (kurang) berbahasa inggrispun menyempatkan meminjam alat penterjemah sehingga mereka tetap mengikuti jalannya konferensi dnegan baik.

tentang my paper, akan diposting tersendiri…

Naik Pesawat Ketika Hamil?

Tidak pernah kepikir olehku, bakalan naik pesawat di saat hamil. Makanya cuek ajah ketika hamil (karena toh nggak bakal kemana-mana, apalagi naik peswat), jadinya yah nggak pernah cari-cari info soal itu, baik dari pihak doker maupun maskapai penerbangan. Ternyata tahun ini, dikehamilanku yang ke-tiga, aku diberi kesempatan merasakan terbang ketika hamil, dan nggak tanggung-tanggung, di week 32/33 pula. Nervous? pastinya, karena pas nggak hamil saja aku paling paranoid naik pesawat (selain sempit, terbang pula), makanya tiap naik pesawat aku selalu milih-milih, kalo nggak pake maskapai ‘A’ nggak mau jalan hehe…meskipun paraniod ini sering bikin repot kantong dan teman (kalo sama teman, kepaksa dia harus ikut naik pesawat tertentu tersebut hehe)…

Okay, back to hamil dan penerbangan. Sebetulnya apa sih yang ditakutkan oleh orang hamil ketika terbang? kata banyak orang sih karena tekanan udara yang kuat bisa membahayakan kehamilan, misalnya terjadi abortus pada usia kehamilan muda, atau lahir prematur pada usia kehamilan tua. Bahkan ketika aku konsultasi ke 2 SpoG, mereka punya pandangan yang jauh berbeda tentang hamil dan penerbangan, SpOg yang laki-laki cenderung membawa enjoy dan mengatakan bahwa terbang ketika hamil is very very save as long as the mother and baby are healthy. So no problem at all, dan paling maksimal sampe wekk 34 masih ok-lah. Sedangkan dokter SpOg ku yang satu lagi, kebetulan perempuan, sangat hati-hati dalam menanggapi terbang dan kehamilan, dan resiko-resiko selama terbang dijabarkan dengan sangat ‘menakutkan’ (menurutku) dan itu membuat kita down. Meskipun dia bilang it’s ok, terbang di usia 32 week, tapi…ada resiko bayi mengalami sudden death (wuih serem yah), karena air pressure.

Akibatnya, dari kedua pengalaman tersebut, saya cenderung memedang pendapat yang pertama, selain karena melegakan, dan membuat kita semangat, secara fisik dan psikologis, pikiran positif maka mempengaruhi kondisi tubuh juga. Tapi nggak semudah itu lho setelah mendengar dua aption tentang bahaya terbang selama hamil, setelah si dokter bilang resiko-resiko yang ada aku jadi kepikiran, sedikit stress, nggak bisa tidur, dikit-dikit megang perut merasakan gerakan bayi, efeknya aku jadi pusing, malas, dan nervous tingkat tinggi. Minta pendapat ke teman-teman, dan ternyata mereka memberikan tanggapan yang positif, suami juga mendukung n bilang no worries, as long as aku merasa nyaman n yakin it’s ok, yah it’s ok. Dan temen juga mendukung, berfikir positif saja, karena yang bawa bayi kan aku, kalo aku negrasa gpp dan kuat, dan baik-baik ajah, maka baby jug angerasa gitu. Kalo kita stress bisa-bisa kebawa ke baby (bener juga).

Saat terbangpun tiba, cek in lebih awal karena hamil tua semua harus serba slow motion dan denger-denger kalo hamil harus lapor dulu sebelum terbang. jadi di konter cek in, tertulis standing banner yang menyatakan bahwa ‘wanita hamil harus lapor ke kantor dahulu sebelum terbang’ kwkwkw…oyah ketika cek in, aku jug abilang k epetugas kalo sedang hamil dan tolong dipilihin kursi yang enak hehe, alias ngga deket dengan emergency exit, dan kalo bisa depan-depan ajah kursinya. Setelah selesai cek in, aku pergi ke kantor maskapainya untuk mengisi beberapa form pernyataan tentang kehamilan, disana juga ditanyain tentang surat pengantar dari dokter yang menyatakan kalo kita dalam kondisi sehat dan usia kehamilan kita. Form yang diisi semacam surat pernyataan bahwa kita terbang dan resiko yang terjadi selama penerbangan diluar tanggung jawab maskapi, bla..bla..dan disertai ttd di atas materai.

Ketika terbang, pake sabuk pengaman harus hati-hati, jgn sampe mencekik perut, agak longgar sedikit. Selama penerbangan yang biasanya aku lepas sabuk pengaman, ini nggak berani karena takut tiba-tiba terjadi turbulence hehe…dan selama perjalanan mulai dari take off dan landing, semua smooth (alhamdullilah) dan perjalanan yang hanya 40 minit jadi nggak berasa, dan baby alhamdulliah sehat sampai tujuan. Prosedur yang sama juga dijalanin ketika balik dari denpasar ke surabaya. jadi, intinya terbang ketika hamil insya allah its ok selama ibu dan bayi sehat, serta buang jauh-jauh pikiran negatif.

the consal experience 2

Selasa, waktunya berangkat ke bali, berat rasanya ninggalin kevin dirumah ditambah stress gara-gara habis dari dokter malam sebelumnya. Tapi the show must go on kan, karena smua sdh di booking, hotel, tiket. Ternyata dari bandara juanda, pesawat on time, dan 40 minit later sudah mendarat di kuta. Honestly, ini perjalanan naik pesawat pertama ke bali (dan i’m kind of shock, karena di bayanganku bandara internasional denapasar itu megah dan bersih, tetapi ini kebalikannya, atau mungkin karena sedang direnovasi yah)

Setelah beli kupon taksi seharga 50 ribu, jalanlah kita ke discovery kartka plaza (the venue), sama seperti bandaranya, jlaan kartika plaza yang terkenal ramai itupun ternyata jalan 2 arah yang hanya bisa dilewatin 2 mobil dan snagat crowded. sampai di hotel langsung menuju ke pendafataran peserta, dan in my opinion, panitia telah mempersaipkan segala sesuatunya dengan baik dan sistematis, nggak kalah sama registrasi-nya IFLA, cuma ketika mencari namaku agak lama dapetinnya, karena mungkin tidak mengenal surname and first name yah…

Badge, jadwal, buku panduan, sampai map sudah didapat, then, yah ikutin acara konferensi-nya, yang puncaknya akan dilaksanakan hari rabu-nya (jadwal presentasi paper hari rabu). Acara berjalan dengan lancar, malam hari ada acara welcome dinner di helipad tepi pantai discovery, cukup mewah susunan table-nya, acara juga meriah (lagu, dance) menu juga bervariasi, dan yang paling penting adalah networking. Disana ketemu banyak teman (lama), para dosen-dosen ku dulu di unpad pada hadir di acara tersebut, teman seangkatan waktu kuliah juga ada, teman2 baru juga banyak, so malam itu, malam yang aku bayangkan bakal boring ternyata menyenangkan.

acara ditutup jam 9 pm, wow, hari yang melelahkan, back to hotel n sleep tight. Cu tomorrow….